• News

  • Sisi Lain

Susan Tak Sadar Baca Mantra Kuno, Roh Maria, Sang Penunggu Pulau pun Bangkit (1)

Ilustrasi pemandangan Pulau Onrust
foto: jejakpinik.com
Ilustrasi pemandangan Pulau Onrust

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Hari Minggu pagi, Pulau Onrust di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, terlihat cerah. Seorang pemuda berparas tampan yang bernama Bramanto Putra atau biasa dipanggil Bram, sedang mengikuti open trip di pulau tersebut.

Pemuda yang terkenal cerdas, berani, tapi juga jahil kala itu masih duduk di bangku kuliah jurusan Arkeologi Universitas Indonesia. Siang itu, ia secara khusus datang ke Pulau Onrust untuk menyelami sesuatu terkait penelitian untuk tugas kuliahnya.

Begitu rombongan open trip mendarat di Pulau Onrust, Bram diam-diam menyelinap memisahkan diri dari rombongan. Ia menoleh sana-sini dan memberanikan diri mengeluarkan detektornya dari dalam tas.

Ia menelusuri pepohon khas Pulau Onrust yakni pohon kedondong jantan. Tibalah di lokasi yang ia tuju yakni makam Belanda.

Alat detektor ia mainkan dan segera mengendus-endus di lokasi yang diarahkan Bram. Satu jam berlalu dengan hasil nihil. Bram hanya sempat mendapatkan uang koin logam 1 gulden, itupun abad ke -19 tidak ada nilai kunonya.

Namun, sesaat kemudian ia menemukan keanehan. "Nnnginnngggggggg..., Nnnginnngggggggg...,” berulang dan membuat Bram tercekat heran.

Bram sadar, detektor yang ia gunakan sedang dimatikan. Bram penasaran dan sedikit merinding. Buru-buru detektor ia geser ke daerah barak-barak bekas Karantina Haji yang dibangun tahun 1911.

Baca juga:

Kisah Pilu Arwah Maria van de Velde saat Saksikan Puisi Diukir di Peti Matinya

Tiga Abad Kejar Pria Idaman di Jakarta, Roh Perempuan Berambut Pirang Gentayangan

Keanehan baru muncul lagi. Kabut tebal mendadak bergerak menyelimuti tanah basah di sekitar area bekas barak­-barak karantina haji.

Suasana tadinya biasa-biasa saja berubah menyeramkan. Bulu halus di sekujur tubuh Bram berdiri. Ia bergidik. Sekilas sekelebat bayangan hitam muncul dari sudut tembok reruntuhan bangunan. 

Bayangan itu  seperti memberi sinyal petunjuk detektor Bram untuk  mengikutinya dan disusul sahutan dari detektor Bram.

Bunyinya semakin nyaring. Antara takut dan penasaran, Bram mengikuti nalurinya bergerak mengikuti arah kelebatan bayangan misterius. 

Bunyi alaram detektor berhenti begitu kelebatan bayangan hitam menghilang dan menunjuk satu tempat. Buru-buru Bram membungkukkan badannya dan berusaha mengeruk tanah.

Sekop kecil yang ia bawa, membentur satu benda di kedalaman sekitar 30 cm. Bram menemukan bungkusan yang dililit kain kusam, sejenis kain kanvas atau belacu yang hampir koyak termakan  usia.

Bram kemudian membuka bungkusan itu. Jelas di tangannya sebuah  buku catatan kuno berwarna hitam, sebagian bentuknya sudah lapuk.

Nalurinya berkata bahwa benda yang ditemukan dengan cara misterius ini akan membantunya menguak data dan fakta yang ia perlukan terkait penelitiannya.

Buru-buru benda itu dimasukkan dalam plastik kemudian diselipkan dalam tas ranselnya. Bram segera berbenah lalu berlari meninggalkan tempat aneh itu. Ia bergabung dengan rombongan open trip kembali. Ia pulang ke Jakarta bersama rombongan tersebut. 

Dua hari berikutnya, Bram sudah beraktivitas di kampusnya. Buku tua temuanya membuatnya enerjik mengikuti kegiatan kuliah. Saat jam istirahat, ia mencari Susan, teman karibnya di kampus. Ia ingin memamerkan apa yang sudah ia temukan.

Susan adalah sahabat Bram yang sangat baik dan sama-sama menekuni jurusan Arkeologi di Universitas Indonesia. Mereka sedang menyelesaikan tugas akhir sarjana Sl dan sama-sama mengkaji sejarah Pulau Onrust, tepatnya tentang peninggalan VOC di Batavia.

Sedangkan untuk Bram, secara spesifik memilih judul "Rahasia Pulau Onrust”. Keduanya selalu kompak dan saling menyemangati.

Saat bertemu Susan, Bram segera menunjukkan buku kecil bersampul kulit hitam yang sudah lapuk di dalam plastik.

"Nih lihat, aku menemukannya di lokasi bangunan bekas Karantina Haji. Aneh, tiba-tiba detektorku berbunyi sendiri dan meluncur menunjukkan di mana buku catatan kuno itu berada,” terang Bram.

Susan justru mengomel karena Bram melakukan penelitian ilegal dengan membawa detektor tanpa surat-surat izin lengkap. Buru-buru jari Bram menutup mulut Susan sehingga gerutu Susan tidak berlanjut.

Singkat cerita, Bram meminta tolong Susan agar membantu menerjemahkan bahasa Belanda yang ada dalam buku tua itu. Ia berjanji akan membantu biaya kuliah Susan yang selama ini tersendat karena kondisi ekonomi keluarga Susan sedang susah.

Susan menyanggupi. Buku tua itu kemudian dibawanya untuk dipelajari di rumah kosnya.

Baca juga:

Kisah Pilu Arwah Maria van de Velde saat Saksikan Puisi Diukir di Peti Matinya

Tiga Abad Kejar Pria Idaman di Jakarta, Roh Perempuan Berambut Pirang Gentayangan

Malam harinya, Susan terperanjat. Ia berhasil menyusun simbol dan gambar-gambar dalam buku tua itu dan menyerupai rumus  ritual  kuno,  dengan  gambar  pentagram Satanic berwujud kepala Baphomet.

“Hmmm..., siapakah  pemilik buku  ini, sepertinya  pemilik buku  catatan  kuno  bersekutu  dengan  iblis. Apa  yang  telah dilakukannya?” gerutu Susan.

Susan membalik buku. Di belakang buku  itu terdapat catatan kuno  tertulis tahun 1719. Susan ingat, tahun itu artinya dua  tahun  sebelum  kematian Maria Van de Velde.

Mata Susan tertuju pada lipatan kertas. Ia berhasil menyusunnya. Di bawah gambar koordinat yang mirip dengan pentagram Satanic terdapat rangkaian tulisan seperti mantra berbahasa Ibrani.

Susan tidak berpikir panjang dan mengeja mantra tersebut yang diterjemahkannya di Google translate.

Aku datang diundang; lblis manusia bersatu berkekuatan manusia iblis bersatu berkekayaan; Sujud roh manusia yang terjual; Sujud roh manusia yang terbeli Jehovah Rohi untuk Lucifer Raja; Jehovah Makadesh untuk Lucifer Raja; Jehovah Sabaoth untuk Lucifer Raja; Jehovah Sidkenu untuk Lucifer Raja; (terus menyebutkan Jehovah untuk Lucifer Raja)

Begitu Susan selesai membaca terjemahan itu, seuatu terjadi. Tanpa sadar, ia telah  membaca isi  mantra 300 tahun lalu. Seketika itu  juga awan hitam menggumpal di atas langit kos-kosannya.

Muncul seperti suara gemuruh angin berembus kencang di dalam kos Susan. Mata Susan terbelalak tanpa sepakah kata pun. Lehernya tercekat. Susan tak menyangka mantra tadi berhasil membangunkan roh-roh gelap Onrust.

Roh-roh itu kemudian merasuki raganya. Mata Susan pun kemudian berubah menjadi gelap. Ia tak sadarkan diri.

Bersambung.

Catatan: Kisah ini diadopsi dari kisah Astryd Diana Savitri dalam Sarcophagus Onrust (2018).

Editor : Taat Ujianto