Netral English Netral Mandarin
20:54wib
Relawan Sahabat Ganjar kembali melakukan deklarasi mendukung Ganjar Pranowo untuk maju sebagai calon presiden 2024. Penembakan seorang ustad bernama Armand alias Alex di depan rumahnya Jalan Nean Saba, Kelurahan Kunciran, Kecamatan Pinang, Tangerang hingga kini masih menjadi misteri.
Soal Latihan Militer TNI AD dan AS, Analisa Pengamat: Buat Pemerintah China Meradang

Rabu, 28-Juli-2021 08:30

Latihan Perang (Ilustrasi)
Foto : Istimewa
Latihan Perang (Ilustrasi)
14

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengamat kebijakan publik Amir Hamzah menilai, latihan militer gabungan antara TNI Angkatan Darat (AD) dengan Amerika Serikat (AS) pada 1-14 Agustus 2021 di tiga lokasi yang ia sebut sebagai mandala yudha (medan perang) berpotensi membuat perintah China meradang.

Pasalnya, pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi cenderung sangat pro China, dan sisi lain, China dan AS sedang melakukan perang dagang dan terlibat konflik di Laut China Selatan.

"Sepanjang saya mengamati masalah pertahanan negara sejak Maret 1973, tepatnya sejak MPR Menetapkan GBHN yang pertama, yang mengangkat Soeharto sebagai presiden RI dan Sri Sultan Hamengkubowono IX menjadi Wapres, sekaligus yang menjadi tonggak dimulainya Orde Baru, latihan militer ini merupakan latihan militer yang paling lama, sekaligus juga paling besar. Apalagi kalau informasi bahwa militer Thailand, India dan Australia ikut dalam latihan ini adalah benar,” kata Amir di Jakarta, Selasa (27/7/2021).

Pengamat senior itu mengakui, jika ditinjau dari segi geostrategis dan geopolitik, latihan militer ini sangat menarik.

Dari segi geopolitik, menurut dia, latihan militer ini menimbulkan hal yang sensitif bagi pemerintah China, sehingga Beijing bisa saja galau atau meradang, karena pemerintahan Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi cenderung terlihat sangat pro China, sehingga meski banyak sekali tenaga kerja lokal yang membutuhkan pekerjaan, pemerintah justru “mengimpor” TKA dari China untuk mengerjakan proyek-proyek yang investasinya berasal dari negara itu.

Seiring dengan masuknya TKA China yang menurut data Kemenaker sebanyak 8.700 orang berdasarkan data per 18 Mei 2021 itu, muncul pula kecurigaan, karena di antaranya TKA tersebut banyak sekali yang berpenampilan seperti tentara, sehingga ada kecurigaan kalau ada tujuan tertentu dibalik masuknya TKA China ke Indonesia.

Apalagi karena selain pemerintahan Jokowi terlihat mesra dengan China, juga karena beberapa partai pendukung pemerintah, seperti PDIP dan Golkar, diketahui memiliki kerja sama dengan Partai Komunis China (PKC), partai penguasa di China.

"Pemerintah China tentu tidak happy dengan adanya latihan perang ini, dan tentunya akan melakukan sesuatu untuk mengamankan kepentingannya di Indonesia," tegas Amir.

Dari segi geostrategis, lanjut Amir, latihan perang ini menarik karena dilakukan di tiga mandala yudha, yakni di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan; Amborawang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur; dan Makalisung, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Baturaja, jelas ketua Budgeting Metropolitan Watch (BMW) ini, tak jauh dari Samudera Hindia dimana terdapat Christmas Island, sebuah pulau yang masuk wilayah negara Australia, dan sebuah pulau karang bernama Diego Garcia. Pulau ini merupakan koloni Inggris.

Australia dan Inggris merupakan dua dari sekian negara sekutu AS.

“Kutai Kartanegara dekat dengan dengan Laut China Selatan, sedang Makalisung dekat dengan Filipina, dimana AS punya pangkalan militer di negara itu, dan Filipina juga merupakan sekutu AS. Dan menurut saya, sepertinya bukan suatu kebetulan kalau Minahasa dipilih menjadi salah satu tempat latihan militer, karena TKA China banyak di Sulawesi Selatan, khususnya Morowali, dan antara Minahasa dengan Sulawesi Selatan tidak terlalu jauh,” imbuh Amir.

Ketika ditanya ada apa sebenarnya dengan pemerintahan Jokowi, sehingga menyelenggarakan latihan militer dengan AS. Apakah orientasi pemerintahan Jokowi mulai bergeser dari China ke AS?

Amir menjelaskan, kalau dikaji tentang belum adanya komentar Jokowi tentang latihan militer ini, maka patut diduga ada alasan yang lain.

“Sebenarnya di dalam sebuah negara di manapun di dunia ini ada dua pemerintahan, kecuali di AS ada tiga. Yang pertama adalah pemerintahan sipil, kedua pemerintah militer dan khusus di AS yang ketiga adalah invisible goverment atau pemerintahan yang tak terlihat,” kata Amir.

Pemerintahan sipil, jelasnya, kalau di Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Jokowi, dan pemerintahan militer adalah tiga TNI matra TNI, yakni TNI AD, AL dan AU dengan pimpinan puncaknya adalah Menteri Pertahanan.

“Jadi, bisa jadi latihan militer ini terselenggara berkat keinginan Menhan Prabowo,” katanya.

Amir bahkan menduga kalau bisa jadi dalam latihan militer nanti dalam barisan tentara AS akan ada satu pasukan kecil yang beranggotakan pasukan sebanyak satu peleton atau setengahnya.

“Pasukan kecil ini terdiri dari pakar combat inteligent yang bertugas melakukan mapping,” pungkasnya.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Irawan HP