Netral English Netral Mandarin
23:50wib
BMKG menyatakan gempa yang terus berlangsung di wilayah Ambarawa Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga merupakan jenis gempa swarm dan perlu diwaspadai. Sejumlah calon penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, mengeluhkan soal aplikasi PeduliLindungi serta harga tes PCR yang dinilai mahal.
Stok Melimpah saat PPKM Picu Harga Cabai Anjlok, Ini Saran Peneliti

Rabu, 01-September-2021 12:00

Tanaman cabai.
Foto : pertanian.go.id
Tanaman cabai.
31

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Peneliti menyarankan pemerintah untuk mengembangan cold chain atau rantai dingin di sektor pertanian melalui pengaturan sistem distribusi dan penyimpanan atau stok. 

Hal itu diyakini dapat mengatasi fluktuasi harga produk pertanian di pasaran, termasuk cabai.

"Penggunaan rantai dingin dapat membantu petani dalam menjaga hasil panennya," kata Arumdriya Murwani, Peneliti Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) dalam siaran resmi di Jakarta, Rabu (1/9/2021).

Menurut Arum, permintaan akan cabai anjlok belum lama ini telah menekan harga dan merugikan petani cabai, terutama karena mereka baru saja memasuki masa panen.

Hal itu, ujar dia, sebenarnya dapat dicegah dengan mengembangkan cold chain atau rantai dingin yang dapat menjaga kestabilan suhu komoditas.

"Berkurangnya permintaan cabai sangat mungkin disebabkan oleh Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang membatasi kegiatan operasional rumah makan, restoran dan juga menurunnya daya beli," papar Arumdriya.

Sistem rantai dingin, jelasnya, adalah jenis rantai suplai yang penggunaannya bertujuan untuk menjaga suhu agar produk tetap terjaga selama proses distribusi.

Pengembangan sistem ini secara komprehensif dapat membantu menjaga kualitas hasil panen dimulai dari pengangkutan, penyimpanan dan penjualan.

Apalagi, ia mengingatkan bahwa harga cabai biasanya bersifat fluktuatif mengikuti masa panen yang umumnya terjadi enam kali dalam setahun.

"Surplus stok di pasar menyebabkan harga anjlok dan merugikan petani cabai. Sebaliknya, ketika musim tanam sudah lewat dan produksi tidak stabil, tidak ada stok yang dapat digunakan untuk menstabilkan harga cabai di pasaran. Akibatnya, harga cabai melonjak naik sehingga merugikan konsumen," paparnya.

Dengan sistem penyimpanan yang modern dan infrastruktur rantai dingin yang memadai, masa simpan cabai dapat diperpanjang dan dengan demikian dapat membantu menstabilkan harga di pasaran. Selain menjaga kesegaran, penggunaan sistem penyimpanan yang modern dapat membantu Indonesia mengurangi tingkat kehilangan makanan dalam proses distribusi pangan.

Sayangnya, ia berpendapat bahwa kapasitas sistem penyimpanan dan lemari pendingin di Indonesia belum memadai untuk menjawab kebutuhan pasar sehingga mengakibatkan masih tingginya tingkat limbah pangan, sekaligus berkontribusi kepada fluktuasi harga pangan di masyarakat.

Stok cabai yang melimpah di masa panen raya harus langsung dijual, karena kapasitas penyimpanan saat ini hanya mampu mempertahankan kesegaran cabai selama 30 hari.

“Pemerintah perlu mempertimbangkan untuk berinvestasi pada lemari pendingin yang modern untuk memperpanjang masa simpan stok cabai rawit,” jelas Arum, seperti dilansir dari Antara.

Pengembangan dan adaptasi teknologi pendingin dalam sistem distribusi Indonesia membutuhkan peran aktif dan kolaborasi dari pemerintah, swasta dan masyarakat karena pengelolaan rantai dingin membutuhkan sumber daya manusia yang memahami metode pemeliharaan infrastruktur rantai dingin dan bisa memastikan cara penyimpanan setiap komoditas sudah sesuai dengan karakteristiknya.

Harga pangan yang fluktuatif, tidak hanya pada cabai, menunjukkan faktor penyimpanan pangan masih terlupakan dalam wacana ketahanan pangan. Pemerintah, swasta dan masyarakat dapat bersinergi dalam pengembangkan infrastruktur dan teknologi lemari pendingin ini.

Sebagaimana diwartakan, Kementerian Pertanian melansir data produksi aneka cabai nasional pada Juli 2021 yang mencatatkan surplus hingga 4.439 ton, dari selisih hasil produksi sebanyak 163.293 ton dan kebutuhan masyarakat sebanyak 158.855 ton.

“Hingga Juli kita surplus 4.439 ton. Kebutuhan masyarakat terhadap aneka cabai masih dapat dipenuhi dari hasil produksi di dalam negeri,” kata Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Tommy Nugraha dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (24/8). 

Reporter : Antara
Editor : Irawan HP