• News

  • Sisi Lain

Kisah Pilu Putri Malang di Istana Kematian yang Dihuni Tujuh Hantu

Situs Gunung Kelir, peristirahatan Retno Gumilang, di Plere, Bantul
Maw Mblusuk
Situs Gunung Kelir, peristirahatan Retno Gumilang, di Plere, Bantul

BANTUL, NETRALNEWS.COM - Situs ini sangat bersejarah dan menyimpan kisah pilu tentang skandal penguasa Raja Jawa di abad ke-17, tepatnya era kekuasaan Amangkurat I (1646-1677), Raja Mataram Islam.

Situs yang dimaksud adalah makam Putri Malang di Gunung Kelir, Pleret, Kabupaten Bantul. Di lokasi ini, setidaknya ada 28 makam tersebar di beberapa titik di bawah rimbunan pohon besar yang terkesan sangat angker.

Dua makam di antaranya merupakan makam istimewa yang ditandai dengan kain putih menutupi makam. Makam istimewa tersebut adalah peristirahatan Ki Dalang Panjang Mas dan makam perempuang malang bernama Ratu Malang.

Situs ini bernama "Antaka Pura" (artinya: istana kematian atau istana penguburan jenazah). Konon nama itu disematkan langsung oleh Raja Amangkurat I yang dahulu menjadi penyebab kematian sepasang suami-istri, Panjang Mas dan Ratu Malang.

Menurut sumber yang bisa dipercaya tetapi tak mau disebutkan namanya, di situs ini terdapat tujuh makhluk astral penunggu makam. Sosok makhluk halus itu berupa tiga ekor ular besar, seekor macan, seekor monyet, dan satu hantu pocong.

Namun, ada gerumbul pohon bambu tak jauh dari makam, dipercaya merupakan lokasi tempat tinggal makhluk halus bernama genderuwo.

Masuk Situs ditandai dengan satu gerbang  yang setiap saat digembok, dibuka oleh juru kunci bila ada tamu yang datang. Anda yang memasuki gerbang ini, wajib lepas alas kaki kendati lantai berupa tanah.

Istana kematian yang dibangun tahun 1665 hingga 1668 ini, di siang hari saja menimbulkan nuansa menyeramkan, bisa dibayangkan bila kita mendatanginya di malam hari.

Prahara datang

Sososk Ki Dalang Panjang Mas bernama asli Kyai Daim. Konon, ia terkenal karena sering mendalang di Istana Ratu Pantai Selatan atau Kanjeng Ratu Kidul. Uniknya, ia tak pernah mau menerima bayaran bila mendalang di Istana Pantai Selatan.

Sinden terkenal yang sering menemani Ki Dalang adalah perempuan bernama Retno Gumilang. Perempuan jelita inilah yang kemudian diperistri Ki Panjang Mas dan bergelar Ratu Malang. Perempuan ini yang mati saat prahara kekejaman Amangkurat I mendera keluarga Ki Dalang Panjang Mas.

Suatu ketika, Raja Amangkurat I berjumpa dengan Retno Gumilang yang sangat cantik itu. Amangkurat I berkehendak agar Retno Gumilang mau menjadi selirnya. Oleh sebab itu, Amangkurat I meminta Ki Dalang Mas agar mau menyerahkan isterinya. Namun permintaan itu ditolak Ki Dalang.

Amangkurat I pun murka, lalu membunuh Ki Dalang Panjang Mas dengan maksud hati agar Retno Gumilang mau diperistri. Ki Dalang mulanya diminta mendalang. Amangkurat I kemudian meracuni Ki Dalang hingga mati.

Usai Ki Panjang Mas mati, Amangkurat menyatakan bahwa Retno Gumilang akan dijadikan sebagai permaisuri dan diberi gelar Ratu Wetan atau Ratu Malang

Hanya saja, Retno Gumilang ternyata tetap setia kepada suaminya yang telah mati. Ada beberapa pendapat. Ada yang menyebut bahwa Retno Gumilang meracuni diri, namun ada juga yang menyebut ia diracun oleh selir Amangkurat I yang merasa cemburu dan iri.

Amangkurat I pun terpukul ketika tahu bahwa pujaan hatinya menemui ajal.Saking cintanya, jasadnya pun tak langsung dikuburkan. Konon, selama 40 hari ia masih menggendong jasad Retno Gumilang dan baru menguburkannya di Gunung Kelir.

Sementara itu, Amnagkurat juga menghukum para selir yang menjaga Ratu Malang. Amangkurat kecewa dan membuat para selir dikurung tak diberi makan hingga mati. Mereka ini juga dikubur di sekitar makam Ratu Malang.

Tempat ziarah

Sejak menjadi Istana Kematian, banyak peziarah datang ke makam ini. Ada banyak harapan disampaikan. Ada yang mohon diberikan berkah pangkat, rezeki, dapat memecahkan masalah, dan lain-lain.

Para peziarah biasanya datang di malam Jumat kliwon datau malam Selasa Kliwon.

Menurut warga Bantul, tak sedikit peziarah yang sempat melihat langsung sosok-sosok makhluk astral di sekitar makam. "Jadi kalau ada yang tirakatan, tapi dirinya tidak bersih, nah itu nanti dia lihat macan, ular, pocongan, genderuwo juga," tutur warga tersebut.

Sementara peziarah lain merasa lancar saat ziarah dan menemukan ketanangan batin usai  berdoa di lokasi situs.

Lain halnya dengan peziarah yang tidak"bersih hati" atau memiliki niat jahat maka ia akan rentan diganggu para hantu penghuni situs. Bisa saja ia melihat pojong yang bisa berlipat ganda menjadi banyak.

Ular, monyet, genderuwo pun bisa ikut mengganggu bila peziarah itu tidak segera menyadari apa yang membuatnya tidak bersih hati. Anda boleh percaya, boleh juga tidak percaya, namun itulah kepercayaan warga sekitar Gunung Kelir

Editor : Taat Ujianto