• News

  • Sisi Lain

Usai Baca Tulisan Belanda di Mercusuar, Liburan Zahra Berubah Mengerikan

Pulau Sebira di Kepulauan Seribu, Jakarta
foto: klikhotel
Pulau Sebira di Kepulauan Seribu, Jakarta

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - “Kami sekeluarga sudah merencanakan jauh-jauh hari sebenarnya. Waktunya bertepatan dengan liburan sekolah anak saya. Ya, mulanya kami anggap tempatnya menarik untuk menjadi lokasi kamping,” tutur Zahra (38) kepada Netralnews.com beberapa waktu lalu.

Ia adalah ibu dua anak yang pernah berlibur ke Pulau Sabira yang terletak di paling Utara Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Ia memanfaatkan liburan panjang akhir sekolah untuk refreshing, menyegarkan diri dari kepenatan kehidupan Jakarta.

Sayangnya, suasana gembira yang diharapkan ternyata berubah menjadi hari yang menyeramkan. Pengalaman kamping tersebut hingga kini menyisakan pengalaman traumatis.

“Akhir Juni 2014, kejadiannya. Rencananya mau tiga hari dua malam menginap di tenda yang kami dirikan di pulau itu. Tapi, baru satu malam, kami putuskan kembali ke Jakarta. Kami mendapat teror berantai dari sosok-sosok makhluk halus yang menghuni tempat itu,” kenang Zahra.

Ibu yang selalu mengenakan jilbab itu tak menyangka bahwa suami dan kedua anaknya bisa menyaksikan penampakan dan gangguan menyeramkan. Baru hari pertama, mereka sudah didatangi sosok-sosok misterius.

“Usai mendirikan tenda, kami berkeliling di pulau itu. Kami melihat-lihat pantai dan mendekati mercusuar peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh di pulau itu. Saya yang pertama melihat ada dua anak dan dua orang dewasa berambut pirang melintas ke arah mercusuar,” lanjut Zahra.

Ia mengira mereka adalah sesama pengunjung pulau. Hanya saja, Zahra kemudian tidak melihatnya lagi, padahal keempat sosok itu menuju ke lokasi mercusuar yang gerbangnya digembok. Artinya, tak mungkin masuk ke dalamnya.

Mercusuar di Pulau Sabira dinamakan Noord Wachter. Konon sudah berdiri sejak pada tahun 1869. Dahulu difungsikan sebagai menara untuk mengawasi dan mengarahkan kapal-kapal yang hendak berlabuh.

Menara itu termasuk peninggalan bersejarah. Ketinggiannya mencapai sekitar 42 meter. Seingat Zahwa, kondisi kala itu masih kurang terawat dan belum mendapat perhatian khusus dari Pemda. Lapisan cat di sekeliling mercusuar yang berbahan besi itu sudah terkelupas di sana-sini sehingga menyebabkan karat.

Saat sampai pintu masuk, Zahra sempat membaca papan besi bertuliskan Bahasa Belanda bernunyi “Onder De Recering Van Z.M Willem III Koning den Nederlande, ENZ., EnZ., ENZ., Opcerict Voor Draaslicht 1869.” Artinya “Di bawah kekuasaan Raja Z.M Willem III dari Belanda. Didirikan untuk suar lampu pendar 1869.”

Usai membaca tulisan itu, Zahra merasakan sesuatu yang aneh tiba-tiba muncul di dalam dirinya. Seolah kedatangannya diawasi sosok-sosok lain yang tak kasat mata. 

“Kami tidak masuk ke dalam mercusuar karena sore itu tak terlihat adanya penjaga mercusuar. Jadinya, kami hanya melihat-lihat sambil membayangkan seandainya naik, pasti bisa melihat keindahan pulau dari atas,” masih kata Zahra.

Ia kemudian menambahkan, “Ketika tengah menyaksikan mercusuar itu, saya mendadak mendengar suara teriakan bergaung ‘Pergi! Pergi! Pergi!’ tiga kali. Saya terkejut dan menanyakan ke suami saya, apakah mendengar suara itu. Suami saya malah tertawa. Ia tak mendengar.”

Zahra mulai merasa takut. Ia panggil kedua anaknya. Ia kembali kaget karena pengakuan salah satu anaknya, “Anak saya yang kecil mengaku melihat ada dua anak berambut pirang mengintip dari atas mercusuar kemudian menatap tajam.”

Ketika Zahra dan suaminya mengamati secara saksama lokasi yang ditunjuk anaknya, di sana tak ada siapapun. Zahra bertanya-tanya, apa mungkin ada anak menghuni mercusuar dan berani menaiki tangga-tangga hingga puncak mercusuar itu?

“Karena hari semakin gelap, kami putuskan kembali ke kemah. Niat kami akan memasak untuk makan malam bersama. Tapi di tenda, ternyata kemudian muncul kejadian aneh lagi,” ujar Zahra.

Zahra kembali terkejut. Ia melihat lagi sosok-sosok manusia berambut pirang melintas mendahuluinya dan seolah masuk ke dalam tenda. Zahra segera berlari mengejarnya karena khawatir mereka berniat jahat.

Di dalam tenda ternyata kosong, tidak ada siapapun. Ia keluar lagi dan memutari tenda sambil memantau sekitar. Suaminya mengikuti apa yang dilakukan Zahra setelah menerima laporan Zahra. Kali ini suaminya mulai percaya dengan apa yang dilihat Zahra.

Karena tak ada siapapun, Zahra kemudian menyalakan lampu tenda, mengeluarkan bahan makanan, dan siap memasak. Ia kembali terkejut. Kali ini, anak dan suaminya mendengar semuannya.

“Dari samping tenda terdengar suara perempuan cekikikan. Kemudian disusul seperti suara benda-benda kaca berjatuhan. Suami saya segera bangkit dan mendekati sumber suara. Aneh, tak ada siapapun. Badan saya mulai merinding takut. Kedua anak saya juga,” tutur Zahra.

Suasana ceria mulai terganggu dengan kejadian-kejadian aneh. Belum selesai terkejutnya, kembali anak Zahra yang kecil berteriak-teriak ketakutan.

“Anak perempuan saya yang kecil, yang masih berumur 6 tahun kembali diganggu dua sosok anak berambut pirang. Mereka melongok dari balik tenda. Matanya melotot, berwarna merah, dan sangat menyeramkan. Terang saja, anak saya langsung menangis kejer minta pulang,” sambung Zahra.

Liburan keluarga Zahra telah berubah menjadi tidak menyenangkan. Gangguan sosok-sosok misterius laksana teror berantai yang membuat kedua anak Zahra ketakutan menginap di tenda yang mereka dirikan.

“Saya nggak tega melihat kedua anak saya. Daripada berdampak kepada psikologisnya, suami saya memutuskan pindah menginap di penginapan yang tak jauh dari lokasi tenda. Semua perbekalan kami benahi,” terang Zahra.

Usai semua perbekalan dikemas, keluarga Zahra siap beranjak menuju penginapan yang dimaksud. Di perjalanan yang berjarak sekitar 500 meter, Zahra sekali lagi melihat dua sosok dewasa dan dua anak berambut pirang dari jarak tidak terlalu jauh, sedang tertawa cekikikan.

“Padahal belum terlalu malam, paling baru pukul 20.00. Penampakan kali ini, juga dilihat suami saya. Ia sorotkan lampu senter ke arah sosok-sosok itu, tapi sosok-sosok itu dalam kedipan mata langsung menghilang. Kami segera merapat bergandengan dan cepat-cepat menuju penginapan,” kata Zahra ketakutan.

Malam itu, keluarga Zahra akhirnya tidak jadi menginap di tenda. Mereka habiskan malam di dalam kamar karena khawatir kembali diteror hantu-hantu penghuni Pulau Sabira. Esok paginya, Zahra mengadukan kejadian malam sebelumnya kepada pemilik penginapan.

Dari pemilik penginapan itu, baru Zahra tahu bahwa di sekitar Mercusuar memang dikenal angker. Konon, tempat itu dihuni hantu keluarga Belanda yang dahulu pernah tinggal sebagai penjaga mercusuar.

“Katanya, kejadian penampakan hantu berambut pirang sudah sering terjadi. Hanya saja, yang sering diganggu adalah para pendatang. Kalau penduduk setempat, jarang melihat. Mungkin mereka sudah akrab. Sedang pendatang, dipercaya warga karena hantu itu ingin berkenalan,” tutur Zahra.

Walaupun warga menganggap hantu-hantu hanya menggoda dan ingin berkenalan, bagi Zahra caranya menampakkan diri justru membuat anak-anaknya ketakutan.

Agar tidak diganggu sosok hantu bule, pemilik penginapan mengatakan bahwa akan membantu  Zahra bila masih ingin menginap beberapa hari di Pulau Sabira. Zahra sekeluarga hanya diminta berdoa saja, sementara pemilik penginapan akan meminta seorang sesepuh (dukun) di tempat itu.

Sayangnya, gairah berlibur di Pulau Sabira sudah menghilang. Zahra sekeluarga terlanjur memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta.

“Lain kali, kalau saya ingin menginap atau kamping di lokasi baru, saya akan memastikan dahulu lokasi itu. Termasuk, menggali informasi dan menghormati semua budaya setempat. Saya mengaku agak teledor dan menyepelekan faktor supranatural saat liburan tersebut,” pungkas Zahra.

Walaupun angker dan mistis, akhir-akhir ini, Pulau Sabira malah semakin ramai dan menjadi destinasi wisata unggulan di DKI Jakarta. Alam dan pantai yang indah membuat banyak wisatawan berdatangan.

Sekarang, kondisi menara Mercusuar Noord Wachter  sudah diperbaiki dan dicat ulang. Menara tersebut menjadi salah satu objek wisata yang digemari oleh para pelancong. Dari ketinggian menara, keindahan Pulau Sabira akan terlihat sangat memukau.

Editor : Taat Ujianto