Netral English Netral Mandarin
19:44wib
Ebrahim Raisi dinyatakan sebagai presiden terpilih Iran setelah penghitungan suara pada Sabtu (19/6/2021). Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito terkonfirmasi positif Covid-19 menyusul aktivitasnya yang padat dalam dua pekan terakhir ini.
Tak Hanya Hipospadia, Ini Berbagai Kelainan Alat Kelamin yang Bisa Terjadi Pada Anak Lelaki

Jumat, 04-Juni-2021 17:40

Hipospadia jadi perhatian publik setelah merebaknya kasus dialami oleh Anggota TNI Aprilio Perkasa Manganang yang dulunya bernama Aprilia Manganang..
Foto : tniad.mil.id
Hipospadia jadi perhatian publik setelah merebaknya kasus dialami oleh Anggota TNI Aprilio Perkasa Manganang yang dulunya bernama Aprilia Manganang..
5

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Istilah kelainan alat kelamin hipospadia menjadi perhatian publik setelah merebaknya kasus yang dialami oleh Anggota TNI Aprilio Perkasa Manganang. Aprilio sebelumnya dikenal sebagai Atlet Voli Wanita bernama Aprilia Santini Manganang hingga diketahui alami gangguan alat kelamin hingga diduga anak perempuan saat dilahirkan. 

Tapi tahukah Anda, bahwa kelainan alat kelamin pada anak laki-laki ternyata tidak hanya hipospadia saja?

Dokter Spesialis Urologi Siloam Hospitals ASRI Dr dr Irfan Wahyudi, Sp U (K) menjelaskan, kelainan genital atau alat kelamin pada anak laki-laki umumnya terbagi menjadi dua jenis, yaitu kelainan pada penis dan buah zakar. 

Untuk kelainan pada penis, variasi kelainannya meliputi kulit penis menutupi lubang kencing (fimosis), ukuran penis kecil (mikropenis), penis tidak muncul (buried penis), serta lubang penis tidak pada tempatnya (hipospadia). Sedangkan kelainan pada buah zakar kasusnya seperti buah zakar yang tidak turun dan retraktil testis. 

“Kasus kulit penis menutupi lubang kencing atau fimosis pada bayi laki-laki yang baru lahir masih dianggap sebagai kasus normal sampai usia anak 3 tahun. Seiring perkembangan usia, pada 90 persen anak laki-laki dengan fimosis, lubang kencing tersebut akan terbuka dan terlihat," jelas dia dalam Virtual Media Briefing, Jumat (4/6/2021).

Menurut Dokter Irfan, orang tua tidak perlu terlalu khawatir, tetapi terus melakukan pemeriksaan genital anak. Namun jika pada fase tersebut timbul infeksi, sulit kencing, sampai membentuk balon gelembung saat anak buang air kecil, orang tua harus segera membawa anaknya ke dokter. 

"Pengobatannya dengan cara memaparkan lubang kencing dari penempelan kulit penis dan memberikan salep. Jika upaya ini tidak efektif, perlu 

dilakukan sunat," kata dia.

Kasus berikutnya penis yang tenggelam (buried penis). Kasus tersebut biasanya diamati pada lapisan lemak perut bawah yang agak tebal, dekat kelamin. 

Pada kasus itu, penis tertarik masuk ke dalam perut. Orang tua biasanya menduga penis anaknya kecil, padahal sebenarnya tenggelam atau tertarik oleh jaringan di bawah kulit. 

Pengobatannya bisa dengan sunat, tetapi berbeda dengan sunat pada umumnya, karena memerlukan teknik rekonstruksi khusus dengan cara membebaskan bagian yang menarik penis agar lepas. 

Kasus lainnya adalah lubang kencing tidak berada di ujung penis (hipospadia), bisa sedikit di bawah ujung dari glans penis, di batang penis atau di daerah kantung zakar (skrotum).

"Adapun kelainan genital pada buah zakar ada dua jenis. Pertama, testisnya tidak turun (undescensus testis atau kriptorkismus)," kata dia.

Sejak dalam kandungan, testis berada di dalam perut. Seiring perjalanan waktu, testis akan turun ke dalam kantong menjelang minggu-minggu kelahiran. Jika prosesnya terganggu, testis akan tertahan di posisi yang tidak seharusnya. Kantong zakar kanan dan kiri berbeda kerena satu terisi dan satunya kosong. 

Sementara itu, pada retraktil testis, testis dapat naik turun, kadang berada di dalam kantong zakar, kadang naik.

"Kondisi itu biasanya membaik dengan sendirinya. Meski begitu, volume dan ukuran testis perlu dipantau setahun sekali. Dengan bertambahnya usia, diharapkan volume testis juga bertambah," jelas dia.

Pernyataan ini disampaikan, pasalnya kelainan genital pada anak merupakan sesuatu yang mudah dilihat, diraba, dan diobservasi dengan kedua mata. Orang tua mempunyai peran penting untuk ikut mengenali kelainan genitalia anaknya, khususnya di awal dua tahun pertama kehidupan saat mereka membantu memandikan, mengganti popok hingga mengajari toilet training. 

Meskipun kasus seperti itu lebih banyak terjadi pada anak laki- laki, tidak tertutup kemungkinan anak perempuan pun bisa mengalaminya. 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan HP