• News

  • Sisi Lain

Bebas dari Kezaliman, Bertransformasi Jadi Negara Gaib Sekadar Mitos?

Penampakan lokasi keramat di cagar budaya Pulomajeti, Banjar
Pikiran Rakyat
Penampakan lokasi keramat di cagar budaya Pulomajeti, Banjar

Berita Terkait

BANJAR, NETRALNEWS.COM - Mitos tentang negeri Atlantis yang lenyap dalam waktu sehari semalam hingga kini masih riuh diperbincangkan. Apalagi ketika kisahnya diabadikan James Wan melalui film “Aquaman”.

Atlantis menjadi kisah legenda maha bintang berkat Plato (427-347 SM) yang menorehkan kisah tersebut dalam bukunya yang berjudul Timaeus dan Kritias. Dalam buku itu, Plato menyinggung peradaban maju “di seberang pilar-pilar Herkules” sekitar 9.500 SM.

Gempa bumi dan banjir bandang tiba-tiba melanda negeri itu, tepat ketika mereka ingin melancarkan perang besar terhadap Athena. Negeri itu kemudian musnah secara misterius.

Terlepas dari ragam pendapat antara benar ada dan tidaknya negeri Atlantis, atau hanya sekedar ilustrasi politik yang ingin digambarkan Plato, namun kisah itu berhasil menginspirasi banyak orang.

Apapun bentuk kejayaan makhluk di alam semesta, sewaktu-waktu bisa saja akan berubah bentuk baik karena kekuatan dari luar maupun karena sengaja dimusnahkan. Semuanya mengalami perubahan dan tak ada yang abadi.

Berbeda dengan kisah Atlantis, di Nusantara pun ada kisah-kisah mitologi tentang lenyapnya suatu peradaban. Di Pulau Morotai, terdapat satu suku yang konon dahulu kala pernah menghuni pulau itu. Namun, suku itu kemudian menghilang secara gaib.

Kemudian di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian Selatan (Priangan Timur), ternyata juga ada kisah tentang sebuah kerajaan kecil yang kemudian sengaja “ditransformasikan” oleh rajanya sehingga istri, punggawa, istana, dan rakyatnya tiba-tiba menghilang secara gaib karena menolak kezaliman manusia.

Namun anehnya, masyarakat  meyakini bahwa kerajaan itu sebenarnya tidak hilang. Kerajaan dan penghuninya diyakini hanyalah berubah wujud dari kasat mata menjadi tidak kasat mata. Ada juga yang mengistilahkan “mengalami perubahan dimensi”.

Kerajaan Gaib di Priangan Timur

Yang dimaksud kerajaan gaib di Jawa Barat bersumber dari tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun oleh warga masyarakat di sekitar Kecamatan Siluman Baru, Kota Banjar, Jawa Barat.

Jejak dari kisah tersebut masih bisa kita lihat berdasarkan situs kebudayaan di daerah itu yakni berupa bangunan menyerupai makam, terdiri dari tiga undakan. Di dekat situs terdapat hutan dan hamparan sawah luas, tak kurang dari 947 hektare.

Lalu bagaimana persisnya misteri kerajaan gaib di tempat itu?

Alkisah, dahulu kala sekitar abad ke-7, ketika peradaban Hindu berjaya di tanah Pasundan, berdirilah sebuah kerajaan bernama Galuh. Negeri ini makmur karena menghuni tanah yang subur.

Rakyatnya pun hidup damai karena dipimpin oleh seorang raja yang nan bijaksana, bergelar Prabu Raksabuana. Dalam memajukan negeri, Sang Raja dibantu punggawa kepercayaan yang bernama Ki Selang Kuning.

Suatu ketika, Prabu Reksabuana mengutus Ki Selang Kuning untuk memperluas wilayah kerajaan Galuh dengan membuka lahan pertanian baru ke arah sebelah Timur. Perintah itu dilaksanakan Ki Selang Kuning dengan semangat penuh pengabdian.

Bersama sejumlah prajurut, Ki Selang Kuning segera bertindak membabat hutan dan jadilah sebuah permukiman lengkap dengan lahan persawahan yang luas membentang. Area pertanian yang ia buka kemudian dinamakan Pulo Majeti.

Ki Selang Kuning puas melihat hasil kerjanya yang tidak sia-sia. Hasil panen melimpah. Penduduk Pulo Majeti ikut menikmati kemakmurannya.

Hingga tiba waktunya bagi Ki Selang Kuning untuk mengirim upeti kepada Prabu Reksabuana. Semua dilakukan dengan sukacita.

Prabu Reksabuana pun ikut bergembira saat menerima upeti dan menerima kabar tentang kesuksesan yang berhasil diraih Ki Selang Kuning. Ia memerintahkan Ki Selang Kuning untuk terus memajukan negeri Pulo Majeti.

Tahun berganti tahun. Kemakmuran semakin menjadi-jadi. Namun di suatu malam, timbul pertanyaan dalam benak Ki Selang Kuning yang merasa ada sesuatu yang tidak adil.

Mengapa ia dan warganya harus rutin mengirim upeti ke kerajaan Galuh yang tidak pernah ikut berkeringat mengolah lahan pertanian? Mengapa ia tidak mengikrarkan diri sebagai raja baru yang merdeka dari Kerajaan Galuh?

Ternyata, niat itu diwujudkan. Apalagi setelah Ratu Gandawati istrinya, beserta punggawanya ikut mendukung niat hati Ki Selang. Maka berdirilah kerajaan baru di Pulo Majeti yang dipimpin Prabu Selang Kuning. Kerajaan itu kemudian tidak pernah lagi mengirim upeti ke Kerajaan Galuh.

Dan niat Ki Selang Kuning pun akhirnya tercium Prabu Reksabuana. Ia sebenarnya tidak marah, bahkan ia ingin berkunjung sekedar silaturahmi karena rindu kepada mantan punggawa kepercayaannya yang kini telah menjadi raja itu. Ia pun berangkat dengan diiringi sejumlah prajurit.

Belum sampai barisan pasukan Kerajaan Galuh dan Prabu Reksabuana di Pulo Majeti, tiba-tiba Ki Selang Kuning dilanda kepanikan. Ia mengira kerajaannya akan diserang karena dianggap membangkang. Kesalahpahaman itu melahirkan keputusan di luar perkiraan.

Ki Selang Kuning tidak mau istri, anak, dan rakyatnya terbunuh. Ia tak mau kerajaannya dibumihanguskan. Ia takmau rakyatnya tunduk pada kezaliman. Dalam waktu yang singkat, ia mengambil seluruh pusakanya. Dalam hening, ia mengeluarkan seluruh kesaktiannya.

Mendadak langit gelap. Bumi Berguncang. Cahaya terang seperti kilat tiba-tiba melenyapkan kerajaan Pulo Majeti beserta seluruh penduduknya. Daerah itu kemudian berubah menjadi rawa yang seolah tak pernah dihuni oleh manusia.

Betapa terkejutnya Prabu Reksabuana setelah tahu apa yang terjadi. Namun ia berusaha menghormati keputusan Ki Selang Kuning. Ia juga tahu bahwa sebenarnya, mantan punggawa beserta rakyatnya itu masih tetap menghuni rawa yang menghampar di hadapannya.

Prabu Reksabuana mampu melihat bahwa di rawa itu kini dihuni oleh roh-roh halus dan kerajaan gaib yang kemudian dinamakan Rawa Onom (makhluk halus).

Penghormatan Terhadap Onom

Kisah tentang Ki Selang Kuning beserta istri, keluarga, dan rakyatnya yang menghuni Rawa Onom di daerah yang kini bernama Pulo Majeti (kadang ditulis Pulomajeti), tetap hidup dalam sanubari sebagian masyarakat Banjar dan Ciamis, Jawa Barat.

Maka, daerah itu pun kemudian dijadikan sebagai salah satu cagar budaya Kota Banjar. Banyak orang berdatangan ke lokasi cagar budaya untuk memohon berkat keselamatan dan berkat kesuksesan sebelum memulai usaha.

Di  sekitar cagar budaya itu, tak sedikit cerita mistis yang menjadi buah bibir warga. Semua mengungkapkan bahwa siapapun yang berkunjung ke daerah Pulo Majeti, tidak boleh berlaku tidak sopan, baik melalui tutur kata maupun perbuatan. Istilahnya “budaya jangan sompral”.

Konon, banyak kejadian seseorang mengalami nasib sial ketika melanggar larangan itu. Ada yang tiba-tiba mengalami sakit aneh akibat buang air sembarangan.

Ada pemburu menangkap biawak di Pulo Majeti lalu tiba-tiba didatangi makhluk halus yang meminta hasil buruan itu dikembalikan ke Pulo Majeti.

Pernah juga menjadi berita heboh ketika ada seorang supir angkutan di kota Banjar tiba-tiba tersesat dan kehilangan orentasi ketika melintasi daerah cagar budaya itu.

Sementara itu, tak sedikit warga Banjar masih meyakini bahwa sosok-sosok onom kadang ikut membantu kehidupan masyarakat Banjar, terutama ketika warga sedang mengalami musibah sehingga tidak mengakibatkan banyak korban.

Ada juga yang meyakini bahwa setiap pemimpin di daerah itu, juga akan selalu diiringi oleh para onom yang bertugas membantu pemimpin itu agar bisa melayani warga dengan sebaik-baiknya.

Namun bagi pejabat atau pemimpin yang perilaku dan motivasinya hanya untuk meraih kekuasaan dan keuntungan dirinya semata, maka justru sebaliknya. Ia akan diganggu oleh onom yang menghuni Pulo Majeti.

Terlepas dari ragam cerita supranatural itu, ada satu hikmah yang pasti dan patut dicermati. Di sekitar cagar budaya Pulo Majeti, terdapat hutan yang patut dijaga. Beragam cerita mistis di tempat itu ternyata memiliki dampak positif bagi kelestarian hutan tersebut.   

Mengenai kisah mistis, silakan dikembalikan kepada masing-masing pribadi. Namanya keyakinan, tentu boleh percaya, boleh juga tidak. Dan patut diingat pula, keyakinan juga memerlukan sikap toleransi dan saling menghormati.

Dan terakhir, apabila ada yang berpendapat bahwa suatu negara bisa mengalami kemusnahan, apakah mungkin terjadi seperti yang dialami kerajaan di Pulo Majeti?

Bila mungkin dan justru dengan cara itu, kehidupannya menjadi damai, kira-kira Anda mau atau tidak menjadi salah satu penghuni negara gaib? 

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber