• News

  • Sisi Lain

Kisah Pilu di Balik Penampakan Pesta Kuntilanak di Hutan Jati Boyolali

Ilustrasi hutan jati di Boyolali, Jawa Tengah
Foto: Mongabay
Ilustrasi hutan jati di Boyolali, Jawa Tengah

BOYOLALI, NETRALNEWS.COM - Kejadian misteri dan penampakan sosok aneh bisa terjadi di mana saja. Hanya saja, masyarakat Idonesia sering menengarai lokasi-lokasi tertentu yang dianggap lebih sering makhluk halus menampakan sosoknya. Tempat itu kemudian dijuluki "angker".

Bila Anda menyusuri daerah hutan di Boyolali, Jawa Tengah, maka akan ada seumlah titik atau lokasi yang dipercaya warga setempat sebagai keramat dan angker. Bila ditelisik lebih jauh, tak jarang, lokasi itu ternyata menyimpan cerita kelam masa lalu.

Ini adalah salah satu yang dikisahkan oleh Sumiyati (54). Ia merupakan warga Boyolali yang memiliki kenangan dan cerita dari orangtuanya mengenai kejadian kelam masa lalu tersebut.

Anehnya, ia bercerita bahwa lokasi yang disebut angker itu sering disebut tempat "kuntilanak berpesta".

"Iya sejak kecil, saya diberitahu lokasi di hutan itu (Sumiyati meminta menyebut lokasi persisnya, red) sering ada penampakan kuntilanak berpesta. Saya pun pernah melihatnya ada sosok-sosok putih berkumpul. Waktu itu saya berumur 12 tahun," kenang Sumiyati kepada Netralnews, Kamis (13/8/2020).

Sumiyati mengisahkan bahwa sosok-sosok itu seperti perempuan berambut panjang dengan rambut dan kain tertiup angin melambai-lambai.

"Ya, takut saya. Melambai-lambai kainnya. Saya nangis dan teriak, Kejadian sekitar pukul 19.00 saat saya disuruh ibuku ambil kayu bakar yang dikumpulkan oleh bapak. Waktu itu, stok kayu bakar di dapur sudah habis," tutur Sumiyati.

Karena teriakan dan tangisnya, orangtua Sumiyati datang dan menolongnya. Ia kemudian menunjukkan apa yang dilihatnya ke ibunya namun apa yang dilihatnya ternyata sudah menghilang.

"Ibuku lalu mendekapku. Katanya kapok dan minta maaf karena sudah menyuruh ambil kayu bakar sendirian," lanjut Sumiyati.

Sejak saat itu Sumiyati ikut menengarai dan memercayai bahwa lokasi yang berada sekitar 30 meter di belakang rumahnya sebagai titik angker, tempat berkumpulnya kuntilanak.

"Kata ibu sih tempat pesta kuntilanak. Tapi, aku sering heran, benarkah kuntilanak berpesta? Atau jangan-jangan kuntilanak berdoa dan minta bantuan?" keluh Sumiyati.

Kisah itu ia pendam terus hingga dewasa. Saat duduk di bangku SMA, ia baru paham, ternyata di balik lokasi yang disebut angker itu, ada kisah memilukan pernah terjadi di saat ia baru dilahirkan.

"Tahun 1966, saya baru lahir. Kata ibuku baru berumur satu bulan. Lalu meletuslah peristiwa G30S di Jakarta. Di Boyolali ikut geger. Tahun 1966 banyak terjadi penangkapan, pembunuhan, dan penahanan kepada mereka yang dituduh komunis atau PKI," tutur Sumiyati.

"Nah, lokasi yang dikenal angker itu, ternyata diduga kuat adalah salah satu kuburan massal mereka yang dibunuh. Mengapa diduga? Karena hingga kini belum ada pihak yang berani membongkar kuburan tersebut. Menurut mendiang bapak dan ibuku, waktu pembunuhan massal terjadi, bapak ibuku belum bangun rumah di dekat lokasi angker itu," imbuh Sumiyati.

Menurut pengakuan Sumiyati, sebelum punya rumah sendiri dekat lokasi yang diduga kuburan massal itu, bapak ibu Sumiyati masih menumpang di rumah kakeknya, sekitar satu kilometer dari rumahnya saat ini.

"Kata bapak, saat pembunuhan dan penguburan massal di lokasi itu, semua warga kampung tak ada yang berani keluar. Tapi malam itu terdengar suara rentetan tembakan puluhan kali. Jadi, kemungkinan yang dibunuh dan dikubur di situ, puluhan jumlahnya," imbuh Sumiyati.

Hingga kini, keluarga Sumiyati hanya memendam pengalaman tersebut karena tak berani mengungkap. Menurutnya sangat riskan, bisa-bisa malah mengalami kesulitan.

"Nggak berani saya, salah-salah malah saya dituduh PKI. Soal huru-hara 1966, kan sangat rumit itu. Jadi, biarkan saja pihak berwenang yang mengurus. Kalau tak salah, ada penelitian beberapa tahun lalu. Ada beberapa orang dari lembaga kajian peristiwa 1965 datang ke sini, ya saya persilakan saja. Saya sih hanya diam saja," kata Sumiyati.

Memang, lokasi itu merupakan salah satu bukti sejarah dan tak boleh asal membongkar. Diperlukan sikap arif dalam pengungkapan sejarah dan kebenaran atas peristiwa yang pernah terjadi.

Saat Netralnews melakukan penelusuran, ternyata memang ada lembaga kajian Tragedi 1965 yang mengidentifikasi lokasi yang diduga menjadi kuburan massal bagi mereka yang dibunuh karena dianggap terlibat G30S dan terlibat PKI.

Menukil CNNIndonesia, Selasa (26/4/2016), Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) 1965 Bejo Untung pernah membeberkan beberapa daerah yang ditengarai menjadi lokasi kuburan massal korban tragedi 1965.

Penelitian YPKP menemukan setidaknya enam titik kuburan massal korban 1965, masing-masing di Pulau Sumatra dan Jawa.

“Satu titik di Sumatera Utara, dua titik di Sumtera Barat, satu titik di Kepulauan Riau, dua titik di Sumtera Selatan, satu titik di Jawa Barat, dan lima titik di Jawa Tengah,” kata Bejo kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/4).

Lima titik di Jawa Tengah itu berada di Boyolali, Banyudono, Sono Layu, Hutan Jati Jeglong Grogolan, dan Luweng Giritontro Wonogiri. Kelima titik kuburan massal itu, kata Bejo, diisi sekitar 20 hingga 200 korban.

Bejo menyatakan, para korban 1965 kebanyakan dieksekusi secara tragis layaknya binatang. Contohnya, kata dia, para tahanan politik korban 1965 di Kepulauan Riau ditempatkan di penampungan Pulau Kemaro untuk disiksa terus-menerus. Setelah meninggal, mayat mereka lalu ditenggelamkan ke laut atau sungai.

“Di Pesisir Selatan dan Padang Pariaman, seorang penduduk yang diduga PKI dibantai hidup-hidup dengan ditanam di bawah tanah dan dilempari batu. Di Lubuk Pasung Bukittinggi, kepala para korban ditanam dan dijadikan tumbal untuk membuat bendungan," kata Bejo.

YPKP hingga kini terus meneliti dan mendata lokasi yang dicurigai menjadi tempat pembantaian dan kuburan para korban tragedi 1965 di seluruh Indonesia.

“Sejauh ini yang baru kami jangkau beberapa daerah di pulau Sumatra dan Jawa,” kata Bejo.

YPKP berniat memperluas penelusuran mereka dengan bantuan anggotanya di daerah-daerah serta kelompok aktivis hak asasi manusia lain.

“Kami terus koordinasi untuk memperluas daerah temuan seperti Bali dan kawasan timur yang belum kami telusuri secara mendalam,” kata Bejo.

Hingga catatan ini ditulis, dan berdasarkan penuturan Susmiyati, lokasi yang diduga kuburan massal di Boyolali itu masih belum "diapa-apakan". Susmiyati pun juga meminta Netralnews tidak menunjukkan lokasi yang disebut angker tersebut.

Editor : Taat Ujianto