Netral English Netral Mandarin
01:32wib
Pemerintah Indonesia kritik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang luput menyoroti kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di negara-negara maju. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin pada Sabtu (25/9/2021) dini hari.
Tak Kalah dengan Jepang, Tapanuli Utara Memiliki Betapature

Jumat, 20-Agustus-2021 10:22

Pendiri Bisukma Erikson Sianipar bersama anggota Teras Café
Foto : Dok. Bisukma
Pendiri Bisukma Erikson Sianipar bersama anggota Teras Café
29

TARUTUNG, NETRALNEWS.COM – Di tahun 1963, Bung Karno jauh-jauh hari telah mengingatkan bahwa untuk menjadi bangsa maju dan berdaulat mutlak harus memiliki tiga hal yakni berdikari politik, berdikari ekonomi, dan berkebudayaan. 

Mari kita mengupas wasiat (Trisakti) Bung Karno yang ketiga yakni soal “berbudaya”. Sebenarnya bagaimana dan dari mana budaya bangsa yang unggul harus dimulai?

Antropolog Amerika abad ke-20, Ralph Linton dalam bukunya The Cultural Background of Personality mendefinisikan budaya sebagai susunan perilaku yang dipelajari dan hasil perilaku yang elemen komponennya dibagi dan ditularkan oleh anggota masyarakat tertentu.

Dalam hal ini, ada cara menarik yang dilakukan oleh masyarakat di Jepang dalam mewariskan budaya dari generasi tua ke generasi muda. Caranya ternyata cukup “sederhana”.

Budaya pertama yang ditanam kuat-kuat di sana adalah shitsuke atau disiplin sejak dini. Budaya ini dimulai dari lembaga primer yakni keluarga. 

(Erikson Sianipar wariskan Budaya Disiplin Operasi Warrior ( DOW) di PT. Telkom Akses dengan 20.000 pegawai, Dok. Bisukma

Istilah shitsuke berarti perilaku yang wajib ditunjukkan oleh orang dewasa terhadap anak anak. Orang Jepang sadar bahwa orangtua adalah cermin bagi anak. Jika ayah-ibunya disiplin, maka anak pasti akan disiplin. 

Pola ini bergerak serempak dan mendarah daging sehingga nilai disiplin menjadi indikator minimal yang harus dikuasai anak untuk bisa menjadi orang Jepang. 

Saat anak-anak berada di tengah masyarakat, pembiasaan di keluarganya sudah bisa dipetik hasilnya. Mereka tertib antre tiket transportasi tanpa ada yang menyerobot. Ada larangan buang sampah dipatuhi. Melanggar aturan adalah hal memalukan. 

(Bangun Budaya Birawa Sakti saat di PT.TELKOM Landmark Tower, Erikson memberikan reward kepada security yang melaksanakan budaya dengan sungguh-sungguh, Dok Bisukma)

 

Masih ada dua contoh menarik berikut. Anak-anak di Jepang sudah wajib makan sendiri sejak usia 1 tahun. Orangtua melatihnya dengan memberikan makanan dalam porsi yang kecil.

Nasi dan lauk pauk dibuat bola-bola kecil yang bisa digenggam oleh tangan bayi. Sengaja disediakan peralatan makan yang lucu untuk mengunggah kesadaran belajar makan sendiri. 

Contoh kedua adalah saat orangtua mendampingi belajar, tak ada orangtua yang memegang dan bermain telepon genggam. Orangtua fokus menemani, mendampingi, dan langsung merespons apa yang dibutuhkan anak.

Perhatian yang memenuhi apa yang dibutuhkan anak menghasilkan perilaku yang tak pernah berteriak-teriak saat anak berkomunikasi dengan orangtuanya, apalagi membentak. 

Ketika disiplin sudah menjadi watak, penetrasi nilai budaya berikutnya mulai di lingkup sekolah, masyarakat, hingga dunia kerja, di mana harus mampu menyerap pengetahuan dan keterampilan sesuai kebutuhan zaman. Ternyata semua itu bisa menjadi relatif mudah. Generasi muda Jepang pun menjadi SDM unggul. 

Betapature Tapanuli Utara

BISUKMA, yayasan sosial yang berdiri sejak 2009, dalam upaya memberi dukungan untuk kemajuan Tapanuli Utara melalui berbagai kegiatan mengembangkan budaya yang dinamakan “Betapature”.

Dalam Bahasa Batak, “beta” berarti “mari” (mengajak). Kemudian “pature” berarti “membenahi”. Lalu apa yang perlu dibenahi?

“Mari kita benahi pature diri yakni membenahi diri sendiri, pature keluarga, yakni membenahi keluarga, dan pature huta, yakni membenahi kampung halaman kita,” tutur pendiri Bisukma, Erikson Sianipar, kepada Netralnews, Rabu (18/8/2021). 

 

Bila orang Jepang memiliki shitsuke yang ditanamkan sejak dini, maka orang Batak sejatinya juga memiliki pedoman yang tak kalah dibandingkan mereka, yakni “Betapature.”

“Memang, mengubah apapun di sekitar kita, harus dimulai dari mengubah diri kita sendiri. Sama seperti orangtua di Jepang yang sejak awal mengubah diri agar bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Bukankah ini juga merupakan prinsip dasar leadership?” kata Erikson Sianipar.

Hendak menggunakan istilah apapun dan di mana pun, entah di keluarga, masyarakat, lembaga politik, maupun di perusahaan, leadership dalam pandangan Erikson adalah menunjuk pada kepemimpinan yang mampu menjadi role model atau teladan. Dengan keteladanannya itulah, nilai-nilai bisa ditularkan kepada orang lain dan masyarakat. 

Masyarakat Tapanuli Utara yang mayoritas kristiani, kiranya juga tak asing dengan nasihat Bunda Teresa. Ia berpesan bahwa perubahan besar harus dimulai dari diri dan keluarga kita sendiri.

“Seperti nasihat Bunda Teresa, jika Anda ingin mengubah dunia, pulanglah dan cintai keluarga Anda,” kata Erikson Sianipar.

“Jadi, pature keluarga, kita bisa meneladani model Jepang menerapkan shitsuke juga memegang prinsip Bunda Teresa. Lalu bagaimana dengan pature huta? Ingatlah prinsip bona pasogit,” lanjut Erikson Sianipar.

Orang Batak juga memiliki filosofi  tentang bona pasogit. Dalam Bahasa Batak, istilah ini mengajak setiap generasi Suku Batak untuk mengingat asal usulnya, yakni “kampung halaman”.

Suku Batak lahir dari tanah Batak yang berada di Sumatera, tepatnya Sumatera Utara. Tak hanya itu saja, bona pasogit adalah identitas diri pribadi yang memberikan informasi dari mana ia berasal, siapa ia, serta mengapa ia kemudian merantau ke seluruh dunia.

(Erikson Sianipar mengajak kita ingat pature huta, Dok. Bisukma)

 

Orang Batak wajib bangga memiliki bona pasogit. Dalam konteks semangat itu pula, orang Batak wajib membangun dan memajukan peradaban masyarakat Batak di kampung halamannya.

“Tapi perlu diingat, pature huta tidak berhenti hanya pada sadar peduli membangun diri sendiri, keluarga, dan kampung halamannya sendiri. Dalam Betapature juga terkandung ajakan bahu-membahu membangun kampung lain. Bila kampung sendiri sudah bagus maka kita juga wajib terpanggil untuk membantu membangun kampung orang lain. Spirit bahu membahu atau gotong royong tak boleh dilalaikan,” kata Erikson mengingatkan.

“Pentingnya gotong royong harus digarisbawahi. Seperti pesan mendiang Bung Karno, gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama,” tandas Erikson.  

Batapature sebagai Modal Perubahan

Tapanuli Utara memiliki segudang potensi ekonomi mulai dari bidang pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, hingga pariwisata. Jika diolah secara maksimal, dipastikan akan mampu memberikan kemakmuran bagi masyarakat Tapanuli Utara. 

Di hadapan pimpinan dan anggota DPRD, dalam rapat paripurna di Gedung DPRD Taput di Tarutung, Rabu (8/5/2019), Bupati Tapanuli Utara (Taput) Nikson Nababan bersama Wakil Bupati Taput Sarlandy Hutabarat menyampaikan visi misi Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2019-2024. 

Bupati Nikson menyebutkan bahwa visi pemerintahannya adalah menjadikan Tapanuli Utara sebagai lumbung sumber daya manusia yang berkualitas dan Tapanuli Utara sebagai lumbung pangan serta daerah tujuan wisata.

Untuk mencapai visi tersebut, ia telah menetapkan delapan misi, di antaranya meningkatkan ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani melalui perlindungan petani dan lahan pertanian berkelanjutan, pengembangan komoditi dan produk unggulan daerah berbasis pertanian dan sumber daya lokal.

Meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan kesehatan, meningkatkan kualitas dan daya saing SDM melalui pelatihan tenaga kerja, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dan pengembangan jiwa kewurausahaan, meningkatkan destinasi wisata melalui pengembangan kawasan wisata alam dan budaya, rohani dan agrowisata. 

Selanjutnya, meningkatkan kualitas infrastuktur yang terintegrasi dengan mengacu pada penataan ruang/wilayah perlindungan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup.

Kemudian, meningkatkan kapasitas desa menuju desa mandiri. Terakhir, meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan sistem e-Government.

(Bisukma menanamkan semangat bangga menjadi petani, Dok Bisukma

 

Semua visi dan misi tersebut harus dimulai dengan strategi konkret, jitu, real dapat dijalankan, serta real bisa diterapkan di tengah masyarakat Tapanuli Utara. 

Meskipun Tapanuli Utara  memiliki banyak potensi kuliner yang mampu memperkuat sektor pariwisata, namun jika masyarakat Tarutung tidak memiliki budaya disiplin kebersihan maka kuliner Tapanuli Utara tetap tidak akan membuat wisatawan rindu datang kembali. 

Meski Tarutung dikenal sebagai wisata rohani dengan Lembah Silindung dan Salib Kasih-nya, tetapi rendah hospitality (pelayanan) bahkan kejahatan konvensional seperti pencurian bermotor, penipuan, penggelapan, penganiayaan, dan tindak kekerasan lain masih terjadi, maka wisatawan akan takut datang ke Tapanuli Utara. 

Maka, membentuk budaya masyarakat Tapanuli Utara yang selaras untuk menopang visi-misi merupakan strategi yang ditawarkan oleh Bisukma. 

Membudayakan Betapature

Kita harus mengakui bahwa hal pokok yang membedakan suatu daerah dengan daerah lain adalah kualitas sumber daya manusia atau SDM-nya. Sementara yang membedakan SDM satu dengan SDM lainnya adalah budayanya.

Pemahaman dasar ini harus dimiliki oleh setiap pemimpin daerah agar lebih menjaminkan keberhasilan dalam pengelolaan orginasasi di wilayah teritorinya, khsususnya dalam membangun SDM unggul. 

Dengan terciptanya SDM berbudaya unggul, memiliki disiplin, pengetahuan, dan keterampilan tentunya akan mudah diserap dunia industri karena keandalannya. Dengan adanya SDM unggul juga dipastikan akan lahir banyak wirausahawan baru (menjadi pengusaha).

Sementara era global, memungkinkan SDM dari Jepang maupun negara maju lainnya, masuk di tengah-tengah masyarakat Indonesia termasuk dalam dunia kerja di Tapanuli Utara.

(Ilustrasi Generasi muda Tapanuli Utara berkembang bersama di Teras Café, Dok Bisukma)

 

Seperti pisau bermata dua, kondisi ini bisa berdampak baik, namun juga bisa berarti menjadi ancaman terpinggirkannya SDM di Tapanuli Utara. 

Singkat cerita, untuk mampu bersaing dengan SDM mancanegara, maka generasi muda Tapanuli Utara juga harus mampu menjadi SDM berbudaya unggul.

“Ada berbagai program dilakukan Bisukma dalam rangka mencetak generasi muda berbudaya unggul baik dari segi karakter, pengetahuan, maupun dari sisi skill. Ada sejumlah  program literasi untuk penguatan pengetahuan, ada pelatihan di bidang pertanian. Berbagi pengetahuan kepemimpinan (Era Digital) dan entrepreneur kepada 7.000 masyarakat Tapanuli Utara, peningkatan literasi digital kepada sejumlah ibu rumah tangga, berbagi dengan siswa/siswi sekolah lanjutan, program ‘Bangga menjadi Petani' untuk generasi milenial, bimbingan teknis kepada kelompok tani,  hingga penguatan budaya Betapature melalui program Teras Café,” kata Erikson Sianipar. 

Positioning Teras Café adalah menjadi rumah inspirasi bagi warga Tapanuli Utara. Teras Café tidak didesain menjadi tempat dengan hiruk pikuk musik dan suara hingar bingar. 

Teras Café menjadi tempat ngobrol-ngobrol untuk menjaga keakraban keluarga, merayakan hari-hari penting keluarga misalnya ulang tahun, wedding anniversary, meeting point, webinar, arisan, pameran produk, pelatihan, dan aktifitas produktif lain. Teras Café juga menyediakan akses internet kecepatan tinggi hingga 100 mbps, yang membuat siswa, mahasiswa, dan pengunjung nyaman dalam belajar dan atau bekerja secara daring atau virtual. 

Topik-topik menarik menjadi pokok bahasan di Teras Café mulai dari isu Bisukma bangga menjadi petani, digital marketing, kearifan lokal berkelas internasional, seni dan budaya mendunia, teknologi minded, hingga soal membangun hospitality di industri pariwisata.

“Orang Batak memliki kemampuan menjadikan para tamu, para wisatawan yang datang ke Tapanuli Utara laksana raja. Dalam hal ini, pembinaan tingkos pangurupion (mutu pelayanan) di sektor pariwisata menjadi salah satu prioritas,” terang pendiri Bisukma, Erikson Sianipar. 

(Bisukma menanamkan nilai kerja sama di Teras Café, Dok. Bisukma)

 

Melalui Teras Café, Bisukma memperkenalkan budaya Betapature, yakni: “BErsih, TAnggung jawab, Peduli, Adaptif, Taat, Usaha, REla”. 

Bersih bisa meliputi pikiran yang bersih (positif), kebersihan fisik /diri, lingkungan, peralatan, jalankan prokes. Tanggung jawab berarti menjalankan tugas dengan disiplin tinggi, profesional, mandiri dan tuntas. Peduli kepada tamu, rekan kerja dan manajemen perusahaan. Adaptif artinya lincah beradaptasi dengan segala tuntutan perubahan permintaan pelanggan, teknologi, kebijakan pemerintah, dan pemiliki perusahaan. Taat dalam menjalankan nilai-nilai spritual sesuai yang diajarkan agama masing-masing, peraturan perusahaan dan disiplin melaksanakan standar layanan operasi (SOP) yang ditetapkan . Usaha agar terus dapat meningkatkan kinerja perusahaan melalui belajar terus menerus, memberi layanan prima, berkreasi dan berinovasi, serta Rela mengalokasikan waktu, pikiran dan tenaga saat kapanpun dibutuhkan untuk kepentingan perusahaan,” terang Erikson.

“Di Teras Café, crew  yang saat awal masuk berpenampilan tidak rapi, kurang bersih, suka terlambat, kurang peduli, yang penting masuk, ternyata bisa dibina dan menjadi berpenampilan bersih, disiplin, klimis, harum, penuh senyum welcome. Ini sekadar contoh bahwa generasi muda Tapanuli Utara, mampu menjadi ‘pelayan’ yang baik bila dikelola dengan benar dan baik,” imbuh Erikson. 

(Bisukma membudayakan Betapature melalui Teras Café, Dok Bisukma)

 

Crew briefing adalah kegiatan rutin briefing Budaya yang diadakan sebelum buka di pagi hari dan sesudah tutup café dan senantiasa dikuatkan dengan dengan doa . Ini menjadi latihan semacam crew pesawat adakan briefing sebelum terbang, atau juga seperti tenaga front line di perbankan. 

“Latihan seperti ini penting untuk menjaga komitmen service excellent kepada customer sekaligus memeriksa kesiapan fisik dan psikis baik sebelum maupun sesudah bekerja,” kata Erikson.

“Kebiasaan baik yg diulang-ulang setiap hari akan membentuk karakter dan akhirnya membentuk etos kerja sebagai parhobas masarakat (pelayan masyarakat) secara otomatis tanpa mikir laksana melakukan sikat gigi dan mandi pagi, semua berlangsung tanpa harus berpikir dahulu,” imbuh Erikson.


Menariknya lagi, proses penanaman budaya yang dilakukan Bisukma dilakukan secara bottom up. 

Dengan melihat langsung dan mendengarkan masukan dari pegawai dan masyarakat, mempertimbangkan kebutuhan masa yang akan datang agar kita tetap adaptif, membahas dan mengonfirmasi nilai-nilai yang akan diterapkan dengan pegawai dan manajemen, menetapkan budaya, menyosialisasikan melalu briefing dan artefak, memraktikkan dalam keseharian, menerapkan reward, melakukan evaluasi, dan feedback untuk penguatan, akan membuat pegawai dan manajemen merasa dan yakin  bahwa budaya Betaputere adalah milik bersama yang harus dijalankan.

Masih menurut Erikson, praktik skala kecil yang dilakukan Bisukma apabila dilakukan di banyak tempat, baik di Tapanuli Utara ataupun di Kawasan Danau Toba, maka akan menghadirkan Masyarakat yang Berbudaya Kuat.

“Betapature bisa menjadi bekal utama untuk menghadirkan masyarakat Tapanuli Utara unggul, sejahtera, dan berintegritas,” tandas Erikson. 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati