• News

  • Sisi Lain

Jeritan-Jeritan Gaib di Bekas Jalur Lori di Selatan Purworejo

Tangkapan layar penelusuran jejak tanam paksa di Purworejo, Jawa Tengah
Netralnews/Taat-Tommy
Tangkapan layar penelusuran jejak tanam paksa di Purworejo, Jawa Tengah

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM – Bagi pecinta sejarah, menelusuri jejak peninggalan tempo dulu sungguh unik dan menarik.  Tak jarang, ditemukan hal-hal yang sulit dinalar namun faktanya diyakini masyarakat setempat.

Ini terjadi salah satunya ketika tim Netralnews mencoba mengungkap tentang sejarah peninggalan era tanam paksa era Kolonial di wilayah Kabupaten Purworejo. Tanpa dinyana, tim menjumpai kisah misteri yang menjadi buah bibir warga setempat.

Generasi muda yang lahir di Purworejo pun mungkin tak semua tahu bahwa di daerah sepanjang Kecamatan Banyuuruip (bagian selatan Purworejo) dahulu digunakan sebagai lahan tanaman tebu untuk memasok bahan pembuatan gula di pabrik gula Purworejo.

Padahal, lahan pertanian luas tersebut adalah jantung sumber pangan warga yakni padi. Lantas, bila padi dipaksa digantikan dengan tebu, apa dampaknya? Apakah warga mendapatkan gaji? Dapat sewa tanah yang sepadan?

Jawabannya adalah tidak. Banyak sisi kelam yang justru dialami warga setempat akibat tanam paksa tebu untuk industri gula sepanjang kurang lebih tahun 1910-1933.

Jejak penindasan?

“Kalau malam Jumat Kliwon, saya sering mendengar suara-suara tangisan dan jeritan. Yang menjerit, campur, ada suara laki, ada perempuan, ada anak. Suaranya meggema di jalur bekas lori (rel tebu), atau biasa warga menyebutnya trem Londo (Belanda, red),” tutur Mbah Martorejo (80) kepada Netralnews beberapa waktu silam.

Menurut Mbah Marto, suara-suara seperti orang menderita itu tak pernah ada wujudnya. Suaranya hanya mengesankan ada dertita ditahan oleh orang-orang yang seolah sedang menangis meratapi nasibnya.

“Kalau saya dekati, suaranya menghilang. Hanya, kayaknya sumbernya ya di jembatan bekas rel tebu itu,” kata Mbah Marto sambil menunjukkan lokasi jembatan peninggalan Belanda yang dimaksud.

Saat Netralnews menyusuri jembatan kuno berusia lebih dari 100 tahun tersebut, terlihat onggokan batu bata yang tersusun rapi membentuk jembatan yang warga setempat menyebutnya “jembatan leng siji” atau jembatan berlubang satu.

Jembatan tersebut menghubungkan daerah penghasil tebu di wilayah Purworejo menuju ke pabrik pengolahan gula.

“Saya tak bisa jelaskan makna susara-suara jeritan yang sering saya dengar itu. Yang saya tahu, dari cerita bapak saya, yang dulu pernah jadi kuli di perkebunan tebu, dulu tak sedikit warga Purworejo yang menderita dan susah makan. Entah, mungkin itu semacam ‘rekaman’ derita mereka,” kata Mbah Marto yang sudah terlihat renta namun masih kuat mengolah lahan sawah yang ia miliki.

Penghasil gula Kolonial

Menyusuri literasi masa lalu, ditemukan fakta bahwa salah satu perkebunan tebu yang dibuka oleh Belanda di Jawa adalah Suikeronderneming Poerworedjo, yang  dibuka  pada tahun 1910an. Perkebunan tebu tersebut memiliki sebuah kompleks khsusus pegawai pabrik gula yang biasa dinamakan “emplasemen”.

Menukil catatan Lengkong Sanggar Ginaris berjudul Permukiman Emplaseman Pabrik Gula Purworejo (1910-1933), keberadaan PG Purworejo disebutkan dalam catatan Belanda di Purworejo, salah satunya adalah tulisan Becking dalam majalah Indie, geilustreerd weekblad  voor Nederland en Kolonien no.47 tanggal 21 Februari 1923, yang berjudul “Eene Beshcriving van Poerworedjo en Omstreken“.

Dalam tulisan tersebut, dipaparkan bahwa di selatan kota Purworejo, terdapat sebuah kompleks pabrik gula yang besar milik Suikerfabriek Poerworedjo.

Namun tulisan Becking tidak memberi gambaran secara rinci mengenai permukiman pegawai di emplasemen pabrik gula tersebut (Becking, 1923;740).

Permukiman  emplasemen pabrik gula dibahas secara mendalam oleh van Moll dan Lugten dalam buku Projecten voor Suikerondernemingen yang diterbitkan tahun 1916.

Dalam buku itu, van Moll dan Lugten memberi panduan kepada pemilik pabrik seperti apa idealnya bentuk sebuah permukiman emplasemen pabrik gula.

Namun, era Revolusi Industri di Eropa rupanya memberi pengaruh pada pembentukan sebuah permukiman.

Sebelum terjadi Revolusi Industri, para pekerja masih dapat bertemu dengan majikannya karena pada masa itu lokasi pabrik masih menyatu atau tidak jauh dari tempat tinggal pemilik.

Peningkatan produksi berdampak dengan membesarnya ukuran pabrik dan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja. Akhirnya pemilik pabrik memindahkan pabriknya ke tempat yang terpisah.

Karena itu, para majikan samasekali tidak bertemu dengan pekerjanya dengan anggapan bahwa kehidupan para pekerja adalah tanggung jawab pekerja tersebut (Burchell, 1984; 76).

Banyak para pekerja yang tinggal di sembarang tempat selama mereka masih mampu membayarnya dan karena upah pekerja saat itu terbilang rendah, maka seringkali mereka tinggal  di  tempat  dengan  kondisi yang buruk.

Buruknya kehidupan para buruh menjadi landasan munculnya gerakan buruh yang seringkali menggelar aksi mogok kerja. Aksi tersebut berdampak terganggunya kegiatan  produksi yang merugikan pemilik pabrik.

Keadaan tersebut mendorong beberapa pemilik pabrik untuk memperbaiki kondisi para pekerja dengan menyediakan permukiman yang layak.

Ketika semakin banyak kegiatan di sekitar pabrik, maka lahirlah permukiman baru seperti Saltaire dan New Lanark di Inggris dan Cresppi d’Adda di Italia.

Mengenai bagaimana persisnya nasib para pekerja pabrik gula di Purworejo, hingga kini menjadi salah satu sisi yang belum banyak diungkap.

Di tengah keterbatasan informasi tersebut, sayup-sayup kisah dari Mbah Martorejo menyiratkan pesan bahwa diduga banyak pekerja mengalami penindasan.

Mengenai keberadaan jembatan jalur rel tebu peninggalan era Kolonial, berikut video penelusuran tim Netralnews:

 

Editor : Taat Ujianto