• News

  • Sisi Lain

Di Balik Hantu Gentayangan di Temanggung, Ada Saksi Bisu Pembantaian

 Jembatan maut Kali Progo di Temanggung
Historia
Jembatan maut Kali Progo di Temanggung

TEMANGGUNG, NETRALNEWS.COM -  Kadang masyarakat tak menyadari bagaimana suatu bangunan, daerah, lokasi tertentu "divonis" dengan label angker, berhantu, sarang makhluk halus, dan lain-lain. Seolah-olah, keangkeran tersebut serta merta terjadi. 

Dalam hal ini, kacamata ilmu sejarah sebenarnya bisa membantu memberikan telaah mengapa daerah atau lokasi tertentu dipercaya warga masyarakat angker dan berhantu.

Salah satunya, bisa kita lihat dari bangunan bersejarah berupa jembatan yang berlokasi Temanggung, Jawa Tengah ini.

Hingga kini, jembatan tua itu dipercaya angker dan bentuknya memang sangat menyeramkan. Konstruksinya terlihat sudah sangat rapuh, banyak bagian bolong. Dari lubang itu, aliran Kali Progo menganga seolah mengintai ingin menerkam para penyeberang jembatan.

“Banyak orang bilang kawasan ini sangat angker,” ujar seorang tukang pecel lele yang mangkal sekitar jembatan itu kepada awak media beberapa waktu silam.

Menurut cerita warga setempat, di jembatan ini sering terdengar aneka rupa penampakan makhluk halus. Ada yang mengaku mendengar suara tangisan, cekikikan, penampakan pocong, kuntilanak, dan lain-lain.

"Banyak ya yang ngaku melihat. Tapi kan tak bisa dibuktikan ya Mas. Percaya atau tidak ya monggo. Saya sih percaya dan tak mau sembrono di jembatan itu.," ujar Risky (45), warga setempat yang mengaku sehari-hari sebagai penarik ojek kepada Netralnews.

"Sering saya mencium aroma bunga, singkong rebus, di dekat jembatan. Menurut saya, ya itu pertanda adanya makhluk halus di dekat saya. Ya sudah, saya biasanya bacakan surat Suci Alquran, lalu saya menjauh," tambah Risky.

Terlepas dari mitos dan kepercayaan warga setempat, yang pasti, jembatan yang dimaksud sebenarnya merupakan saki sejarah atau "rekaman sejarah" masa silam. Di jembatan inilah dahulu terjati pembantaian.

Bisa jadi, kepercayaan warga terhadap keangkeran jembatan adalah bentuk lain dari ingatan akan kekejaman di masa silam tersebut.

Jejak sejarah kekejaman tempo dulu

Menelusuri jembatan ini, tak jauh dari bangunan dengan jarak sekitar dua meter terdapat sebuah tugu berwarna kelabu putih berdiri kokoh. Tugu ini mencatat nama-nama korban pembunuhan yang dilakukan militer Belanda pada kisaran waktu akhir 1948- pertengahan 1949. Ada tulisan di dalamnya berbunyi:

“Aku ta’ ketjewa, aku rela...Mati untuk tjita-tjita sutji nan mulja: Indonesia merdeka, adil,makmur dan bahagia. Temanggung, 22/12-48-10/8-49

Apapun yang dituliskan orang di tugu tersebut, dalam kenyataannya sebagian besar nyawa para korban pembantaian itu diambil secara paksa.

Menukil catatan Historia, menurut Bambang Purnomo (92), orang-orang yang dieksekusi sebagian besar adalah rakyat sipil yang dianggap sebagai kaki tangan TNI oleh militer Belanda. Padahal menurut eks pejuang Temanggung itu, tuduhan tersebut tak selamanya benar.

"Mereka mendatangi kampung, pasar dan rumah warga yang dianggap secara sembarang sebagai orang-orangnya TNI lalu membawanya ke jembatan dan langsung dieksekusi,’’ ungkap adik dari eks Panglima Divisi III Jawa Tengah Kolonel Bambang Sugeng itu.

Keterangan Bambang Purnomo dibenarkan oleh salah satu saksi sejarah lain bernama Parto Dimedjo. Menurutnya,sejak militer Belanda menyerang Temanggung pada Desember 1948, eksekusi selalu terjadi di tepi jemabatan itu.

“Kalau mau berangkat ke sekolah, hampir setiap hari saya selalu melihat ceceran darah di sepanjang jembatan Kali Progo,” kenang lelaki kelahiran Temanggung pada 1938 tersebut.

Pada suatu hari menjelang senja dirinya tengah mengangon bebek saat melihat sekumpulan tentara Belanda tengah menyiksa seorang lelaki yang matanya tertutup secarik kain hitam. Demi melihat pemandangan itu, tanpa banyak cakap, Parto lari tunggang langgang meninggalkan bebek-bebeknya.

“Tapi belum jauh saya lari, sudah terdengar bunyi tembakan. Selanjutnya saya tidak tahu lagi nasib orang itu,” ujarnya dalam bahasa Jawa.

Belum ada catatan resmi mengenai siapa aja para korban yang tewas di sekitar jembatan Kali Progo itu. Para penduduk sekitar jembatan rata-rata menyebut angka ratusan hingga ribuan.

Bahkan secara jelas, di salah satu tugu peringatan dekat jembatan tersebut, disebutkan jumlah orang yang tewas selama hampir satu tahun itu adalah 1200 orang.

Parto sendiri tidak berani menyebutkan kira-kira berapa jumlah korban pembantaian itu. Ia hanya ingat bahwa penembakan kerap terjadi. “Hampir setiap dua hari sekali, orang-orang sekitar jembatan itu, termasuk saya, selalu mendengar bunyi letusan senjata,” ungkapnya.

Editor : Taat Ujianto