• News

  • Sisi Lain

Anjing Melolong Sepanjang Malam Ternyata Hantar Berita Tragis Jelang Natal

Ilustrasi anjing melolong
foto: istimewa
Ilustrasi anjing melolong

MAGELANG, NETRALNEWS.COM - Di salah satu sudut kota Magelang, Jawa Tengah, tepatnya di salah satu Kampung di Mertoyudan, Risna (38) menyimpan kenangan suram yang mungkin akan menjadi jejak sejarah hingga hidupnya berakhir.

Tujuh tahun telah lewat namun rasa pedih dan hati miris belumlah mau pergi dari relung hatinya. Bayangan anjing melolong sepanjang malam di sekitar rumah yang ia kontrak, masih jelas terngiang di telinga Risna.

Karyawati di sebuah perusahaan otomotif di Magelang itu sebelumnya tidak tahu apa arti lolongan pilu anjing-anjing kampung itu. Sudah beberapa hari terakhir, anjing itu berulah aneh.

Namun di malam suram itu, Risna merasakan ada yang berbeda dari malam sebelumnya. Anjing itu tidak hanya sendiri. Dari jendela kamar, Risna menghitungnya.

Tak kurang dari empat ekor anjing kampung yang tampak kumal. Dua ekor berwarna putih dan selebihnya berwarna hitam. Risna tertegun, mengapa keempat anjing itu melolong sambil menghadap ke rumah kontrakannya?

Andaikata anjing-anjing itu melolong karena sedang musim kawin, tingkah polahnya tidaklah demikian. Hati Risna berdebar sambil berharap tetangga kontrakannya ada yang mau mengusir anjing-anjing itu.

Apa yang ia harapkan tidak kunjung datang. Risna akhirnya beranikan diri keluar sambil berusaha mengusir keempat anjing itu. Ia memungut batu dan melempar untuk menakut-nakuti.

Keempat anjing itu lari menjauh. Risna lega dan kembali ke kamarnya. Namun saat ia hendak merebahkan diri, kembali ia dikejutkan dengan sesuatu yang terasa dingin menyentuh kulit di bagian lehernya.

Spontan tangan Risna mengusap leher dan ia terkesima. Seekor cicak besar terpelanting di lantai dengan ekor terputus dan ekor itu bergerak sendiri. Risna mundur dua langkah karena terkejut.

Sebelum ia mengambil sapu, cicak itu kabur menyusup ke kolong tempat tidur meninggalkan ekornya yang masih mengegol-ngegol di lantai. Risna membuang potongan ekor cicak ke tempat sampah di dapur.

Jam di dinding masih menunjukkan pukul 23.20 WIB dan di kampung sekitar Mertoyudan telah dikuasai oleh sepi. Penduduk kampung mungkin sudah tidur nyenyak. Hanya beberapa bapak-bapak masih berjaga di pos ronda.

Risna berusaha memejamkan mata. Ia membutuhkan istirahat untuk mengembalikan tenaganya sehingga esok hari bisa bekerja. Namun gangguan bertubi-tubi datang membuat hatinya gundah dan gelisah.

Baru saja ia pejamkan mata, suara lolongan anjing laksana suara serigala di malam purnama kembali datang. Keempat anjing itu kembali berada di tempat semula saat diusir Risna.

Dari jendela kamar, Risna melihat keempat anjing itu seolah sedang berlomba menjulurkan  leher ke atas dan melolong. Mendadak badan Risna merinding.

Badan Risna kemudian terasa begitu dingin. Dan dingin itu menyusup ke hatinya. Ia tiba-tiba rindu ibunya yang berada di seberang lautan. Tiba-tiba ia rindu celotehan nakal Riyan, tunangannya.

Dalam kerinduan hati yang menyiksa itu, Risna terlelap. Ia bermimpi dirinya seolah sedang berkumpul dengan keluarga besarnya di sebuah rumah besar. Ia juga melihat keluarga Riyan.

Namun, mengapa tidak ada Riyan di sana? Mengapa semua tampak bermuka sedih? Mengapa ada bunga ucapan duka? Mengapa semua orang mengenakan pakaian hitam?

Risna terbangun dengan terengah-engah karena di ujung mimpinya mendadak jari manisnya terasa perih dan panas. Ia terduduk dan segera memegang jari manisnya.

Di jari manis itu ada cincin emas melingkar. Cincin tunangan pemberian Riyan mendadak berubah menjadi seperti bara api. Namun cincin itu utuh, tidak panas, dan tetap dingin.

Namun jari manis Risna mengapa terasa begitu panas? Cincin itu ia lepaskan sehingga menyisakan goresan dan ternyata goresan itu berdarah. Risna meringis sambil bangkit dari tempat tidurnya.

Ia ingin mencari betadine di kotak obat, sambil meletakkan cincin tunangannya di meja kamar. Belum betadine ditemukan, mata Risna menabrak ponselnya yang berdering di atas meja kamar.

Buru-buru ia angkat ponsel itu. Dan bagai disambar petir, Risna mendengar kabar buruk yang membuatnya menjerit dan menangis. Suara dari seberang itu adalah Ibunda Riyan yang mengabarkan bahwa Riyan sudah tiada.

Sambil berlinang air mata, Risna berusaha kuat dan mengatakan ke Ibunda Riyan bahwa ia akan segera menyusul ke Indramayu, Jawa Barat, tempat jasad Riyan berada.

Risna ingin memberontak dengan kenyataan itu. Rasanya sulit untuk menerima kenyataan bahwa Riyan, tunangan yang rencananya akan menikahinya tiga bulan mendatang, kini telah menghadap kepada Sang Empunya.

Bertahun-tahun Risna berusaha melupakan Riyan yang nyawannya telah direnggut di Tol Cipularang. Dalam perjalanan kerja, bus yang ia tumpangi  ditabrak oleh sebuah truk. Peristiwa itu terjadi pada hari Sabtu (22/12/2012), tepat 3 hari sebelum Natal.

Riyan adalah salah satu dari tujuh korban lainnya dalam kecelakaan itu. Derita yang dirasakan Risna adalah dampak lain dari peristiwa nahas itu.

“Itulah prahara hidup saya yang terjadi seiring rangkaian firasat lolongan anjing, kejatuhan cicak, dan mimpi aneh yang saya alami,” kata Risna kepada netralnews.com di kediaman barunya.

Kenangan buruk itu berusaha ia terima dengan lapang dada. Namun hingga kini, Risna masih belum bisa mengubur rasa cintanya kepada Riyan.

Meski ibunya seringkali menasehati bahwa hidup adalah milik Tuhan. Semua kembali kepada-Nya. Ia yang memberi, Dia pula yang berhak mengambil.

Editor : Taat Ujianto