• News

  • Sisi Lain

Lokasi Pembantaian dan Penahanan Anggota PKI, Mengapa Berhantu?

Kolase tentang lokasi kuburan massal, gedung penahanan, dan tempat pembuangan jasad mereka yang dituduh PKI
Foto: Istimewa
Kolase tentang lokasi kuburan massal, gedung penahanan, dan tempat pembuangan jasad mereka yang dituduh PKI

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Tim Netralnews beberapa kali berhasil menemui sejumlah narasumber yang memiliki kisah misteri seputar kuburan massal, lokasi penahanan, hingga lokasi pembunuhan mereka yang dituduh terlibat malam jahanam 30 September 1965.

Berdasar kisah-kisah tersebut, muncul pertanyaan yang hingga kini tak bisa dijawab. Mengapa di lokasi-lokasi tersebut dipercaya angker dan banyak yang mengaku melihat penampakan hantu?

Saat Netralnews menanyakan hal itu, di antara mereka ada yang menjawab karena arwah mereka ada yang tak ikhlas. Tapi ada pula yang menjawab semua penampakan itu tak ada kaitannya dengan arwah mereka. Hantu yang mengganggu itu adalah jin dan setan yang menyamar.

Ada pula yang menjawab bahwa pengakuan warga adalah bentuk lain dari ekspresi memori kolektif tentang rangkaian kejadian memilukan dalam sejarah bangsa Indonesia, di mana sesama anak bangsa pernah saling membunuh.

Ada juga yang menjawab bahwa hantu-hantu dan fenomena misterius adalah bentuk dari “rekaman alam” atas tragedi kemanusiaan  di tahun 1965-1966.

Netralnews tidak dapat menyumpulkan atas semua jawaban itu. Oleh sebab itu, informasi dan cerita itu hanya bisa Netralnews sajikan apa adanya.

Luweng Grubug angker

Kisah pertama adalah lokasi yang diduga sebagai tempat pembantaian dan pembuangan mayat mereka yang dibunuh karena dianggap terlibat G30S atau anggota PKI. Namanya Luweng Grubug.

Sebenarnya, Luweng Grubug merupakan sumur alami di pegunungan karst yang terletak di Dusun Jetis, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari Kota Yogyakarta, berjarak sekitar 60 kilometer.

“Di sumur itu sering terdengar alunan syahadatnya orang Kristen. Saat dicari sumber suaranya, tak pernah ditemukan,” demikian kata Riyan (22), seorang pemuda yang tinggal tak jauh dari lubang sumur yang biasa disebut Luweng Grubug.

Menurut keterangan Riyan, selain alunan syahadat yang misterius, banyak warga lain menjumpai fenomena mistis di lokasi yang sama. Bentuknya beragam, ada yang melihat bayangan rombongan orang berwarna hitam, ada yang melihat darah memancar dari sumur, dan fenomena aneh lainnya.

“Sumur itu sangat angker. Banyak sekali jasad yang terpendam di dalamnya. Pada tahun 1982, karena ingin mengapus citra negatif tempat itu dan ingin menjadikannya sebagai objek wisaya, Pemda Yogyakarta telah membersihkan kerangka manusia sebanyak tiga truk,” ungkap Riyan.

“Bisa jadi, walaupun kerangka sudah dibersihkan, arwah dari orang yang mati di tempat itu, masih berada di situ. Karena dibunuh dan dikuburkan secara tidak layak, arwahnya mungkin sering menampakkan diri agar masyarakat tahu,” kata Riyan melanjutkan.

Penampakan di Gedung Infico

Cerita kedua adalah kisah penampakan misterius di gedung Infico yang dulu digunakan sebagai tempat penahanan anggota PKI. Lokasi gedung bekas Studio Film Infico itu persisnya terletak di Jalan Rawa Kemiri Nomor 42, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

“Pernah suatu ketika, saat saya baru menetap di sini, saya pulang kerja larut malam. Saya menjumpai sosok wanita yang minta tolong, katanya saudaranya badannya melepuh. Anehnya, saya nurut saja dibawa masuk ke gedung itu. Saya melihat banyak lelaki dan perempuan mengerang kesakitan,” kata Tedja (48) kepada Netralnews Selasa (11/9/2018) silam.

Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Swasta, naluri Tedja segera bekerja. Ia tidak sibuk mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan di kepala.

Ia justru berpikir bahwa obat yang ada di dalam tasnya tak akan mencukupi. Ia harus mengambil stok obat-obatan dari rumahnya. Maka kepada perempuan itu, Tedja minta izin mengambil obat tersebut.

“Ruangan gedung itu remang-remang. Jalan menuju ke situ juga banyak rumput alang-alang. Namun karena niat saya mau menolong, saya tidak berpikir macam-macam. Segera saya ambil obat dari rumah dan kembali ke gedung itu. Dan betapa terperanjatnya saya,” kenang Tedja.

Saat kembali ke gedung itu, Tedja tidak berhasil menjumpai siapapun. Gedung kosong, gelap, dan baru sadar terasa menyeramkan. Tedja merasa gemetar dan ketakutan.

“Sejadi-jadinya saya membaca doa dalam hati agar tidak jatuh pingsan, sambil cepat-cepat kembali menuju ke rumah,” katanya.

Karena penasaran, pada hari berikutnya, Tedja mencari informasi tentang gedung itu. Ternyata, penampakan yang ia alami bukanlah yang pertama kali.

“Banyak tetangga saya juga mengalami fenomena serupa. Mereka sering mendengar jeritan dan raungan di malam hari, layaknya orang disiksa. Suara-suara itu bersumber dari tempat itu,” ujar Tedja.

Tak puas hanya mendapat keterangan itu, Tedja mencari informasi lain seputar sejarah gedung itu.

“Saya berpikir bahwa saya harus benar-benar mengetahui seluk beluk gedung itu, karena saya akan tinggal di wilayah sini dan tak mau kalau ada apa-apa, atau terus diganggu,” kata Tedja.

Setelah tanya sana-sini dan membaca buku, akhirnya Tedja memperoleh data yang cukup akurat. “Ternyata, gedung itu adalah salah satu bukti sejarah kekejaman setelah peristiwa Gerakan 30 September atau G30S. Banyak orang yang dituduh PKI, ditahan di gedung itu,” ungkapnya.

Seperti dituturkan Tedja, gedung itu pada 1960 merupakan Studio Film Infico, milik Tan Ceng Bok atau biasa dipanggil Pak Item. Tan Ceng Bok adalah seorang bintang film, produser, sekaligus sutradara di era 1960-an.

Sebelum meletus G30S, studio tersebut sering digunakan sebagai tempat pemutaran perdana film-film baru.

“Saat menjadi studio film, anak-anak sering diperkenankan menonton pemutaran film secara gratis. Bahkan, kadangkala para penonton malah diberikan nasi bungkus dari pengelola studio,” ungkap Tedja mengulang keterangan dari salah satu keturunan pemilik gedung itu, yang pernah ia jumpai.

Setelah meletus G30S, gedung itu diambil alih tentara. Kemudian, dipakai sebagai tempat penahanan orang-orang yang dianggap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan dikuasai tentara hingga 1990.

Selanjutnya disewakan lagi untuk industri miniatur pesawat dan usaha batik milik Iwan Tirta hingga kini.

Kisah Misteri Peneliti Sejarah

Kisah misteri ketiga dialami justru oleh seorang penelitu sejarah yang menjumpai fenomena aneh selama melakukan kajian di wilayah Blitar Selatan.

“Aku malam itu dikerubungi banyak suara di kamar rumah tempatku menginap di Desa Bakung, Blitar Selatan. Sampai aku minta tolong agar mereka diam, karena aku mau istirahat,” kenang Andre Liem (40), salah satu peneliti lembaga kajian sejarah.

Sepanjang tahun 2011, ia bersama beberapa orang lainnya telah melakukan kajian sejarah lisan atau biasa disebut dengan Oral History Project (OHP).

Ia mendapat bagian penelitian di Desa Ngrejo dan Bakung, di wilayah Blitar Selatan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Kala itu, ia berhasil mewawancarai tak kurang dari sepuluh narasumber.

Semua narasumber merupakan saksi mata rangkaian Operasi Trisula yang digelar pada 1968 oleh aparat TNI dari Kodam Brawijaya, di bawah pimpinan Mayjen TNI Jasin.

Dalam operasi itu telah terjadi berbagai tindak penangkapan, penahanan, dan pembunuhan terhadap mereka yang dianggap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Peristiwa saya didatangi suara aneh, terjadi sekitar pukul 2.00 (WIB) dini hari, setelah seharian penuh saya mewawancarai beberapa narasumber,” kata Andre.

“Pukul 21.00, saya selesai mewawancarai empat orang yang lolos dari pembantaian. Badan saya terasa capek, namun tidak bisa tidur. Ada banyak suara aneh terdengar di telinga saya. Seolah ada yang mempertanyakan siapa saya, ada yang teriak, menangis, dan sebagainya,” sambung Andre.

Andre sempat berusaha keluar kamar mencari sumber suara itu. Namun di sekitar rumah tempat ia menginap, kondisinya senyap, tak ada orang. Semua warga desa sedang nyenyak menikmati mimpinya masing-masing. Ada rasa penasaran dan sedikit takut dalam hati Andre.

Sampai akhirnya, karena badan terasa begitu lelah dan ia sangat membutuhkan istirahat, ia menghardik, “Tolonglah diam! Saya lelah dan butuh istirahat! Dan anehnya, suara-suara itu benar-benar kemudian menghilang.” Andre pun bisa terlelap setelah berjam-jam diganggu suara itu.

Saat terbangun, Andre mandi dan bergegas melanjutkan penelitiannya. Tiba-tiba muncul pemikiran dan keinginan untuk mendatangi sebuah lokasi kuburan massal di pinggir kali di Desa Bakung. Ia merasa ada hubungannya antara suara-suara aneh di malam itu dengan lokasi kuburan massal itu.

Dengan diantar Maryono dan Paijo, dua orang narasumber, Andre bisa mengunjungi tempat tersebut. Di tempat itu, Andre berdoa dan berusaha berkomunikasi seolah-olah minta izin agar dapat memperoleh keterangan sebaik-baiknya (baca: kebenaran) terkait data sejarah.

Menurut penuturan Maryono dan Paijo, mantan seniman ludruk anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), di lokasi itu ada 32 orang dibantai dan dikuburkan secara massal.

Paijo dan Maryono menjadi saksi mata ketika teman-teman mereka bermandikan darah karena berondongan timah panas.

Mereka juga sebelumnya ditahan tentara sekitar Februari 1968. Bisa dikatakan, mereka beruntung karena tidak ikut dibantai.

Namun, ia dipaksa membantu pihak aparat untuk mengidentifikasi orang-orang Blitar Selatan yang dituduh terlibat PKI. Di bawah todongan pistol, Paijo dan Maryono ikut mengubur jasad teman-teman mereka.

Editor : Taat Ujianto