Netral English Netral Mandarin
00:05wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Sita Aset Obligator BLBI Berkat Baca Demo 212 Tahun 2017, Denny Ungkap Strategi Jokowi Menghajar 'Anjing Penjaga' Mereka

Minggu, 29-Agustus-2021 09:30

Ilustrasi demo 212 tahun 2017
Foto : Tabloid Bintang
Ilustrasi demo 212 tahun 2017
19

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pemerintahan Presiden Joko Widodo menyita 49 aset tanah milik obligator pengutang BLBI. 

Dalam pandangan Denny Siregar, langkah tegas ini dilakukan usai Jokowi berhasil “menghajar anjing-anjing penjaga” para pengutang BLBI. 

Strategi ini diambil Jokowi usai membaca pergerakan dan demo kelompok 212 tahun 2017. 

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

LANGKAH CATUR JOKOWI 

Lama banget saya gak nulis tentang langkah catur Pakdhe Jokowi.

Sejak lama, sejak 2014, saya mengikuti apa yang dia lakukan. Saya kagum dengan dia, bukan karena sosoknya, tapi karena dia berani dan brilian memainkan langkah-langkahnya. Ahok itu juga berani, tapi masih kurang brilian sehingga dia jatuh dari kursinya. 

Seperti main layang2, Jokowi main tarik ulur tarik ulur sampe banyak org gemas, "Kok kurang tegas sih ??" Padahal itulah yang membuatnya memenangkan pertarungan. Kadang mundur selangkah, maju 3 langkah. Kalau tarik terus, entar putus benangnya.

Seperti kasus BLBI ini. Hutang yang belum dibayar oleh para penghutang itu 111 trilyun rupiah. Banyak banget. Para penghutang itu kaya-kaya dan beberapa dari mereka berkuasa. 

Kalau disentuh dikit aja, mereka ngamuk trus tebarkan duitnya untuk goyang pemerintahan lewat demo-demo besar. Kejadian demo 212 tahun 2017 jadi pelajaran. Itu situasi paling berbahaya, tapi juga menguntungkan..

Lho kok menguntungkan ? Iya dong. Akhirnya Jokowi tahu, darimana harus memulai. Langkah pertama, hajar anjing2 penjaganya. 

Dan kita jadi saksi mata ganasnya Jokowi kalau menghajar. Bukan main pukul, tapi seperti merebus kodok pelan-pelan. Diundang pulang, baru sikat miring ampe pecah berantakan.

Jangan sampe provokatornya bisa seenaknya ngomong dan koordinasi dari negeri orang. Cari celah hukum yang tepat, baru kandangkan. Ormasnya dibubarkan, panglimanya diseret sampe nyari-nyari sandal.

Otoriter ? Ya harus. Kalau gak, gak beres ini kerjaan. Tapi otoriternya harus sesuai hukum yg berlaku. Bukan seperti jaman pak Harto, yang malah jadi blunder karena muncul perlawanan.Sesudah anjing penjaganya beres, datang utusan Jokowi ke para penghutang, 

"Gimana ? Masih mau melawan ? Atau mau kerjasama ? Kalian bebas kerja, asal hutangnya bayar..." Sebuah ancaman halus dan mengerikan. Para penghutang tahu, betapa powerfullnya Jokowi sekarang. 

Mulailah mereka ramai-ramai datangi Menteri Keuangan, serahkan harta2 mereka berupa aset tanah yang ada. Sampai sekarang sudah 5 juta hektar yang di tangan pemerintah. Yang bandel, kayak Tommy Soeharto, dibuka datanya ke publik. Yang mau kerjasama, disimpan. Semuanya terukur yang penting tujuan tercapai.

Saya kagum sama Jokowi. Dia mampu menempatkan bidak-bidaknya di tempat yang tepat. Dia bisa terlihat lemah sehingga lawannya jadi terlalu percaya diri untuk melangkah. Disaat yang tepat, ketika mereka masuk perangkap, beruntun hajaran dilakukan sampai mendekati skak mat.Saya tidak hidup di zaman Soekarno. 

Tetapi bagi saya, Jokowi adalah titisan Soekarno yang sebenarnya. Dia kembalikan kedaulatan yang diimpikan si bapak bangsa. Gak banyak ngomong, tapi kerjanya luar biasa..

Trus apa yang bisa kita bantu? Ya menjaganya. Kita jaga ruang2 media sosial yang dipakai lawan untuk memfitnahnya. Kalau untuk itu saya harus disebut buzzer, biarlah seluruh orang tahu, sayalah buzzer Jokowi sesungguhnya. Demi mimpi Indonesia jaya.

Sebarkan pesan ini ke oposisi, biar panas hati mereka..

Siapa mau ikut ? Ayo, angkat cangkir kopinya. Seruputtt... 

Denny Siregar

Sita  49 Aset Tanah Obligator

Sebelumnya, Satuan Tugas (Satgas) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) secara resmi menyita aset obligor di sejumlah daerah Indonesia. Setidaknya, total 49 bidang tanah dengan luas 5.291.200 meter persegi yang telah disita oleh satgas hari ini.

Penyitaan itu dilakukan secara simbolis oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD, Menteri Keuangan Sri Mulyani, di salah satu lokasi aset tanah milik Lippo Karawaci di Banten, Jumat (27/8).

"Alhamdulillah hari ini kita baru menyaksikan penguasaan fisik aset negara yang berasal dari hak tagih atas piutang negara terhadap obligor atau debitur BLBI," kata Mahfud di Karawaci, Jumat (27/8).

Mahfud melanjutkan, hak tagih terhadap piutang negara BLBI mutlak dilaksanakan sebagai kewenangan negara. Oleh karena itu, Mahfud menegaskan bahwa pemerintah serius dalam upaya pemulihan hak tagih negara atas piutang BLBI.

"Akanserius dan terus menerus dengan koordinasi, kolaborasi antar lembaga dalam tim kerja Satgas yang dibentuk berdasarkan Keppres 6 Tahun 2021,"

Ia menambahkan, upaya penanganan penyelesaian hak negara yang berasal dari dana BLBI dilaksanakan secara efektif dan efisien, sehingga dapat memberi kepastian hukum terhadap aset yang jadi hak negara dan juga bagi penyelesaian utang negara BLBI.

"Dengan penguasaan aset properti BLBI oleh negara, maka akan memberikan manfaat yang sangat signifikan bagi bangsa dan negara," tuturnya.

Sementara itu, Menkeu Sri Mulyani mengatakan, hari ini ada 49 bidang tanah yang terletak di Medan, Pekanbaru, Bogor, dan Karawaci yang disita.

"Aset-aset properti yang saat ini berada di Lippo Karawaci luasnya 25 hektare. Menurut Pak Bupati, 1 meter persegi sekarang Rp20 juta ya pak? Jadi pasti 25 hektare nilainya triliunan," tutur Sri Mulyani.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati