• News

  • Sisi Lain

Ngeri! Ada Ketukan-Ketukan Misterius di Rumah Isolasi Corona, Purworejo

Rumah orangtua Heri di Purworejo, Jawa Tengah
Netralnews/Taat Ujianto
Rumah orangtua Heri di Purworejo, Jawa Tengah

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM -  Keputusan Heri untuk pulang kampung sudah bulat. Semenjak wabah corona melanda Ibu Kota Jakarta, ia tak mampu lagi bertahan hidup dengan membiayai indekost dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bekerja di proyek bangunan bersama rekan-rekannya sudah semakin sulit. Pihak kontraktor yang membawanya terus-menerus merumahkan anak buahnya karena sepi order.

“Uang di kantong udah menipis, sementara dampak corona tak tahu kapan berakhir. Makanya saya nekat pulang kampung, sebelum pemberlakuan PSBB di Jakarta,” tutur Heri kepada Netralnews, Senin (27/4/2020).

Bersama rekan-rekannya, ia menumpang truk pengangkut matreal bangunan sehingga selama perjalanan tidak terlalu mendapat masalah. Mungkin petugas memperlakukan ia bersama kedua rekannya tidak termasuk kelompok yang mudik.

“Pulang ke Purworejo sih lancar. Hanya saja, sesudah sampai di Purworejo, saya harus tertib menjalani prosedur dari aparatur desa. Saya langsung diantar ke Puskesmas, tak boleh ke rumah,” tutur Heri.

Di Puskesmas, Heri melihat sudah ada beberapa orang yang ikut antre. Mereka semua adalah orang-orang yang juga baru pulang dari daerah yang masuk zona merah corona.

“Saya didata, dimintai KTP-nya. Saya kan masuk penduduk asli Purworejo, jadi ya memang pulang kampung. Bukan warga yang sehari-hari tinggal di Jakarta,” lanjut Heri.

Usai didata di Puskesmas, Heri diperkenankan pulang. Oleh saudara-saudaranya, Heri diminta langsung mandi, kramas, semua pakaian direndam sabun cuci.

Setelah itu, ia yang merupakan anak bontot dari tiga bersaudara diminta menjalani isolasi selama 14 hari di rumah orangtuanya. Sementara Ibunya dan dua kakaknya harus mengungsi ke rumah saudara lainnya.

Heri yang masih lajang dan bulan Mei mendatang menginjak usia 25 tahun harus berdiam diri sendirian di rumah selama isolasi.

“Untuk makan, saya dianterin bahan-bahan makanan oleh kakak saya. Lalu, saya masak sendiri di rumah. Ya nggak susah sih, dah biasa kan masak dan makan sendiri. Yang nggak biasa ya diperlakukan seperti orang asing, gegara corona,” tuturnya sambil tersenyum.

Heri sadar bahwa menjalani isolasi adalah keharusan dan hal baik. Ia mengaku tidak terbebani dan ikhlas karena demi kebaikan saudara dan ibunya yang sudah ditinggal ayahnya sejak lima tahun lalu.

“Setiap dua hari sekali,  ya  aparat desa, Satgas COVID-19 runtin datang mengecek kondisi saya. Suhu tubuh diukur. Tapi ya normal terus sih saya, sekitar 36 derajat kalau nggak salah,” katanya.

“Jadi, selama 14 hari, saya jalani nggak ada masalah. Tapi justru muncul masalah lain. Maklum Mas, saya itu sebenarnya agak penakut dan sendirian di rumah sebenarnya tiap malam susah tidur,” aku Heri kepada penulis.

Heri mengaku rumahnya adalah rumah tua peninggalan leluhur. Rumahnya orangtuanya sebenarnya sudah direnovasi semi permanen. Model Limas dan dahulu berdinding bambu.

“Ada banyak kejadian, saat kecil saya juga melihat sendiri, di rumah ini sering muncul penampakan aneh. Waktu lima tahun saya masih ingat Bapak saya menggebrak meja kayu nangka bundar, karena tiap malam bunyi seperti ada yang menabuh pakai kayu. Kata Bapak, itu roh halus yang iseng mengganggu. Makanya Bapak gebrak untuk mengusirnya,” tutur Heri dengan lancar.

Rupanya, apa yang ditakutkan Heri selama 14 hari sendirian benar-benar terjadi.

“Hampir tiap malam pintu rumah depan seperti ada yang mengetuk, saat dibuka tidak ada. Bahkan hari kelima, saya sempat melihat bayangan hitam seperti menyelinap di ruang tengah. Sekujur tubuh saya sampai merinding takut,” imbuhnya.

Heri mengaku kemudian berdiam, berusaha memejamkan mata meski badan gemetar dan tarik selimut. Ia memutuskan berdiam diri, dan sambil berdoa berserah kepada Tuhan.

“Ketukan-ketukan misterius di pintu rumah ini masih saja terdengar. Beberapa kali saya tak bisa tidur, kadang terlelap sebentar, bangun lagi, hingga subuh tiba. Begitu terus selama isolasi,” katanya.

Heri sendiri tak bisa menjelaskan sebenarnya sosok apa yang mengganggunya. Hanya, dari cerita ibu, di rumah warisan leluhur itu masih terdapat keris dan tombak yang menjaga rumah.

“Seingat saya, tombak dan keris milik buyut saya, sudah dipindahkan dan disimpan di rumah pusaka milik desa. Namun, kata ibu saya, penghuni keris masih sering tetap datang. Percaya tidak percaya, ya itu cerita Ibu saya,” katanya.

Heri yang hanya tamat sampai SMP karena mengaku nyerah berpikir di sekolah dan nilainya jelek terus, akhirnya mampu menyelesaikan masa isolasi.

Di hari ke-14, dua orang anggota Tim Satgas COVID-19 dari desa datang dan memeriksa Heri. Ia dinyatakan sehat dan selesai menjalani karantina mandiri. Ia lega.

Ibunya datang dan dua kakaknya yang juga masih lajang kembali tinggal di rumah warisan leluhurnya.

“Aneh, sejak ibu dan dua kakak saya datang, di rumah seperti tak ada lagi yang mengganggu,” pungkas Heri.

Editor : Taat Ujianto