Netral English Netral Mandarin
15:28wib
Amerika Serikat mengimbau warganya untuk tidak bepergian ke Indonesia karena angka penularan infeksi virus corona (Covid-19) yang dinilai tinggi dan kemungkinan adanya serangan teror. Tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di RSD Wisma Atlet mulai mengalami peningkatan pada 3-4 pekan pasca-Lebaran. BOR RS sudah mencapai 75,19 persen.
Soal Kebijakan Pemda Batasi Kerumunan di Pusat Keramaian, Begini Kata Sahroni

Senin, 03-Mei-2021 15:22

Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni
Foto : Istimewa
Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni
2

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni mendukung kebijakan Pemerintah Daerah (Pemda) khususnya DKI Jakarta dalam membatasi kerumunan di pusat keramaian seperti di Pasar Tanah Abang. 

Dia menilai tepat langkah Pemda Jakarta menerapkan aturan buka-tutup di Pasar Tanah Abang yang mulai berlaku Senin (3/5/2021), karena masih tingginya angka penularan COVID-19 di Jakarta. Kebijakan tersebut diambil karena meningkatnya jumlah kunjungan ke Tanah Abang, Jakarta yang mencapai 100 ribu orang per hari sehingga memunculkan kekhawatiran akan munculnya klaster COVID-19. 

"Apalagi pada momentum menjelang Lebaran, tentunya jumlah pengunjung Tanah Abang membludak, sehingga memang harus ada aturan yang membatasi kerumunan. Jangan sampai kita lengah sedikit, kasus COVID-19 melonjak," kata Sahroni di Jakarta, Senin (3/5/2021).

Namun dia mengakui bahwa tidak mungkin jika kegiatan ekonomi dihentikan begitu saja, sehingga memang harus ada kebijakan yang juga mempertimbangkan faktor ekonomi masyarakat.

Karena itu Sahroni setuju dengan kebijakan buka-tutup sehingga pengunjung dibatasi dan petugas bisa menegakkan aturan protokol kesehatan."Saya paham bahwa roda ekonomi tidak bisa dihentikan sehingga tidak mungkin ada penutupan seluruhnya. Karena itu saya setuju dengan konsep buka-tutup, sehingga pengunjung dibatasi dan petugas benar-benar menegakkan aturan," ujarnya.

Politisi Partai NasDem itu menilai, belajar dari membludaknya kasus COVID-19 di India, salah satu faktor utama yang meningkatkan kasus adalah kerumunan yang tidak mengikuti protokol kesehatan.

Menurut dia, semua pihak tentu tidak mau apa yang terjadi di India terjadi di Indonesia karena itu dibutuhkan antisipasi dan yang penting adalah praktiknya di lapangan harus betul-betul ditaati.

Reporter : Antara
Editor : Sesmawati