Netral English Netral Mandarin
00:49wib
Putri salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates yakni Jennifer Gates, sudah resmi menikah dengan pacarnya. Ia menikah dengan pria muslim dari Mesir bernama Nayel Nassar. Tim bulu tangkis putri China menjadi juara Piala Uber 2020 setelah mengalahkan Jepang pada final yang berlangsung di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Minggu (17/10/2021) dini hari WIB.
Soal Patung dan Komunis di TNI yang Dihembuskan Gatot, PB HMI: Hentikan Isu Kejam Itu, Stop Buat Gaduh!

Kamis, 30-September-2021 08:00

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.
Foto : Istimewa
Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.
18

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) ikut menyoroti isu komunis mulai menyusupi tubuh TNI yang dihembuskan pertama kali oleh mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

PB HMI menyebut isu yang dihembuskan Gatot berdasarkan asumsi pribadi terkait pembongkaran patung Soeharto (Pangkostrad kala itu) Letnan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, dan Jenderal A.H. Nasution di Museum Dharma Bhakti Kostrad, telah menjadi polemik hingga menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.

Sementara Kepala Penerangan Kostrad Kolonel Infanteri Haryantana telah meluruskan isu negatif terkait hilangnya patung tokoh militer yang dipajang di Museum Darma Bhakti Kostrad.

Haryantana mengungkapkan bahwa pembongkaran patung dilakukan atas permintaan inisiator pembuat patung yakni Mantan Pangkostrad Letnan Jenderal (Purn) Azmyn Yusri Nasution dengan alasan ketenangan batin dan ajaran agama Islam yang dipercayainya.

Ketua Umum PB HMI, Romadhon Jasn, menyatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Kolonel Haryantana adalah benar dan sesuai fakta yang diperoleh oleh PB HMI.

"Yang dijelaskan oleh Kolonel Haryantana, benar dan sesuai dengan informasi serta fakta yang diperoleh PB HMI, bahwasanya Bapak Letjen (Purn) Azmyn Yusri Nasution sebagai penggagas dan pembuat patung Soeharto dan Jenderal- Jenderal lainnya, yang meminta ide dan buah karyanya itu untuk dibongkar dan dimusnahkan," kata Romadhon dalam keterangannya, Selasa (28/9/2021).

Romadhon menjelaskan, informasi yang PB HMI peroleh menyebut bahwa mantan Pangkostrad yang tengah fokus mendalami agama dan ajaran Islam di usia senjanya saat ini, memiliki keinginan besar untuk memusnahkan barang-barang di antaranya patung Soeharto dan Jenderal-Jenderal lainnya yang diinisiasi dan dibuatnya karena dinilai bertentangan dengan keyakinannya.

"Tekad kuat yang dilandasi agama, ajaran Islam serta bentuk nyata ketaatan beliau sebagai hamba-Nya, sudah tentu sulit dan tidak dapat ditolak oleh siapapun, termasuk Pangkostrad Letnan Jenderal Dudung Abdurachman dan jajaran Kostrad maupun TNI AD saat ini, karena hal ini menyangkut akidah seseorang," ujarnya.

Menurut Romadhon, persoalan membuat patung, tidak berhenti hanya sekedar sebagai persoalan fikih saja, tetapi berlanjut sampai pada persoalan akidah. Pasalnya, dalam Al Quran secara tegas dan dengan bahasa yang sangat jelas berbicara tentang patung.

Romadhon menambahkan, soal akidah inilah yang mungkin menggerakkan hati dan menggelorakan tekad bulat Letjen (Purn) Azmyn Yusri Nasution untuk memusnahkan patung-patung yang telah digagas atau dibuat olehnya.

Karenanya, Romadhon menilai wajar jika jajaran Kostrad saat ini mengizinkan mantan panglima mereka untuk menghancurkan patung-patung yang hanya dibuatnya di Museum Dharma Bhakti Kostrad, sebagai bentuk penghormatan sekaligus guna menenangkan jiwa serta pikiran Letjen (Purn) Azmyn Yusri Nasution di usianya yang telah senja.

"Atas informasi, fakta dan dalil-dalil agama serta ajaran Islam, Kami PB HMI meminta segelintir pihak-pihak tertentu untuk menyudahi polemik hilangnya patung ini. Hentikan segera isu kejam, TNI AD telah disusupi paham atau laten komunis," tandasnya.

Lebih jauh, Romadhon mengingatkan pihak-pihak yang menghembuskan isu komunis di tubuh TNI untuk mengedepankan tabayyun agar tidak menimbulkan prasangka buruk yang menjurus fitnah dan dapat menimbulkan kegaduhan serta perpecahan di masyarakat.

"Yuk tabayyun agar tidak menimbulkan prasangka buruk yang menjurus fitnah dan dapat menimbulkan kegaduhan bahkan perpecahan bukan hanya di tubuh TNI AD, namun umat, rakyat, bangsa dan negara yang saat ini tengah berjuang melawan dampak destruktif Covid-19," paparnya.

"Tabayyun adalah salah satu ajaran Islam yang sudah dikenalkan sejak zaman Rasulullah SAW. Dalam dunia modern seperti saat ini tabayyun bisa diartikan sebagai cek dan ricek atas sebuah kabar yang beredar," pungkas Romadhon. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli