• News

  • Sisi Lain

Jalanilah Karantina Jelang Lebaran, Jangan Nyesal Jadi Tumbal Nyi Roro Kidul

Mahasiswi Asal Semarang Tewas Terseret Arus Pantai Glagah, tiga tahun silam
foto: Tribunnews.com
Mahasiswi Asal Semarang Tewas Terseret Arus Pantai Glagah, tiga tahun silam

KULON PROGO, NETRALNEWS.COM - Lebaran hampir tiba. Biasanya, pergerakan mudik saat ini memasuki masa puncaknya. Namun, pandemi COVID-19 memaksa masyarakat Indonesia untuk menunda tradisi tahunan tersebut hingga situasi wabah corona tak lagi membahayakan warga.

Kendati demikian, tak sedikitwarga yang tetap nekat pulang kampung maupun mudik. Baik dengan kucing-kucingan maupun karena di kota menjadi korban PHK sehingga terpaksa harus pulang kampung. Mereka harus menjalani karantina di bawah pengawasan aparat desa.

Ada berbagai keunikan bagaimana karantina dilakukan. Di Klaten, DIY, tepatnya di Desa Sepat, Pemerintah Desa dan Satgas Covid-19 memberikan fasilitas karantina pemudik asal Sragen di sebuah rumah angker.

Rumah angker tersebut berada di kompleks bekas Pabrik Gula Sido Wurung atau lebih dikenal dengan Kedoeng Banteng.

Kepala Desa Gondang Warsito mengatakan, pemilihan rumah bergaya londo itu sebagai lokasi karantina berawal dari ide Camat Gondang Catur Sarjanto.

"Kemarin Pak Camat bilang nanti kalau ada ODP yang bandel, suruh isolasi tidak mau nanti akan ditempatkan di situ," kata Warsito seperti yang dikutip dari Tribun Solo.

Lain lagi dengan aparat Kulon Progo. Mereka menempatkan warga yang mudik harus menjalani karantina  di warung-warung kosong di Pantai Wisata Glagah.

Salah satu contoh warga yang mengikuti karantina tersebut adalah seorang warga Pedukuhan Sangkretan, Kulon Progo, berusia 23 tahun. Ia mengaku nekat mudik karena kena PHK dari tempatnya kerja di Jakarta.

Kemudian seorang lagi adalah pelajar SMK Kelautan Temon yang baru menjalani praktik lapangan dengan bekerja di kapal.

Warung-warung berdinding papan dan beratapkan seng ini memang dipilih Satgas Covid-19 Glagah sebagai tempat karantina bagi para pemudik ataupun pendatang di sana.

Lurah Glagah Agus Parmono mengatakan, warung-warung kosong itu mulai dihuni pada Rabu (06/05/2020) siang.

"Kedua orang pulang kampung ini masuk sejak kemarin Rabu siang setibanya di Glagah," terangnya

Kebetulan, kedua pemudik asal Kulon Progo ini sangat kooperatif.

Misalnya saja pekerja yang kena PHK ini, jauh-jauh hari dia sudah menjalin komunikasi dengan keluarganya di Glagah dan mengatakan tidak keberatan untuk menjalani karantina di warung kosong tersebut.

"Kalau yang kena PHK itu sudah sejak di sana menghubungi keluarganya. Dia tidak keberatan di sini. Dia datang pakai motor ke sini langsung masuk isolasi," kata Agus.

Sementara pelajar SMK ini pun nurut saja ketika petugas melakukan penjemputan di rumah.

"Anak PKL ini sudah sampai rumahnya. Kemudian satgas kami menjemput sekaligus mengedukasi keluarganya, mereka tidak keberatan," sambung Agus.

Kisah menempatkan warga di rumah angker maupun di warung di Glagah hakikatnya adalah agar warga disiplin dalam untuk ikut serta mencegar persebaran COVID-19. Bukan hanya soal angker dan "ditakut-takuti" dengan roh halus, namun tindakan pencegahan adalah penting.

Ketika kedisiplinan dilanggar, tetap saja peluang malapetaka mengintai. Misalnya karantina di Pantai Glagah Kulon Progo.

Warga sekitar lokasi sangat hafal bahwa lokasi ini pun termasuk angker. Tak sedikit korban yang hanyut saat berenang di musim libur Lebaran. Sebagian percaya bahwa mereka yang menjadi korban di Pantai Glagah adalah bagian dari misteri keberadaan Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan.

Konon, mereka yang hanyut dan tak ditemukan berarti "dikehendaki" oleh Sang Ratu. Benar tidaknya, terserah Anda. Namun, di balik cerita itu, sebenarnya ada hubungan dengan kedisiplinan menjaga keselamatan diri dan orang lain.

Ketika sudah diminta jalani karantina di Pantai Glagah namun tak disiplin dan tertib, bisa saja malapetaka tetap datang. Misalnya, saat karantina berlangsung, mencuri lengahnya aparat dan berenang ke tengah laut di Pantai Glagah.

Padahal jelas, ombak di Pantai Glagah sangat tinggi dan sewaktu-waktu bisa menggulung siapa pun yang berenang dengan ceroboh. Ia bisa menjadi "tumbal" di masa libur Lebaran.

Editor : Taat Ujianto