• News

  • Singkap Sejarah

Sunda Empire Berhubungan dengan Musnahnya Kota Bogor?

Ilustrasi perkumpulan Sunda Empire
Facebook/ Queen Renny
Ilustrasi perkumpulan Sunda Empire

BOGOR, NETRALNEWS.COM - Publik baru-baru ini dihebohkan dengan kemunculan "Sunda Empire" atau Kekaisaran Sunda. Oleh para pengikutnya, kekaisaran disebut-sebut mencita-citakan bangkitnya Kerajaan Sunda seperti pada era Kerajaan Tarumanegara.

Perkumpulan ini mengklaim sebagai kekaisaran yang mampu menguasai seluruh bumi. Gerakan ini mendadak viral setelah salah satu pengikutnya, Renny Khairani Miller, mengunggah keberadaannya di Facebook.

Uniknya, dalam pernyataan petinggi Sunda Empire, Rangga Sasana, banyak hal-hal yang tidak masuk akal seperti Pentagon di Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa berasal dari Bandung.

Rangga juga memberikan pernyataan kontroversial bahwa Sunda Empire mampu menyelamatkan bumi dan bisa menghentikan perang nuklir. Dia juga menyatakan Jack Ma dan Bill Gates akan bergabung dengan Sunda Empire.

Baru-baru ini, petinggi kekaisaran ini juga mengeluarkan pernyataan menggelitik. Konon, semua negara di dunia harus melakukan daftar ulang kembali keanggotaannya di bawah Sunda Empire.

Registrasi ulang selambatnya tanggal 20 Agustus 2020. Bila tidak dilakukan, negara tersebut akan mengalami kesialan. Bahkan daftar ulang juga diberlakukan bagi Indonesia.

Terlepas dari heboh dan kontroversi munculnya Sunda Empire, pertanyaan liar bolehlah kita ajukan.

Jika kita menengok catatan sejarah tentang Kota Bogor, disebut-sebut bahwa kota ini pernah "hilang" dari sejarah. Mungkinkah musnahnya kota Bogor adalah hilangnya Sunda Empire dan kini saatnya untuk bangkit kembali?

Bogor sebagai pusat Pajajaran

Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat sering disebut juga sebagai Kota Hujan karena memang memiliki curah hujan yang tinggi.  Ditilik dari asal-usulnya, kota ini diyakini sudah ada sejak masa Kerajaan Hindu Tarumanegara, abad ke-5.

Kerajaan Tarumanegara kemudian runtuh dan berdirilah Kerajaan berikutnya yakni Kerajaan Pajajaran. Sekitar abad ke-15, Kota Bogor tetap menjadi pusat kota Kerajaan Pajajaran dengan julukan Pakuan atau Pajajaran.

Dalam salah satu prasasti disebutkan bahwa pada 3 Juni 1482, Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Haji I Pakuan Pajajaran) dinobatkan. Hari penobatan tersebut, oleh DPRD Kabupaten dan Kota Bogor tahun 1973, kemudian dipakai sebagai hari jadi kota Bogor dan rutin diperingati hingga kini.

Kala itu, wilayah kekuasaan Pajajaran diperkirakan meliputi Jawa Barat, Jakarta (sekarang), Banten, hingga wilayah Lampung.

Namun, tahukah Anda bahwa pada era selanjutnya, kota ini pernah hilang dari catatan sejarah? Apa sebabnya?

Catatan sejarah Pakuan pernah hilang

Kota Pakuan mendapat serbuan dari pasukan Kesultanan Banten. Serangan terjadi secara bergelombang dan diperkirakan berlangsung sebelum abad ke-17. Akibat serangan tersebut, dua orang sejarawan Belanda menyebutkan bahwa catatan mengenai Kota Pakuan hilang.

“Di zaman kolonial Belanda, setelah penyerbuan tentara Banten, catatan mengenai Kota Pakuan hilang, dan baru ditemukan kembali oleh ekspedisi Belanda yang dipimpin Scipio dan Riebeck pada 1687,” tulis Zaenuddin HM dalam Asal-Usul Kota-Kota di Indonesia Tempo Doeloe (2013: 117).

Kedua tokoh Belanda itu pernah meneliti Prasasti Batutulis dan beberapa situs lain. Kesimpulannya bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Pajajaran memang terletak di Kota Bogor.

Kota ini kemudian semakin ramai karena pada 1745, Gubernur Jenderal Gustaf Willem Baron van Imhoff membangun Istana Bogor.  Istana itu digunakan sebagai tempat peristirahatan.

Dengan pembangunan tersebut, di sekitar istana dan sepanjang jalan Batavia (Jakarta) menuju Buitenzorg (Bogor) semakin ramai dengan pemukiman baru dan pembukaan lahan pertanian.

Kala itu, van Imhoff menggabungkan sembilan distrik (Cisarua, Pondok Gede, Ciawi, Ciomas, Cijeruk, Sindang Barang, Balubur, Dramaga, dan Kampung  Baru) ke dalam satu pemerintahan dengan nama Regentschap Kampung Baru Buitenzorg.

Serangan Kesultanan Banten

Berdasarkan naskah babad dengan nama Guru Gantangan dan pantun Mundinglaya Dikusuma, Kerajaan Pajajaran pernah diperintah oleh Raja yang bernama Dewata Buana atau  disebut juga sebagai “Raja Resi” karena dia lebih banyak hidup di pertapaan.

Ratu Dewata berkuasa antara tahun 1535 sampai 1543. Setelah wafat, ia digantikan oleh Ratu Sakti yang terkenal kejam. Di masa pemerintahan Ratu Sakti, konon banyak rakyat dihukum mati dan harta benda milik rakyat sering dirampas tanpa alasan yang jelas.

Selain itu, ia juga lalim karena berani melawan adat dengan mengawini seorang “putri larangan”.  Yang lebih parah, ia disebut juga memperistri ibu tirinya sendiri. Di masa ini, Kerajaan Pajajaran semakin mundur sementara Kesultanan Banten justru semakin besar.

Ratu Sakti kemudian meninggal pada 1551. Ia digantikan Raja Sang Nilakenda atau Sang Lumahing Majaya. Kali ini, Pajajaran diperintah oleh raja yang disebut menyukai hal-hal mistis. Berbagai ritual lengkap dengan mantra-mantra sering mewarnai upacara-upacara keraton.

Fatalnya, saat upacara berlangung,  Sang Nilakenda juga mengonsumsi makanan mewah minuman keras. Upacara berlangung dalam kondisi tidak sadar. Upacara ritual yang mendekati pesta dan maksiat semakin menggerogoti kerajaan.

Selain menimbulkan kemiskinan dan kemerosotan moral, Kerajaan Pajajaran juga menjadi semakin rapuh. Dalam kondisi seperti itulah, Pajajaran diserang oleh Kesultanan Banten.

Sementara di pihak Banten, penyerangan dilakukan karena menganggap keberadaan Kerajaan Pajajaran menimbulkan keonaran di wilayah perbatasan. Konon penyerangan dilakukan atas perintah Maulana Hasanuddin dan terjadi sekitar tahun 1567.

Pakuan dengan mudah dikuasai oleh pasukan Banten. Hanya saja, Sang Nilakenda berhasil lari dan meloloskan diri. Namun demikian, Kerajaan Pajajaran kemudian tak mampu lagi bangkit dari kehancurannya.

Buktinya, setelah Sang Nilakendra mangkat, tahta penggantinya yakni Ragamulya atau Prabu Surya Kencana, tidak lagi berada di Pakuan Pajajaran, tetapi di daerah di Pulosari, Pandeglang.

Peristiwa musnahnya Pakuan disebut-sebut dalam naskah Sunda kuno sebagai Pajajaran sirna ing bhumi ekadaci weshakamasa sahasra limangatus punjul siji ikang sakakala (tanggal 11 suklapaksa bulan Wesaka tahun 1501 Saka).

Dalam penanggalan Masehi dan Hijriah jatuh pada tanggal 8 Mei 1579 atau 11 Rabiul awal 987, hari Jum’at Legi.

Sumber lain mengatakan bahwa serangan pasukan Kesultanan Banten mengakibatkan hilangnya Pakuan berlangsung dalam tiga gelombang besar.

Pertama, berlangsung pada masa pemerintahan Ratu Dewata Buana (1535-1543) yang tercermin dalam teks “Datang na bencana musuh ganal, tambuh sangkane, prangrang di burwan ageung, pejah Tohaan Ratu Sarendet jeung Tohaan Ratu Sangiang.”

Artinya, “Datang serangan pasukan tidak diketahui asal usulnya: perang di alun-alun, gugur Tohaan Ratu Sarendet dan Tohaan Ratu Sangiang.”

Gelombang kedua terjadi pada masa pemerintahan Nilakendra (1551-1567) yang tercermin dalam teks “Alah prengrang mangka tan nitih ring kadat-wan.” Artinya, “Kalah perang, karena itu tidak tinggal di keraton.”

Gelombang terakhir terjadi pada masakekuasaan Raja Ragamulya (1567-1579) yang tercermin dalam teks “tembey datang na prebeda, bwana alit sumurup ing ganal, metu sanghara ti Selam.” Artinya, “mulailah datang perubahan, budi tenggelam datang nafsu, muncul bahaya dari Islam.”

Jadi, dengan menengok beberapa catatan sejarah tersebut, bisa disimpulkan bahwa musnahnya peradaban kota Bogor abad ke-16, jelas tak ada hubungannya dengan Sunda Empire. Bahkan, istilah "Sunda Empire" pun tak pernah muncul dalam sumber sejarah di masa itu.

Editor : Taat Ujianto