• News

  • Sisi Lain

Misteri Peliharaan Penunggu ‘Punggung Menjangan’ di Purworejo

Gardu pandangan di objek wisata Geger Menjangan
foto: tourismpurworejo
Gardu pandangan di objek wisata Geger Menjangan

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM – Di bagian Utara Kota Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, terdapat deretan bukit yang dikenal dengan sebutan “Geger Menjangan” atau “Punggung Menjangan”. Di lokasi  terdapat sejumlah wisata yang indah tetapi dikenal angker oleh warga setempat.

Dalam catatan Triono, salah satu warga setempat dikisahkan salah satu lokasi yang dianggap keramat adalah Taman Wisata Imam Puro yang berlokasi di Desa Candi, Kecamatan Baledono.

Sebenarnya, tempat ini memiliki pemandangan yang indah dan berada tak jauh dari pusat kota Purworejo.  Setiap hari libur terutama pada hari minggu, banyak pengunjung yang mayoritas muda-mudi hadir di tempat ini, menikmati indahnya kota Purworejo dari atas gardu pandang.

Suatu hari, Triono mengunjungi tempat itu dalam kondisi lengang. Mungkin karena hari masih terlalu pagi. Namun entah mengapa, ada sesuatu yang aneh di pagi itu ketika ia melintasi area kuburan  yang ada di taman tersebut.

Dan benar saja, tak disangka, ada empat makhluk mengikutinya dari belakang. Makhluk itu berupa ayam hutan yang berwarna warni. Ada warna biru, coklat, merah, namun terlihat memiliki tatapan aneh. Selain itu, tak biasanya ayam hutan tanpa takut mendekat dan mengikuti seseorang.

Triono tercenung. Ia percepat langkah kakinya namun ayam tak mau pergi dan tetap menguntit. Saat melintasi rimbunan pohon bambu di samping kuburan, punggung Triono bergidik. Ada perasaan misterius menjalar ke tubuhnya.

Waktu sudah menginjak pukul 09.00 namun suasana masih sepi. Dua ayam jantan dan dua betina itu masih mengikutinya. Ia menjadi ragu bahwa itu ayam hutan biasa. Maka, ia keluarkan android di sakunya dengan maksud ingin merekamnya.

Dalam hitungan detik, HP pun segera di tangannya siap merekam. Namun mendadak sesuatu terjadi. Keempat ayam hutan itu mendadak hilang dari pandangan.

Kembali Triono tercengang. Ia heran, kemana keempat ayam itu pergi. Ia longok rimbunan bambu dan sekitar kuburan. Tak ditemukan apa-apa. Mengapa begitu cepat ayam menghilang.

Triono menjadi merasa tidak nyaman. Itukah makhluk halus yang berubah wujud menjadi hewan piaraan penunggu lokasi yang terkenal angker ini? Inikah salah satu godaan bagi pengunjung lokasi ini untuk menguji  kemurnian mengunjungi tempat wisata ini?

Dalam pandangan masyarakat umum, seseorang yang akhirnya tergoda mengganggu peliharaan penunggu Geger Menjangan akan mengalami celaka.

Bentuk gangguan bisa beragam. Seandainya Triono berniat menangkap ayam hutan itu, bisa jadi ia akan mengalami sesuatu. Untungnya, tak sebersit pun ia berniat jahat walaupun hanya sekadar ingin menjadikan ayam hutan menjadi miliknya.

Ada cerita warga yang mengatakan beberapa waktu lalu, seorang pria tersesat dan tak bisa pulang karena mengalami kehilangan orientasi setelah berwisata ke Geger Menjangan. Apakah pria itu tergoda suatu penampakan peliharaan penunggu Geger Menjangan? Triono tak mampu menjawab.

Triono berniat tulus mengunjungi Taman Imam Puro di mana di lokasi itu menyimpan kisah legenda yang menarik baginya.

Imam Puro memiliki nama asli Kunawi. Ia termasuk salah satu pahlawan perjuangan yang ikut andil dan mendukung Perang Diponegoro yang meletus tahun 1825-1830.

Beliau pernah mendirikan pondok pesantren di Sidomulyo, Ngemplak yang kini bernama Al Ishlah. Jadi, ia termasuk tokoh yang berjasa dalam usaha penyebaran agama Islam di Jawa Tengah.

Imam Puro adalah keturunan ke-9 dari Raja Mataram, Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Selama hidupnya, ia mengabdikan diri pada agama dengan membentuk sebuah thoriqoh, dengan nama Thoriqoh Syattoriyah. Imam Puro meninggal dunia pada tahun 1880.

Untuk mengenang jasa-jasa selama perjuangan, banyak peziarah yang hadir ke makam Imam Puro dengan berbagai kepentingan yang dimiliki.

Usai menyusuri lokasi Taman Iman Puro, Triono pun berbegas turuni bukit untuk pulang. Bukan karena takut penampakan namun ia takut jika ada ular sanca atau anakonda yang mendadak menyergapnya mengingat di sekitar lokasi masih sangat alami dan banyak rerimbunan pohon.

Apalagi, hingga pukul 09.30, di area tersebut  masih tetap sepi. Mendung datang menyergap langit luas.  Tampaknya hujan akan segera  turun. Daripada terjadi sesuatu yang tak diinginkan, ia memutuskan pulang.

Editor : Taat Ujianto