Netral English Netral Mandarin
00:28wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Soal Penolakan Masjid At-Tabayyun, Lieus Minta Warga Tionghoa Utamakan Etika

Rabu, 01-September-2021 10:20

Aktivis Tionghoa, Lieus Sungkarisma
Foto : Istimewa
Aktivis Tionghoa, Lieus Sungkarisma
12

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Koordinator Forum Rakyat Lieus Sungkharisma meminta sekelompok warga Tionghoa di Taman Villa Meruya (TVM), Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, mengutamakan etika dan dialog dalam menyikap pembangunan Masjid At-Tabayyun di kompleks tempat tinggal mereka.

Pasalnya, penolakan itu bukan saja tidak sesuai etika warga Tionghoa, tapi juga dapat berimbas kepada warga Tionghoa lain di luar Kompleks Perumahan TVM.

“Pada tanggal 27 Agustus 2021, saat Pak Anies Baswedan (gubernur DKI Jakarta, red) melakukan ground breaking Masjid At-Tabayyun di TVM. Anies didemo sekelompok warga tersebut. Mereka membentangkan spanduk dan poster, tapi ternyata tak berhenti sampai di situ, karena melebar ke grup WhatsApp warga TVM, dan di situ muncul ejekan-ejekan terhadap umat Islam,” kata Lieus melalui siaran tertulis, Selasa (31/8/2021).

Aktivis yang juga tokoh Tionghoa yang bermukim di kawasan Glodok, Jakarta Barat, ini mengatakan sangat menyayangkan tindakan warga TVM itu, karena yang dilakukan warga tersebut bukan cuma soal bunyi pada spanduk dan poster yang dibentangkan, atau pada kata-kata bernada provokatif dan ejekan yang beredar di grup WA warga TVM, seperti kadrun, Gakbener, dan lain-lain, tapi ini sudah menyangkut etika orang Tionghoa.

Menurut Lieus, sejatinya orang Tionghoa sangat menjaga etika dalam kehidupan bermasyarakat.

“Tidak pernah ada sejarahnya orang Tionghoa di Indonesia yang menolak pembangunan rumah ibadah umat agama lain,” tegas dia.

Lieus pun mengaku heran dan tidak bisa mengerti mengapa ada sekelompok warga Tionghoa di TVM yang berunjuk rasa untuk menolak pembangunan masjid di tempat itu.

“Meski warga Tionghoa di TVM mayoritas, tidak berarti warga muslim yang minoritas tak boleh membangun rumah ibadahnya di situ. Apalagi mereka sudah mengantongi ijin dari FKUB dan dari Pemprov DK. Saya khawatir sikap warga Tionghoa itu ada yang mensponsorinya,” kata Lieus.

Seperti diketahui, Masjid At Tabayyun dibangun di area fasilitas sosial (Fasos) seluas 1.078 m2 milik Pemprov DKI di kompleks TVM. Pembangunan yang menelan biaya sekitar Rp10 miliar itu sepenuhnya dibiayai oleh warga muslim di kompleks tersebut (swadaya).

Pada 27 Agustus lalu Anies melakukan peletakan batu pertama pembangunan masjid itu, namun warga merespon dengan melakukan unjuk rasa untuk menolak pembangunan tersebut.

Warga penolak itu berdalih, mereka keberatan masjid itu dibangun karena didirikan di lahan yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau (RTH), dan gugatan mereka atas pembangunan itu belum diputus PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara) Jakarta.

Namun pada Senin (30/8/2021), Kuasa Hukum Panitia Masjid At Tabayyun dari kantor hukum Fayyadh & Partners mengatakan, putusan PTUN telah terbit dengan nomor 76/G/2021/PTUN.JKT.

Dalam putusan itu, Majelis Hakim PTUN menolak gugatan para penggugat dan menghukum mereka untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp 510 ribu.

Selain itu, Majelis Hakim PTUN juga menerima eksepsi (keberatan) tergugat, tentang objek sengketa bukan termasuk keputusan tata usaha negara, karena merupakan perbuatan hukum perdata.

Dan bukan hanya itu, pembangunan masjid yang tertunda selama 30 tahun tersebut juga telah mengantongi Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta nomor 1021/2020 tanggal 9 Oktober 2020 terkait izin pemanfaatan aset/tanah milik Pemprov DKI Jakarta.

Ada yang unik saat Anies melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid At-Tabayyun, karena usai berunjuk rasa, warga Kompleks TVM yang menolak pembangunan itu mengajak Anies foto bersama, dan Anies setuju.

Menurut Lieus, kebesaran hati Anies dalam merespon sikap para penolak pembangunan Masjid At-Tabayyun itu, sangat luar biasa.

“Terus terang, saya puji sikap Pak Anies yang terbuka dan tidak diskrimatif. Seharusnya dengan sikap Gubernur yang seperti itu, warga TVM meminta waktu untuk berdialog dengan pak Anies, bukan malah menyebarkan kata-kata Gakbener atau Kadrun di grup WA-nya,” seaal Lieus.

Ia kahawatir sikap warga Tionghoa di TVM akan berimplikasi luas terhadap warga Tionghoa yang lain, karena akan semakin menguatkan anggapan bahwa orang Tionghoa itu eksklusif, arogan, tidak toleran dan tak mau membaur.

“Anggapan seperti akan membahayakan bagi orang-orang Tionghoa di luar TVM,” tegasnya.

Lieus pun meminta warga Tionghoa di TVM untuk lebih mengutamakan dialog ketimbang mengedepankan ego pribadi. Apalagi sampai mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan dan berpotensi memicu perpecahan.

“Cara-cara seperti itu sangat tidak sehat dan tidak sesuai dengan etika orang Tionghoa,” pungkas Lieus.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Irawan HP