Netral English Netral Mandarin
05:43wib
Kontak tembak antara TNI-Polri dan kelompok kriminal bersenjata (KKB) kembali terjadi di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Minggu (26/9/2021). Tahun ini peringatan World Lung Day atau Hari Paru Sedunia dirayakan dengan tema 'Care for Your Lungs'.
Sumur Angker hingga Kerajaan Hantu di Batang Tergusur, Bakal ke Mana Mereka?

Senin, 21-Juni-2021 17:22

Ilustrasi sumur angker tempat pembuangan mayat
Foto : Merdeka.com
Ilustrasi sumur angker tempat pembuangan mayat
22

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tak bisa dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia meyakini tentang adanya banyak lokasi yang dipercaya angker, tempat keberadaan jin, setan, bahkan semacam istana hantu. 

Ada banyak alasan mengapa ada kepercayaan demikian. Biasanya ada erat kaitannya dengan sejarah masa lalu.

Ambil salah satu misalnya kisah keangkeran Alas Roban yang selalu menjadi buah bibir mayarakat Jawa. 

Seperti kita ketahui, Alas Roban adalah salah satu jalur tanjakan yang cukup curam di Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. 

Lokasi ini merupakan bagian Jalur Pantura yang menghubungakan Kabupaten Batang dan Kota Semarang. 

Kondisi jalan yang curam, berkelok, dan sangat padat seringkali menyebabkan kecelakaan yang memakan korban jiwa. Tak hanya itu, jalur ini dipercaya sebagai lokasi kerajaan hantu.

Dalam cerita masyarakat setempat, Alas Roban adalah wilayah hutan belantara yang kemudian dibabat untuk dibangun jalan raya pada masa penjajahan kolonial Belanda. 

Dahulu, Jalur Alas Roban hanya memiliki satu jalan yakni Jalan Raya Poncowati yang diabngun oleh Gubernur Jendral Willem Daendels pada era kolonialisme Belanda tahun 1808-1811. 

Jalan yang cukup berbahaya karena rawan kecelakaan dan tindak kriminal. Namun kini telah dibangun jalan baru sebagai alternatif dari arah menuju Semarang dan sebaliknya menuju Jakart

Jalur Alas Roban dikenal sebagai salah satu jalur tengkorak di Jawa Tengah yang menyimpan berbagai kisah mistis tak masuk akal.

Jauh sebelum adanya jalan raya, Alas Roban telah dikeramatkan oleh masyarakat setempat karena dianggap sebagai kediaman berbagai makhluk gaib. 

Hingga kini kawasan Jalur Alas Roban masih berupa hutan lebat dengan aura mistis yang akan membuat siapapun merinding saat melewatinya.

Terdapat sebuah sumur tua di kawasan Jalur Alas Roban yang dahulu menjadi tempat pembuangan mayat-mayat korban dari Penembak Misterius (Petrus) pada sekitar tahun 1980an.

Rakyat yang membangkang dan menolak tunduk pada pemerintahan Orde Baru akan ditembak, mayatnya dibuang jauh ke sebuah sumur tua di Alas Roban.

Berbagai pengalaman mistis pernah dialami oleh sejumlah pengendara yang melewati Jalur Alas Roban mulai dari warung pecel lele hantu, pengendara motor tanpa kepala, dan bus hantu.

Berbagai penampakan kuntilanak, genderuwo, hingga pocong juga kerap kali menampakkan diri dan meneror pengendara yang melintasi Jalur Alas Roban.

Dalam salah satu kisah tersebut, tergambar jelas bahwa keangkeran Alas Roban tak bisa dilepas dari konteks “pesan” sejarah yang pernah terjadi di masa lalu namun dibumbui berbagai pandangan masyarakat.

Nah, pertanyaan lain terlepas dari keberadaan Alas Roban, bagaimana bila daerah-daerah atau lokasi angker kemudian digusur oleh pembangunan manusia?

Ambil misalnya lokasi-lokasi angker di Kota Tuban diubah menjadi pabrik. Dipastikan “kerajaan hantu” akal bisa dikalahkan manusia dan lokasi angker akan berubah menjadi pabrik dengan manusia hilir mudik. 

Apakah para hantu akan pergi? Apakah para makhluk gaib marah, tetap tinggal di lokasi itu dan membalas dendam? Kalau pergi, kemana mereka? Atau apakah kalau digusur, istana mereka hancur dan mereka punah atau semacam “mati”?

Bicara mengenai penggusuran istana hantu di wilayah Kabupaten Batang, sebenarnya bukan mengada-ada. 

Kawasan Industri di Batang, Jawa Tengah direncanakan akan menjadi tempat penampung perusahaan-perusahaan yang hendak merelokasi pabriknya. Batang sendiri jadi alternatif yang ditawarkan pemerintah setelah Kawasan Industri Brebes. 

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat sejauh ini ada tujuh perusahaan asing yang berkomitmen merelokasi usahanya ke Indonesia. 

Perusahaan tersebut berasal dari Amerika Serikat (AS), Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan. Pemerintah telah menawarkan Batang sebagai salah satu kawasan industri untuk relokasi pabrik. 

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, mengatakan Kawasan Industri Batang menawarkan beberapa keunggulan, seperti upah buruh yang relatif rendah, akses ke jalan tol hanya 500 meter, dekat dengan pelabuhan, dan dilintasi jalur kereta api. 

"Pemerintah menyiapkan kawasan industri dengan harga tanah yang sangat kompetitif. Harga tanah di kawasan industri Batang hanya Rp 1 juta per meter," kata Bahlil dilansir dari Harian Kompas, Jumat (10/7/2020) silam. 

Kepada investor asing yang berminat masuk ke Batang, pemerintah menawarkan lahan seluas 450 hektare dari 4.300 hektare milik PTPN IX yang diperuntukkan untuk kawasan industri. Ada beberapa daya tarik infrastruktur di Jawa Tengah yang membuat Batang dilirik perusahaan penanaman modal asing (PMA).

Para investor yang akan memasuki kawasan industri Batang, Jawa Tengah akan mendapatkan 'karpet merah'. Ada sejumlah skema yang disiapkan pemerintah dalam menguatkan daya tawar, di antaranya memberi fasilitas lahan gratis ketika para investor dari luar negeri itu pertama kali masuk ke Indonesia.

"Iya, jadi sistemnya agak berbeda. Biasanya kita jual beli, kemarin-kemarin dibicarakan, apa mereka sewa, apa itu jadi justru insentif. Sehingga seperti mereka masuk dulu sekian tahun Anda free, setelah sekian tahun Anda baru membayar. Jadi sebenarnya ini akan jadi insentif yang cepat. karena kita nggak akan bicarakan harga tanah kalau posisi seperti ini," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kepada CNBC Indonesia, Jumat (3/7/2020) silam.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto