• News

  • Sisi Lain

14 Bulan di Manado, Kakak Je Dirasuki Roh Jahat dari Boneka Milik Ibunya

Ilustrasi boneka untuk media mengirimkan roh jahat
IDN Times
Ilustrasi boneka untuk media mengirimkan roh jahat

MANADO, NETRALNEWS.COM - Cerita misteri ini ditulis berdasarkan kisah nyata yang dialami teman penulis (berinisial Je) yang tinggal di Kota Manado, Sulawesi Utara.

Malam itu, Je sedang menonton televisi bersama dengan keluarganya. Awalnya semua berjalan dengan baik, sampai sang kakak mendadak terdiam.

Kakak Je memiliki tatapan yang kosong. Saat ditanya ia tidak menjawab tapi malah mengikuti setiap perkataan yang dilontarkan oleh keluarganya.

Karena takut, Mama Je pun memanggil seorang pendeta ke rumah mereka. Pendeta itu bernama Mekland.  

Begitu Pendeta Mekland tiba, ia langsung mendoakan Kakak Je. Namun, Kakak Je tetap tak kunjung pulih. Ia tetap menceracau dan meniru setiap perkataan orang lain dengan tatapan mata kosong.

Mama Je semakin curiga. Ia khawatir dengan keselamatan Kakak Je.

Keesokan harinya, Kakak Je dilarikan ke rumah sakit. Di rumah sakit ia menjalani pengobatan dokter namun tetap belum ada tanda-tanda menjadi pulih.

Mama Je semakin was-was apalagi ketika hari berlalu dan sebulan pengobatan di rumah sakit  tetap tak ada perubahan.

Maka, Mama Je memutuskan membawa pulang Kakak Je. Di rumah, proses penyembuhan kembali dilanjutkan.

Mama Je kemudian mengundang sejumlah umat Kristiani di lingkungan tempat tinggalnya. Selain berpuasa, ia mengajak jemaat gereja berdoa secara khusus untuk kesembuhan Kakak Je.

Namun, ternyata hasilnya tetap masih sama. Perilaku Kakak Je tidak ada perubahan.

Mama Je kembali mendatangkan pendeta yang dipercaya jauh lebih profesional.

Kata pendeta tersebut, Kakak Je mengalami kerasukan roh jahat. Roh itu merasuki jiwanya gegara ada sesuatu di dalam memori HP (handphone) milkik Kakak Je.

Tak mau mengundang resiko lebih jauh, Mama Je kemudian membakar memori HP milik Kakak Je. Namun lagi-lagi, hasilnya masih sama saja. Kakak Je tidak mengalami perubahan.

Dua hari setelah membakar memori HP, Mama Je kembali mendatangkan pendeta yang sebelumnya menyatakan bahwa ada “sesuatu” di memori HP.

Sang Pendeta kembali mengungkap hal yang sama bahwa Kakak Je kerasukan roh jahat gegara “sesuatu” di memori HPnya.

Kondisi Kakak Je semakin parah. Linglungnya membuat kondisi fisiknya memburuk karena tak tahu mengurus dirinya, susah makan dan harus disuap, dan hanya bergantung pada  orang lain.

Dua hari semenjak pembakaran memori HP, Kakak J bertambah aneh. Ia kini mulai berteriak dan sesekali kejang-kejang.

Pendeta kembali diundang. Saat pendeta duduk di sampingnya dan membacakan doa, Kakak Je sedikit lebih tenang.

Namun malam harinya, setelah Sang Pendeta kembali ke rumahnya, Kakak Je kembali kambuh berteriak dan kejang-kejang.

Lalu datanglah seorang tetangga yang menyarankan agar Mama Je mengundang orang “pinter” yang ada di Pardo, Sulawesi Utara.

Orang yang dimaksud adalah seorang ibu-ibu yang dipercaya bisa mengusir setan.

Ibu ini kemudian mengadakan sejumlah ritual yang konon dilakukan untuk memaksa si roh jahat atau setan yang merasuki Kakak Je mau mengaku siapa dirinya.

Setelah orang “pinter” itu beraksi, muncul perubahan perilaku Kakak Je.

Kakak Je mulai tenang dan mulai mau makan dan minum dengan mudah.

Sementara itu, setiap hari Minggu, Mama Je membawa Kakak Je ke Pardo dengan bantuan jemaat gereja.

Kata ibu “pinter” itu, setannya berasal dari kampung halaman keluarga Mama Je. Roh jahat itu disebut-sebut merasa iri dengan ketampanan, kemewahan hidup yang dimiliki Kakak Je.

Ibu “pinter” itu juga menyarankan agar Kakak Je dibawa ke tempat yang jauh dari kampung halamannya.

Maka, Mama Je kemudian memutuskan untuk memberangkatkan kakak Je ke Jakarta. Di sana, Kakak Je tinggal dengan saudaranya.

Benar saja, selama di Jakarta, Kakak Je mengalami perubahan. Ia mulai bisa diajak bercakap-cakap. Matanya tidak terus-menerus mengalami kekosongan.

Sebulan kemudian, kakak Je kembali lagi ke Manado. Saat tiba di Manado, Kakak Je mendadak kambuh lagi.

Malam harinya ia kerasukan, berteriak-teriak, dan kejang-kejang lagi.

Antara lelah, jengkel, dan sayang kepada anak, Mama Je membawa kembali Kakak Je keInbu “pinter” di Pardo.

Kali ini, Si Ibu itu mengaku akan mengusir setan dalam tubuh Kakak Je dengan cambuk akar pohon beringin.

Menurut Ibu itu, si Kakak Je tetap akan aman dan yang akan kesakitan adalah setannya.

Setelah ritual penyambukan selesai, Mama Je membawa anaknya kembali pulang ke rumahnya.

Keesokan harinya terjadi peristiwa tak diduga. Tatapan kosong Kakak Je semakin parah. Ia bahkan tak bisa melihat (menjadi buta) dan harus dituntun orang lain bila berjalan.

Kondisi Kakak Je yang dulunya tampan, kini tubuhnya semakin tak terawat, berambut panjang, dan buta. Ia semakin mengundang iba siapapun yang melihatnya.

Satu tahun berlalu dan Kakak Je tetap kerasukan roh jahat.  

Mama Je kemudian kembali membawa Kakak Je ke Jakarta. Keanehan kembali terjadi. Begitu tiba di Jakarta, mata Kakak Je kembali mampu melihat. Ia juga bisa berkomunikasi.

Tinggal satu lagi yang akan dilakukan Mama Je. Atas saran Ibu “pintar”, Mama Je memutuskan pulang ke kampung dan mendatangi para leluhurnya.

Di rumah orangtuanya, Mama Je segera masuk ke kamar yang dulu menjadi kamar pribadinya. Ia terperanjat.

Di ruangan pengap dan kosong tak ada barang satupun hanya terlihat satu benda teronggok di lantai. Benda itu berupa boneka bayi tanpa mengenakan pakaian.

Di sekeliling tubuh boneka itu tertancap sejumlah jarum dan kawat. Saat dihitung jumlahnya ada 40 butir jarum dan 7 kawat tembaga. Mama Je mencoba mengingat-ingat.

Boneka butut itu tak lain dan tak bukan adalah boneka kesayangannya dahulu saat masih kecil. Namun seingatnya, tak pernah ia menusuki tubuh boneka itu dengan jarum dan kawat.

Tanpa berpikir panjang, ia ambil boneka itu. Diam-diam ia menyelinap, membaca doa, dan melemparkan boneka itu ke dalam tungku dapur di rumah mendiang orangtuanya yang kini ditinggali oleh sepupunya.

Mama Je kemudian terbang menuju Jakarta. Saat berjumpa dengan Kakak Je, Mamanya terkejut. Badan Kakak Je terlihat bersih, rambut pendek, dan tampan.

Kakak Je sembuh total dan mampu bercaka-cakap seperti 14 bulan lalu sebelum dirinya mengalami sakit akibat kerasukan roh jahat.

 

Penulis: Shareen Joanne Fanani

Editor : Taat Ujianto