Netral English Netral Mandarin
00:42wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Holding BUMN Mikro, Strategi Bisnis BRI Dorong Pasar Berekspektasi Tinggi

Rabu, 14-Juli-2021 18:00

Holding UMKM dan Ultra Mikro
Foto : Istimewa
Holding UMKM dan Ultra Mikro
19

JAKARTA, NETRALNEWS. COM - Holding BUMN Ultra Mikro (UMi) yang dipimpin oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk diproyeksikan akan menjadi pendorong penguatan harga sahamnya di market, seperti saat merger tiga bank syariah (BRIS) dan transformasi digital BRI Agro (AGRO).

Analis pasar modal sekaligus ekonom dari LBP Institute Lucky Bayu Purnomo mengatakan ada beberapa faktor yang membuat pasar selalu menaruh optimisme pada saham bank berticker BBRI tersebut.

Dia menilai BRI adalah bank yang memiliki ekosistem keuangan terintegrasi dengan core business di sektor mikro dan UMKM. Seperti diketahui, bank dengan jejaring terluas di Tanah Air itu fokus menyasar UMKM. Lucky menilai hal itu sebagai tulang punggung BRI yang memiliki fundamental cukup kuat dan solid.

Lucky pun melihat BRI dalam kurun lima tahun ke belakang cukup agresif melakukan penguatan di berbagai lini usaha. Seperti mengakuisisi Danareksa Sekuritas pada 2018. Selain itu, memperkuat lini usaha lainnya seperti BRIsyariah yang sudah tergabung dalam PT Bank Syariah Indonesia Tbk., dan BRI Agro. “Ini menjelaskan bahwa BRI telah melakukan diversifikasi usaha yang terbukti menjadi kontributor bagi induk usahanya yaitu BRI,” ujarnya.

Bahkan kata dia, saham BRIS yang merupakan bank hasil merger dari tiga bank syariah milik Himbara dan BRI Agro yang berkode AGRO, pun menunjukkan tren positif. Seperti BRIS yang diperdagangkan di kisaran harga Rp2.000 ke atas akhir-akhir ini. Dalam sebulan terakhir harga saham BRIS naik 25,3 persen. Harga itu naik tinggi dibandingkan dengan pertama kali BRIS melantai di bursa pada 2018, sahamnya diperdagangkan di kisaran harga Rp500.

Adapun saham AGRO dalam tiga bulan terakhir mencatat kenaikan 100,5 persen dan diperdagangkan di kisaran Rp1.900. Kenaikan signifikan harga saham AGRO terdorong oleh sentimen positif salah satunya dari BRI yang menyiapkan anak usahanya tersebut menjadi bank digital.

Oleh karena itu, Lucky optimistis saham BBRI akan kembali menembus Rp4.800 ke depan. Selain karena terpicu faktor-faktor tersebut, pendorong kuat kali ini adalah holding BUMN UMi yang diproyeksikan mampu mengintegrasikan dan memperkuat pemberdayaan ekosistem UMKM termasuk usaha ultra mikro di dalamnya. “Saat ini BBRI masih cenderung menguat ke angka Rp4.800,” ujarnya optimistis.

Untuk diketahui, memasuki Juli 2021 harga saham BBRI tertinggi ada di harga Rp4.000 pada perdagangan 2 Juli lalu, sedangkan harga terendah yaitu Rp3.760 pada 12 Juli lalu. Dalam kurun waktu 52 minggu terakhir harga tertinggi berada di Rp4.950 dan harga terendah di Rp2.970.

Sebelumnya, Head of Research PT Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengatakan berdasarkan perhitungan teknis, target harga untuk BBRI dengan mempertimbangkan pembentukan holding adalah Rp5.300 atau di kisaran 3,1 x PBV.

Dengan adanya rights issue, kata dia, kapitalisasi pasar BBRI berpotensi mendekati atau melebihi Rp600 triliun. Senada dengan Lucky, dia pun menyebut faktor lain yang akan memperkuat kinerja saham BBRI adalah kinerja positif dari usaha-usaha yang telah eksis. 

Sementara itu, proses pembentukan holding hampir rampung setelah Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2021 sebagai payung hukum holding UMi terbit. Beleid itu hadir sebagai bentuk perwujudan visi pemerintah meningkatkan aksesibilitas layanan keuangan segmen ultra mikro yang sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2020-2024.

Sesuai PP tersebut, holding terdiri atas tiga entitas BUMN yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI, PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Masyarakat Madani (Persero) atau PNM. Selanjutnya, akan ada pembahasan rinci dalam RUPSLB BRI pada 22 Juli 2021 mendatang.

Adapun terkait rencana rights issue, menurut Lucky aksi korporasi itu harus segera dilakukan BRI. Hal itu tak terlepas dari kapitalisasi BRI yang sudah sangat besar. “Dengan kapitalisasi sekelas BRI itu, rights issue adalah jalan untuk menambah saham beredar dan menambah likuiditas,” ujarnya.

Kinerja Positif 3 BUMN

Memang tak keliru menakar kemungkinan harga saham BBRI yang akan positif setelah holding jika dikaitkan dengan kinerja fundamental ketiga perseroan. Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, kemampuan ekspansi dan penjagaan kualitas pembiayaan oleh setiap anggota holding telah terbukti pada masa pandemi Covid-19 ini.

"Dengan kemampuan-kemampuan ekspansi dan penjagaan kualitas pembiayaan, holding ini akan menjadi institusi besar yang juga berdaya saing global," ujar Trioksa dalam kesempatan terpisah.

Dia menyebutkan integrasi ekosistem ini akan membuat ekspansi usaha semakin kuat, sehingga mendorong lebih banyak investor untuk berkontribusi pada pengembangan ultra mikro secara langsung maupun melalui holding BUMN UMi.

Lagi pula, ketiga institusi ini dinilai sudah mampu mencari pendanaan dengan penerbitan surat utang.  Bahkan, BRI sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia mampu menerbitkan global bond dan sustainability bond yang investornya berasal dari luar negeri.

Trioksa menambahkan integrasi ini pun akan meningkatkan daya saing setiap institusi. "Pasalnya, penggunaan teknologi informasi dan penggunaan big data akan semakin intensif membantu baik pelaku ultra mikro maupun holdingnya sendiri," imbuhnya.

Reporter : PD Djuarno
Editor : Irawan HP