Netral English Netral Mandarin
08:56wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Rights Issue Bank BUMN Ini Diklaim Jadi Magnet Market Domestik Bergairah

Rabu, 29-September-2021 22:20

Ilustrasi bank
Foto : Istimewa
Ilustrasi bank
9

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Suksesnya proses rights issue  PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., dalam rangka pembentukan Holding Ultra Mikro dinilai akan menjadi pendorong bergairahnya pasar modal dalam negeri di tengah sentimen negatif dari luar negeri.

Hal itu diungkapkan pengamat pasar modal yang juga Founder Indonesia Superstocks Community Edhi Pranasidhi. Dia mencontohkan, pasar modal Amerika Serikat atau Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Selasa (28/9) waktu setempat, atau Rabu (29/9) pagi (WIB), yang menimbulkan potensi masuknya aliran dana asing ke pasar modal Indonesia.

Keberhasilan rights issue bank Himbara tersebut menjadi faktor penarik. Sebabnya, aksi korporasi tersebut menjadi yang terbesar di Kawasan Asia Tenggara dan ketiga terbesar di Asia.

Terlebih, kata dia, investor yang melakukan subscribe saat rights issue BRI bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga pialang asing. Sehingga ini menandakan iklim yang lebih positif di pasar modal Indonesia untuk menarik minat pemodal asing masuk.

“Wall Street jatuh karena harga bonds 10 tahun turun. Maka aset berisiko tinggi seperti saham jadinya gak begitu menarik. Di sisi lain, kenaikan yield bonds mengindikasikan investor menjual bonds untuk mengantisipasi berkurangnya likuiditas USD akibat The Fed berpotensi memulai tapering di November. Kemana larinya hasil uang penjualan bonds di AS? Pasti para investor di AS gak akan mau uangnya diam karena akan tergerus inflasi. Mereka akan mencari return yang lebih besar ke emerging market,” ujarnya menegaskan.

Sebagai gambaran terkait pasar modal Amerika Serikat, indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 569,38 poin atau 1,63%, menetap di 34.299,99 poin. Indeks S&P 500 berkurang 90,48 poin atau 2,04%, berakhir di 4.352,63 poin. Indeks Komposit Nasdaq anjlok 423,29 poin atau 2,83?n ditutup pada 14.546,68 poin. Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 pun berakhir di zona merah.

Bursa saham Asia Pasifik pun jatuh pada perdagangan Rabu pagi karena terdampak bursa AS tersebut. Di Jepang, Nikkei 225 tergelincir 1,83% di awal perdagangan, sementara indeks Topix melemah 1,91%. Kospi Korea Selatan turun 1,77%. S&P/ASX 200 di Australia turun 0,32% Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang pun turun 0,32%.Analisa Edhi diamini oleh analis pasar modal yang juga Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan. Menurutnya saat ini investor institusi memiliki rencana aksi beli yang cukup besar. Sebabnya, BRI termasuk dalam bank milik pemerintah yang memiliki performa dan potensi cukup baik dengan pengelolaan risiko yang masih terjaga.

Dia pun menyebut saham BBRI akan mendorong sentimen yang positif dalam memacu potensi berlanjutnya aksi beli dari asing khususnya pada kuartal keempat tahun ini. Terlebih BRI memiliki konsistensi performa kinerja sangat solid sepanjang kuartal ketiga tahun ini.

"Sentimen saham Bank BUMN khususnya BBRI ke depan akan positif seiring dengan peningkatan aksi beli investor institusi di kuartal IV. Untuk target price BBRI di posisi Rp4.200 dengan price to book value 2,6 kali lipat," tuturnya.

Lebih rinci Alfred menyebut pergerakan saham BBRI secara tidak langsung dikendalikan oleh momentum rights issue, dengan harga relatif murah yakni Rp3.400. Dia pun menggaris bawahi potensi kinerja Holding Ultra Mikro (UMi) yang didanai rights issue tersebut ke depan akan sangat kuat dalam mendongkrak saham BBRI.

Alfred pun mengacu pada kinerja PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM dan PT Pegadaian (Persero) sebagai anggota Holding UMi yang juga tak kalah positif dari BRI. Dia menegaskan, pada tahun lalu laba kedua perseroan itu mencapai sekitar 12%-13?ri laba BRI pada tahun buku 2020.

Artinya, ke depan keuntungan usaha yang dihasilkan PNM dan Pegadaian akan cukup signifikan mendongkrak perolehan laba BRI sebagai induk holding. Faktor fundamental tersebut tentunya akan menjadi pertimbangan positif investor di pasar modal dalam mengapresiasi saham BBRI ke depan.

"Dengan ekspektasi keberhasilan sinergi maka kontribusi akan semakin meningkat dan mendorong pertumbuhan BRI ke depan. Pasca realisasi Holding UMi kami menargetkan valuasi BBRI berada di level 2,8 hingga 3,0 kali PBV," ujarnya.

Kepercayaan Investor LuarPada pembukaan pasar modal pada Rabu (29/9), Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi mengatakan rights issue BRI merupakan gambaran kepercayaan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Antusiasme yang sangat tinggi dari para investor baik asing maupun lokal (saat rights issue BRI) merupakan bukti bahwa dunia luar masih percaya akan prospek ekonomi Indonesia saat ini dan di masa depan,” katanya menegaskan.

Aksi korporasi itu menurutnya mencatatkan sejarah baru dalam pasar modal Indonesia. Dengan jumlah HMETD yang telah di-exercise mencapai 28,2 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp96 triliun. Dia mengamini Edhi bahwa rights issue yang dilakukan BRI tercatat sebagai yang terbesar di Indonesia, tertinggi di kawasan Asia Tenggara serta menduduki peringkat 3 tertinggi di Asia.

Bahkan masuk 7 besar di seluruh dunia sejak 2009. Hal itu menurutnya suatu pencapaian yang sangat membanggakan terutama di tengah kondisi ekonomi yang menantang akibat pandemi Covid-19. Kesuksesan rights issue, lanjut dia, tentunya berkat upaya dan kerja keras manajemen BRI dalam menjaga kinerja dan fundamental perusahaan.

“Sampai saat ini, sejak Februari 2005 BBRI juga masuk LQ45, BBRI juga termasuk perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia serta menjadi saham yang paling aktif ditransaksikan berdasarkan nilai. Dengan adanya rights issue ini dan potensi bisnis yang besar karena terdorong Holding BUMN Ultra MIkro, saham BBRI tentu akan bertambah menarik dan meningkatkan optimisme investor untuk terus mengapresiasi saham BBRI,” ujarnya optimistis.

Dia pun berharap dengan dana yang dihimpun perseroan dapat lebih mengembangkan ekosistem ultra mikro nasional untuk mengakselerasi ekonomi kerakyatan demi mencapai kesejahteraan bersama.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan rights issue untuk pembentukan Holding Ultra Mikro ini mengalami oversubscribe 1,53%. Pihaknya menjanjikan kepada pemegang saham bahwa melalui Holding UMi akan memberikan kepastian sumber pertumbuhan baru yang sustain di masa kini dan juga masa depan.

“Sehingga bagi publik, pasti akan menikmati peningkatan, seluruh proses peningkatan economic value yang dibentuk oleh ekosistem ini,” ujarnya menjelaskan.

Karena itu Sunarso berterimakasih kepada para investor yang mempercayai BBRI sebagai tempat untuk menumbuh kembangkan investasinya. Hal ini, lanjut dia, akan menggairahkan situasi yang penuh tantangan di tengah pandemi Covid-19. “Kita rasanya seperti kaya dapat angin segar, udara segar kemudian untuk tetap optimis bahwa ekonomi kita akan bisa bangkit dan dipercaya pula oleh investor baik domestik maupun global. Kami komit untuk memenuhi aspirasi ini,” tutupnya.

Reporter : PD Djuarno
Editor : Sulha Handayani