Netral English Netral Mandarin
08:36wib
Sebanyak 75,6 persen warga menyatakan puas terhadap kinerja Presiden Joko Widodo secara umum dalam survei yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto minta lakukan peningkatan kapasitas tempat tidur untuk pasien Covid-19 di rumah sakit sebesar 30-40 persen.
Sri Mulyani Sebut Pergerakan Kegiatan Ekonomi Membaik, Ini Indikatornya

Kamis, 22-April-2021 23:30

Sri Mulyani, Menteri Keuangan.
Foto : Kementerian Keuangan
Sri Mulyani, Menteri Keuangan.
19

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menjelaskan realisasi penerimaan negara dari pajak hingga akhir April mencapai Rp228,1 triliun atau 18,6 persen dari target penerimaan pajak sebesar Rp1.229,6 triliun atau turun 5,6 persen dibandingkan tahun lalu. 

Namun, hal ini terjadi karena pada triwulan I tahun 2020, belum terjadi kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini dan juga karena adanya pajak yang ditanggung Pemerintah seperti pada pasal 22, pajak final UMKM, dan PPnBM.

“Untuk bea cukai, dari target Rp215 triliun kita telah mengumpulkan Rp62,3 triliun atau sebesar 29 persen, terjadi kenaikan penerimaan bea cukai sampai 62,7 persen. Ini sesuatu yang bagus yang kita harapkan akan terjaga sampai akhir tahun dan bisa tercapai targetnya”, jelas Menkeu dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi April 2021 secara daring pada Kamis (22/04/2021).

Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan hibah sebesar Rp88,4 triliun atau 29,6 persen dari target Rp299,1 triliun, terjadi negative growth dari tahun lalu sebesar 8,4 persen.

“Ini terutama karena harga Sumber Daya Alam (SDA) yang bulan Januari sampai Maret tahun lalu dibandingkan sekarang ini masih rendah, meskipun kondisi harga-harga dari komoditas mulai pulih. Namun, dibandingkan kondisi Januari Maret tahun lalu, (tahun) ini masih lebih rendah”, ungkap Menkeu

Dari sisi penerimaan pajak, meski mengalami pertumbuhan yang turun 5,6 persen, namun secara detil menggambarkan kegiatan ekonomi yang mulai bergerak. Untuk PPh Pasal 21 masih mengalami tekanan karena perekonomian belum sepenuhnya pulih dan secara optimis akan membaik di kuartal kedua. 

PPh pasal 22 juga mengalami kontraksi yang cukup dalam dikarenakan adanya insentif yang diberikan pemerintah untuk PPh pasal 22 impor.

“Sedangkan nanti kita harapkan, dengan adanya impor yang sudah mulai meningkat, ke depan tentu akan terjadi kenaikan dari PPh 22 impor. Meskipun pajak ini masih memiliki fungsi yang juga penting, yaitu mendukung pemulihan ekonomi, sehingga kita selalu berhati-hati di dalam mengelola pemungutan pajaknya” ujar Menkeu.

Di bulan Maret 2021, penerimaan PPh Orang Pribadi mencapai 155,61 persen. Namun terjadinya lonjakan growth penerimaan pajak dari PPh Orang Pribadi di bulan Maret 2021, menurut Menkeu, tidak bisa dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 

Hal ini dikarenakan di tahun sebelumnya terjadi perpanjangan penyampaian SPT Tahunan PPh OP sampai dengan April 2020. Penerimaan PPh Badan masih mengalami kontraksi yang sangat dalam sampai di atas 40% untuk di bulan Maret 2021.

PPh Pasal 26 mengalami kenaikan dan pada PPN Dalam Negeri (DN) terjadi positive growth, meski melambat karena adanya transaksi tidak terulang serta peningkatan restitusi. Namun secara bruto, PPN DN di bulan Maret masih tumbuh positif sebesar 3,64 persen. 

Pada PPN impor juga terjadi pertumbuhan yang menandakan adanya kenaikan transaksi impor, meski tidak dibersamai dengan kenaikan PPh Pasal 22 impor dikarenakan adanya pemberian fasilitas PPh Ditanggung Pemerintah.

“Jadi ini memberikan harapan bagi kita terhadap kegiatan ekonomi yang tadi indikatornya terlihat”, tutup Menkeu.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Irawan HP