• News

  • Sisi Lain

Misteri Pabrik Roti Ah Tjong di Purworejo Tutup Gegara Genderuwo

Video penelusuran bekas pabrik roti yang dikabarkan angker
Netralnews/Taat-Tommy
Video penelusuran bekas pabrik roti yang dikabarkan angker

Berita Terkait

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM - Sungguh tragis nasib pemilik dan karyawan pabrik roti di Desa Condongsari, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Mulanya, produk roti di pabrik tersebut pernah berjaya selama beberapa tahun. Namun kemudian pemilik dan karyawannya dirundung kemalangan.

Tim Netralnews.com, Rabu (10/6/2020) berhasil melakukan penelusuran di lokasi tersebut. Penelusuran dilakukan malam hari. Kesan menyeramkan benar-benar terasa.

Rumah besar bekas pabrik roti tersebut berada di sebuah perkampungan. Suasana sangat sepi menyajikan suasana misteri yang hanya bisa dirasakan melalui mata batin. Secara kasat mata tidak terlihat roh halus satu pun.

Namun, saat penelusuran, ditemukan gundukan sisa buah Gayam (Inocarpus fagifer) serta kulit dan biji kelengkeng di salah satu ruangan yang dahulu kemungkinan dijadikan sebagai garasi mobil pengangkut roti.

Sisa buah tersebut, bisa jadi merupakan jejak binatang malam seperti kelelawar atau musang. Sayangnya dtak ditemukan makhluk malam tersebut di ruangan itu. Namun, saat mengelilingi gedung, Tim Netralnews sempat merasakan sambaran kelelawar besar. Bisa jadi kelelawar itulah yang menghuni gedung tersebut.

Bagi Anda yang ingin saksikan penelusuran Netralnews, saksikan vidoenya DI SINI.

Peninggalan Ko Ah Tjong

“Pabrik itu didirikan oleh seorang keturunan Tionghoa bernama Ko Ah Tjong. Warga sini memangilnya Ah Tjong. Pada 1996 pabrik beroperasi,” kata Imah (40) kepada NNC di Purworejo, Jawa Tengah, beberapa waktu silam. Imah adalah salah ibu beranak tiga dan pernah menjadi karyawan di pabrik itu.

“Lokasi pabrik sengaja di dalam perkampungan, bukan di pinggir jalan raya. Mungkin karena harga tanah lebih murah, dibanding jalur Purworejo-Yogyakarta yang sangat mahal", tutur Iman menduga alasan Ah Tjong memilih lokasi pabrik.

"Tapi sejak awal, lahan yang dipilih menjadi loksi pabrik itu memang banyak penunggunya. Istilahnya ‘wingit’ atau angker," katanya melanjutkan.

Menurut Imah, sebelum dibeli Ah Tjong, di lahan itu terdapat gerumbul pohon bambu yang kemudian dibersihkan untuk dibangun rumah besar sebagai prabrik roti. Warga sekitar meyakini bahwa gerumbul bambu itu adalah tempat tinggal genderuwo, sejenis jin bertubuh seperti manusia kera.

“Orang yang pernah melihat genderuwo itu mengatakan, tubuhnya berbulu lebat dengan warna kemerahan dan mulutnya bertaring,” jelas Imah menggambarkan penampakan makhluk halus itu. Dalam kamus mitologi Suku Jawa, roh halus ini tergolong populer dan sangat sering disebut-sebut.

Setelah bangunan selesai didirikan oleh Ah Tjong, produksi roti dimulai. Banyak pemudi di desa sekitar pabrik itu direkrut menjadi karyawan. Ada yang menjadi tenaga produksi, pemasaran, administrasi, dan lain-lain.

Imah sempat menjelaskan nama merek roti produk pabrik itu, namun mohon maaf, penulis sengaja tidak menyebutkannya di sini. “Jenis roti yang diproduksi, secara umum bisa digolongkan menjadi dua, yaitu roti kering dan basah,” katanya.

Mulanya, pabrik beroperasi dengan lancar bahkan bisa dikatakan “merajai” peredaran roti di wilayah Kabupaten Purworejo. Karyawan bertambah banyak dan dibagi dalam dua shift kerja, siang dan malam. “Karyawannya mencapi seratusan orang,” kata Imah.

Selang tiga tahun, di pabrik itu mulai muncul kejadian-kejadian aneh, beberapa karyawan mengalami kesurupan. Kejadian itu mulai menjadi buah bibir masyarakat.

“Mayoritas karyawan perempuan, dan kalau kesurupan itu tidak hanya satu. Kadang bisa lima sampai sepuluh orang,” ujar Imah.

Cerita tentang kesurupan bertambah dengan bumbu lain. Ada sebagian karyawan yang mengaku melihat penampakan sosok menyeramkan dengan mulut bertaring. Mereka kemudian menduga dan berpikir bahwa penampakan sosok mengerikan itu adalah roh peliharaan atau pesugihan Ah Tjong.

“Keluarga Ah Tjong itu kan kaya, dan dalam keyakinan warga, orang kaya biasanya memiliki pesugihan atau roh halus yang bisa mendatangkan kekayaan. Namun, harus menyediakan sesaji berupa manusia yang dimangsa sebagai tumbal,” kata Imah.

“Di tahun kelima, mulai timbul gonjang-ganjing. Karyawan mulai keluar-masuk. Kebanyakan, yang pernah melihat penampakan menyeramkan atau mengalami kesurupan kemudian mengundurkan diri. Mereka takut menjadi tumbal pesugihan,” kenang Imah terhadap teman-temannya.

“Saya yang kebetulan pernah kesurupan juga. Saat itu tetap bertahan tidak ikut keluar, karena saya statusnya sudah karyawan tetap. Sayang kalau keluar,” kata Imah.

Bangkrut dan tutup hingga sekarang

Imah mengaku sempat bertahan menjadi karyawan sampai pabrik itu dinyatakan bangkrut dan seluruh karyawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Cerita tidak baik mengenai pabrik itu berdampak buruk terhadap citra merek roti itu. Konsumen yang sebelumnya banyak sekali, perlahan berkurang hingga benar-benar tak lagi menutup biaya operasional pabrik. Sekitar tahun 2005, pabrik itu resmi ditutup,” ungkap Imah.

Imah merupakan salah satu saksi mata hingga pabrik itu berhenti berproduksi. Ia ingat bagaimana dampak dari cerita pabrik roti berhantu itu telah membunuh pabrik secara perlahan. Ia menyaksikan bagaimana pihak manajemen berusaha membendung ‘iklan hitam’ itu.

“Pernah diadakan ruwatan, mengundang sesepuh untuk meredakan dan mengusir roh penunggu pabrik. Mungkin dengan cara itu, Ah Tjong berharap bisa menenangkan karyawannya. Namun, bukannya menyelamatkan, justru makin memperburuk situasi,” kata Imah.

Imah menceritakan, “Biaya ruwatan tak sedikit dan menjelang bangkrut, karyawan sering melihat Ah Tjong sering marah-marah. Ia kemudian mengalami sakit. Ada yang bilang terkena stroke. Namun, ada yang bilang, ia sedang diganggu genderuwo, jin pesugihannya sendiri.”

Ternyata sakit Ah Tjong semakin parah. Tidak sampai satu tahun setelah pabrik tutup, ia dikabarkan meninggal dunia. Kabar duka itu masih saja ditanggapi negatif sejumlah warga.

“Ada yang bilang, ia benar-benar dimangsa pesugihannya,” kata Imah menanggapi sentimen warga yang terasa kejam.

Sesudah itu, gedung pabrik dibiarkan kosong dan tak dirawat lagi. Warga masih tetap memberi merek gedung itu berhantu. Konon, banyak warga masih sering menjumpai penampakan misterius.

“Anak saya, suatu ketika, saat sore hari lewat di situ. Sepeda motornya mogok. Dalam kegelapan, di depan rumah itu muncul sosok berambut panjang menyeringai,” kata Imah menceritakan pengalaman anaknya. “Beruntung, kemudian ada warga yang menolong anak saya,” sambungnya.

Di waktu lain, petugas ronda juga menjumpai penampakan serupa. Sementara nasib malang juga menimpa seorang penembak tupai.

“Suatu sore, seorang warga sini berhasil menembak seekor tupai. Namun, tupai itu jatuh ke area bekas pabrik itu. Saat mau mengambil, ia melihat sosok bertaring di balik kaca dalam gedung itu. Pemuda itu lari ketakutan dan beteriak-teriak menghebohkan warga sekitar,” ujar Imah.

Gedung bekas pabrik roti itu masih berdiri. Saat NNC mendatanginya, gedung itu memang benar-benar tak terawat. Kesan angker begitu terasa. Harus diakui, gedung itu dan juga psikologis warga sekitar masih berada dalam cengkeraman genderuwo yang kini menjadi satu-satunya penghuni di bangunan itu.

Editor : taat ujianto