Netral English Netral Mandarin
22:27wib
Ahli patologi klinis Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Tonang Dwi Ardyanto menduga bahwa varian Omicron sudah masuk Indonesia. Sebanyak 10.000 buruh akan menggelar aksi unjuk rasa di tiga tempat, yakni Istana Kepresidenan, Mahkamah Konstitusi, dan Balai Kota DKI Jakarta, hari ini.
Spirit Sumpah Pemuda Jurus Jitu Tangkal Radikalisme

Kamis, 28-Oktober-2021 20:30

Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah
Foto : dpr.go.id
Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah mengatakan, Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 lalu, bisa dijadikan refleksi dan proyeksi perjalanan bangsa ke depan, termasuk bagaimana memerangi radikalisme di kalangan pemuda yang menunjukkan tren meningkat.

‘’Saat Sumpah Pemuda diikrarkan, para pendiri bangsa memperlihatkan bagaimana mereka mengedepankan semangat persatuan dan kesatuan," kata Basarah dalam keterangannya terkait peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-93, Kamis (28/10/2021).

"Mereka sepakat menanggalkan primodialisme dengan menerima serta menghargai perbedaan demi masa depan bangsa. Dalam daftar peserta kongres kita bisa lihat mereka berasal dari beragam suku dan agama, termasuk keturunan Thionghoa dan Arab ada dalam daftar,’’ sambungnya.

Bahkan, lanjut Ahmad Basarah, tempat yang digunakan sebagai lokasi deklarasi Sumpah Pemuda di Jl. Kramat Raya No. 106 yang kini dijadikan Museum Sumpah Pemuda adalah rumah milik peranakan Tionghoa, Sie Kong Liong. Ini artinya, sejak awal fondasi bangsa Indonesia dibangun di atas kebhinekaan.

‘’Mestinya pesan kebangsaan inilah yang harus diteladani terus-menerus. Generasi muda bangsa sebagai generasi penerus harus terus menjaga dan merawat pesan kebangsaan itu,’’ tegas Wakil Ketua Fraksi PDIP ini.

Basarah menambahkan, para pendiri bangsa yang saat itu rata-rata muda usia sangat cerdas melihat masa depan Indonesia. Mereka sengaja memilih Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, bukan Bahasa Jawa yang saat itu digunakan oleh mayoritas penduduk, agar suku-suku lain yang juga relatif besar seperti Sunda tidak cemburu pada suku Jawa.

‘’Bahasa Melayu saat itu juga menjadi bahasa Lingua Franca atau bahasa penghubung di antara etnis, bangsa, dan latar belakang sosial yang beragam di kepulauan nusantara. Kesamaan Lingua Franca inilah yang juga mempersatukan keragaman etnis di negeri kita yang kelak menjadi Republik Indonesia," ungkapnya.

Merujuk pada sejarah persatuan bangsa Indonesia itu, Dosen Pascasarjana Universitas Islam Malang ini mengaku prihatin menyaksikan tren pemuda yang rentan terpapar ideologi transnasional.

Resistensi terhadap nasionalisme itu, lanjut Basarah, muncul selain akibat faktor kemajuan teknologi internet yang membuat dunia jadi semakin terbuka dan global, juga disebabkan oleh minimnya pemahaman mereka pada sejarah bangsa sendiri.

‘’Akibatnya, mereka menoleh pada ideologi lain sebagai alternatif, termasuk ideologi transnasional yang mengusung konsep negara khilafah,” papar pendiri sekaligus Sekretaris Dewan Penasihat Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) itu.

Dijelaskannya, selama kurun antara tahun 2000-2020, terjadi 553 serangan teror di seluruh wilayah Indonesia. Itu berarti, rata-rata setiap bulan terjadi dua kali aksi teror dalam 20 tahun terakhir. Dari jumlah itu, banyak pelakunya tergolong masih muda.

Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Februari 2017 memperlihatkan bahwa lebih dari 52% narapidana kasus terorisme yang menghuni lembaga pemasyarakatan adalah generasi muda berusia 17-34 tahun. BNPT juga meyebut radikalisme sudah masuk ke dunia pendidikan termasuk kampus.

Ini sejalan dengan hasil survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta pada 2018. Survei tentang ‘’Sikap Keberagamaan Guru Sekolah/Madrasah di Indonesia’’ itu mendapatkan, 50,87% responden dari total 2.237 sampel guru (1.811 guru sekolah dan 426 guru madrasah) mempunyai opini radikal dan intoleran.

Karena itu, pada momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ini, Basarah mengingatkan generasi muda untuk menggelorakan spirit bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu yaitu Indonesia, sebagaimana yang diikrarkan para pemuda pada 93 tahun lalu.

“Sebelum kemerdekaan, para pemuda adalah tulang punggung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, tugas pemuda sekarang adalah mewarisi api Sumpah Pemuda, tidak menyia-nyiakan pengorbanan para pejuang dan syuhada bangsa," jelas Basarah.

"Mereka harus kokoh menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman ideologi transnasionalisme, termasuk paham khilafah,” pungkas Doktor bidang hukum lulusan Universitas Diponegoro Semarang itu.

 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wahyu Praditya P

Berita Terkait

Berita Rekomendasi