• News

  • Sisi Lain

Selain Keraton Agung Sejagat, Ternyata Ada Keraton Gaib di Purworejo

Ilustrasi kegiatan outbond dengan menggunakan tank di Sungai Bogowonto
foto: okezone
Ilustrasi kegiatan outbond dengan menggunakan tank di Sungai Bogowonto

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM – Nama Kabupaten Purworejo, beberapa waktu lalu viral di media massa gegara keberadaan Keraton Agus Sejagat (KAS). Nama keraton ini baru mereda setelah polisi turun tangan.

Raja dan ratu KAS akhirnya terjerat masalah hukum karena terbukti telah melakukan praktik penipuan kepada para pengikutnya. Perlahan, perhatian publik terhadap KAS mulai surut.

Terlepas dari berita KAS, secara khusus, Netralnews mencoba melakukan penelusuran tentang kisah-kisah misteri di kota Purworejo. Tanpa sengaja, Netralnews menemukan cerita tutur tentang keberadaan keraton gaib di kota ini.

Pusat kekuatan gaib di Purworejo atau pusat kerajaan gaib di Purworejo, konon berada di sepanjang Sungai Bogowonto.

Sungai ini berhulu di Gunung Sumbing, Kabupaten Wonosobo. Sungai ini pula  menjadi sumber utama cikal bakal peradaban di Kabupaten Purworejo. 

Melacak asal-usul nama “Bogowonto”, kata ini berasal dari kata “Bhagawanta” yang artinya bermuara di Samudera Hindia. Namun, sebelumnya sebenarnya sudah memiliki nama yakni “Watukoro”.

Nama  “watukoro” kemudian diubah menjadi “Bogowonto” kerena sering terlihat penampakan sosok begawan (pendeta) yang sedang  bersemedi di pinggir sungai.

Di sungai ini pula, terdapat cerita lisan tentang peristiwa fenomenal saat Pangeran Diponegoro enggan menyeberang karena tahu adanya kekuatan gaib yang melingkupi sungai.

Suatu ketika, Pangeran Dipanegara akhirnya bisa dibujuk Belanda untuk melakukan perundingan. Saat perundingan, ia ditangkap. Insiden penangkapan Pangeran Dipanegara terjadi di pinggir sungai Bogowonto, Magelang.

Banyak orang mengait-ngaitkan rahasia mengapa Pangeran Dipanegara tak mau menyeberang dengan kelemahan dia yang akhirnya terkuak pasukan Belanda sehingga bisa ditangkap dan ditakhlukkan.

Kisah misteri yang jauh lebih tua di sekitar Bogowonto adalah berkaitan dengan peradaban  desa kuno. Salah satu desa tersebut bernama “Lowano” (kini bernama Loano).

Menurut cerita lisan warga setempat, dahulu kala ada seorang bangsawan bernama Haryo Bangah dari Kerajaan Galuh Jawa Barat, melakukan perjalanan jauh ke arah timur untuk mencari adiknya, Raden Tanduran.

Perjalanan itu dilakukan setelah ia kalah perang dari Ciung Wanara.  Saat tiba di pinggir Bogowonto, Haryo Bangah berhenti karena jatuh sakit.

Ia dan pengikutnya memutuskan untuk menetap di situ, lalu mendirikan semacam perkampungan kecil. Mereka berinteraksi dengan masyarakat setempat dan Haryo kemudian memperistri seorang gadis di desa itu.

Keturunannnya diberi nama Anden, yang selanjutnya dikenal dengan nama Pangeran Anden Lowano. Saat Pangeran Anden besar dan memiliki istri, keduanya berselisih dan tak saling bicara.

Di sendang Ngumbul tak jauh dari sungai Bogowonto, istri pangeran Anden melihat sebuah pohon besar nan rimbun.  Namun, saat ia bertanya pada para pengikutnya apa nama pohon itu, tak ada seorang pun yang bisa menjawab.

Lalu tiba-tiba, seorang laki-laki menjawab bahwa pohon itu bernama “Lo”. Istri Pangeran Anden terkejut karena ternyata suaminya telah berada di belakangnya.

Setelah itu, kebekuan mereka pun cair. Orang-orang kemudian menyebut lokasi itu dengan nama Lowano. “Lo” artinya pohon dan “wanuh” artinya menyapa. Hingga kini, secara administratif, wilayah itu tetap bernama Loano.

Selain Loano, ada juga ada sejumlah desa kuno lainnya. Bukti peradaban itu berupa penemuan bangunan peninggalan kebudayaan Hindu dan Budha, di desa-desa tepi sungai.

Banyak orang percaya, bangunan peninggalan kuno itu memiliki kekuatan gaib dan menjadi simbol pusat keberadaan kerajaan gaib. Keberadaan kerajaan gaib ini pula yang menyebabkan Sungai Bogowonto dikenal angker hingga sekarang.

Buktinya, di sungai ini berulangkali terjadi banyak peristiwa aneh dan tak sedikit warga yang tenggelam dan menjadi korban meninggal saat beraktivitas di sekitar sungai.

Bahkan, pada bulan 10 Maret 2018, satu unit tank atau kendaraan lapis baja yang mengangkut siswa taman kanak-kanak (TK) mengalami kecelakaan, tergelincir, dan tenggelam di Sungai Bogowonto.

Kecelakaan tersebut terjadi sekitar pukul 10.00 WIB, Sabtu (10/3/2018). Saat itu Tank Yonif 412 mengangkut anak-anak TK untuk kegiatan outbound dan mengakibatkan 1 personel meninggal dunia.

Kala itu tak sedikit orang yang mengaitkannnya dengan kekuatan gaib atau keangkeran sungai Bogowonto. Bila pusat kerajaan gaib terganggu, konon bisa mencelakakan orang yang masih hidup.

"Percaya atau tidak, benar tidaknya, memang sulit dibuktikan, namun tak sedikit warga di sini yang memiliki kepercayaan tersebut," tutur seorang lelaki paruh baya yang mengaku bernama Luhur kepada Netralnews, Minggu, (2/2/2020). 

Editor : Taat Ujianto