• News

  • Sisi Lain

Sosok Putri Jelita Penunggu Beji di Purworejo, Muncul Saat Bulan Purnama

Salah satu Beji, sumur alami di wilayah Condongsari, Purworejo, Jateng
Netralnews/Taat Ujianto
Salah satu Beji, sumur alami di wilayah Condongsari, Purworejo, Jateng

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM – “Kalau dari tradisi tutur leluhur desa, Condongsari sudah berdiri sejak era Kerajaan Majapahit. Tapi, dahulu mayoritas warga bukan menganut Hindu. Lebih banyak yang cenderung animisme atau Kejawen,” tutur lelaki yang minta dipanggil dengan nama Mbah Karyo (62).

Sore itu, Netralnews berhasil berbincang-bincang dengan Mbah Karyo di pematang sawah di wilayah Desa Condongsari, Banyuurip, Purworejo, Jawa Tengah. Mbah Karyo adalah seorang petani yang menggarap sawah beberapa petak di kawasan itu.
 
“Bukti warga menganut animisme, salah satunya bisa dilihat dari kisah  tutur tentang Beji atau sumur alami yang ada di desa ini. Ada dua beji, yang satu berjenis laki-laki, yang satunya seorang puri,” kata Mbah Karyo sambil menunjuk Beji yang lokasinya tak jauh dari sawahnya.

Menurutnya, dalam kisah sejarah asal usul dan leluhur desa, warga percaya bahwa kedua beji dijaga oleh sosok “danyang” yakni roh leluhur yang bertugas ikut menjaga keselamatan desa.

“Setiap Bulan Sapar dalam kalender Jawa, di kedua beji rutin diadakan selamatan desa. Warga iuran lalu potong kambing,” lanjut Mbah Karyo.

Saat potong kambing, sesepuh desa akan memimpin ritual, membacakan doa, melengkapinya dengan sejumlah sesaji dan kembang setaman. Daging kambing kemudian diolah   bersama-sama dan dibagikan ke seluruh warga desa.

“Ritual ini rutin. Nah di Beji yang dekat sawah saya ini, penghuninya adalah Danyang perempuan. Wujudnya sosok putri. Dia simbol dewi kesuburan yang ikut menjaga kelancaran usaha kaum tani di desa ini,” tuturnya.

Saat ditanya apakah Mbah Karyo pernah melihat sosok putri jelita tersebut, ternyata Mbah Karyo mengaku sering merasakan kedatangannya.

“Seringlah. Warga di desa ini percaya sosoknya sering muncul saat bulan purnama. Tapi, yang saya alami sering terjadi saat sore hari. Usai dari sawah, saya kan mengambil air di beji untuk mandi. Nah, saat Magrib itu sering tercium aroma harum melati. Saya percaya itulah sosok penunggu beji. Saya pun tak takut karena sudah terbiasa. Dia juga bukan roh jahat. Ia penghantar warga menuju Penguasa Alam Semesta, atau Tuhan,” kata Mbah Karyo dengan berapi-api.

Mbah Karyo juga memiliki kisah tentang anaknya.

“Kalau ada yang kurang ajar, biasanya akan kena teguran. Anak saya pernah tuh, malam-malam mencari belut, pakai lampu petromak lalu melewati beji ini tanpa permisi, mendadak lampu mati di sebelah barat beji,” katanya.

Bahkan, Mbah Karyo juga menceritakan bahwa anaknya yang sama, juga pernah mengalami bingung, linglung, dan kehilangan arah saat mencari burung puyuh atau gemek di malam hari. Peristiwa itu terjadi saat malam bulan purnama. Sedangkan lokasi kejadian berada di sebelah barat beji.

“Karena sedang cari burung puyuh bersama saya, dan dia mulai ngoceh dan mendesis-desis, diajak bicara nggak nyambung, maka kemudian saya bawa ke beji. Saya ambil air lalu cuci mukanya tujuh kali, setelah itu ia sadar,” tutur Mbah Karyo.

Usai sadar, menurut cerita Mbah Karyo, anaknya merasakan seperti diajak oleh sosok hitam. Ia tak mau tapi dipaksa-paksa.

“Jadi, sebelah barat beji, ada satu sungai yang angker. Mungkin anak saya diganggu genderuwo penghuni sungai tersebut,” katanya.

“Jadi, bagi saya, beji ini penting. Selain sebagai peninggalan sejarah budaya animisme, juga airnya yang bersih, mata airnya kencang, itu menjadi pengukur keberadaan kualitas air di desa ini. Selama mata air masih membual, itu pertanda warga desa ini masih  akan diberikan berkah kesuburan dan pertanian lancar. Air beji simbol berkah,” imbuh Mbah Karyo.

“Soal percaya tidak percaya, ya silakan. Pesan saya cuman tolong dirawat keberadaan beji. Jangan sembrono dan kurang ajar di tempat itu karena kalau celaka, Anda sendiri yang merasakan susahnya,” pungkas Mbah Karyo.

Editor : Taat Ujianto