Netral English Netral Mandarin
19:09wib
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengeluarkan fatwa bahwa hukum penggunaan aset kripto. Kebijakan satu harga minyak goreng dengan harga setara Rp 14.000 per liter mulai berlaku di sejumlah minimarket pada Rabu.
Tak Mau Celaka di Jakarta? Sebaiknya Cermati 9 Tempat Paling Angker di Sana

Sabtu, 04-December-2021 14:18

Aula SBKA, Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan.
Foto : Dok ISSI/Suryani
Aula SBKA, Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan.
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Bila ada ingin melancong ke ibu kota, sebaiknya mengetahui lokasi-lokasi yang dipercaya angker oleh warga Jakarta.

Percaya atau tidak, ada baiknya tetap tidak mengabaikan kepercayaan warga ibu kota. Lagi pula, tak ada ruginya untuk hati-hati. Daripada Anda celaka oleh hal-hal yang tak perlu, sebaiknya Anda tetap menjaga diri di sejumlah lokasi ini.

Berdasar penelusuran Netralnews, ada beberapa lokasi angker yang sudah dibuktikan oleh banyak warga yang mengaku pernah mengalami kejadian gaib. Berikut rangkuman Netralnews:

1.  Taman Langsat

Lokasi pertama ini pernah ditelusuri oleh Netralnews. Tamah yang berada di Jalan Langsat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan memiliki tingkat keangkeran yang saat ini paling disoroti oleh banyak pecinta dan pemburu kisah misteri.

Salah satu penyebab mengapa Taman Langsat populer akhir-akhir ini, menurut kesaksian sesepuh setempat, di taman seluas 3,6 hektar ini, ternyata tak hanya karena sering terjadi penampakan kuntilanak dan sosok makhluk astral lainnya, ternyata di tempat tersebut terdapat istana gaib.

“Jadi, area taman ini mulai dirintis di era Gubernur Ali Sadikin. Mulanya berupa rawa. Namanya rawa, selalu disukai sebagai tempat tinggal makhluk halus dan berkumpul jadi satu seperti istana hantu. Jadi sejak awal memang angker,” kata Marworo, sesepuh Taman Langsat kepada Netralnews baru-baru ini.

Menurut penuturannya, di sebelah ujung taman, dahulu ada tujuh sumur yang airnya jernih. Banyak orang akan berlama-lama mandi karena airnya menyegarkan. Saking asyiknya, bisa lupa pulang. Sayangnya, sumur yang konon saling terkait itu kemudian dikubur.

“Seiring pembangunan taman, tujuh sumur itu kemudian dikubur, tapi lokasinya saya masih hafal,” sambungnya.

Mengenai keangkeran Taman Langsat, seingat Marworo, salah satu penyebabnya adalah karena pernah ada kejadian seorang pegawai taman bunuh diri.

“Pegawai ini cekcok sama istrinya yang nakal. Mungkin karena sakit hati dan kecewa dengan istrinya, ia bunuh diri dengan menyayat lehernya sendiri di bangunan yang dulu seperti pura. Lehernya nyaris putus. Sejak itu, sering ada penampakan kepala berjalan. Saya sering melihatnya,”  kata Marworo.

Marworo juga menyatakan bahwa pusat berkumpulnya makhluk halus di taman ini berada di pohon karet kebo (Ficus elastica) besar di dalam taman. Sementara gerbang menuju istana gaib itu berada tak jauh dari aula taman.

“Di pohon karet kebo itu, ada juga genderuwo. Banyaklah roh halus yang menghuninya. Kalau, Anda nggak percaya, coba saja buat ulah. Nantang roh penunggu itu, nanti akan datang,” kata Marworo.

Ia juga mengisahkan bahwa belum lama ini, ada lima perempuan yang menegurnya dan tak percaya dengan penjelasan Marworo. Akibatnya pun fatal.

“Ada lima perempuan jalan-jalan. Padahal siang hari. Mereka saya sarankan hati-hati dan tidak sembrono tapi malah mengatakan, ‘Bapak beragama Islam bukan? Dalam Islam, tak ada roh gentayangan,’” kata Marworo menirukan perempuan itu.

Bukti lain dari keangkeran sekitar taman juga berada di salah satu saung yang tak jauh dari kantor taman. Dahulu, ketika akan digali, petugas penggali tak percaya ketika diberi saran agar sebaiknya diberi sesaji kopi dan rokok.

Akibatnya, mesin-mesin pengeruk mengalami kerusakan dan penggalian sempat gagal. Setelah mau mendengarkan saran Marworo, barulah proyek itu bisa lancar.

“Mau percaya atau tidak ya silakan. Namun dalam keyakinan saya, dan apa yang saya lihat, ya memang begitu adanya. Dalam Islam pun juga disebutkan tentang makhluk halus yakni setan dan jin,” pungkas Marworo.

Usai berbincang-bincang dengan Marworo, salah satu teman Netralnews yang merupakan seorang indigo, ternyata mampu melihat dan membenarkan apa yang dikisahkan Marworo. Kawan itu bernama Deri.

Kisah tentang penelusuran Taman Langsat bersama kawan indigo bisa disaksikan di channel Netralnews. Berdasar apa yang dilihat Deri, terbukti bahwa di taman ini, terdapat gerbang gaib.

 

2.  Taman Prasasti

Setiap kali mendengar kata makam atau kuburan, persepsi orang langsung mengarah pada sesuatu yang dianggap angker, mistis, dan beraroma menyeramkan.

Pikiran, perasaan, atau asosiasi orang tentang suasana mistis di lokasi kuburan tercipta dan tak bisa dilepaskan dari sistem keyakinan. Bisa juga disebabkan oleh pengalaman orang tertentu ketika menjumpai roh halus atau hantu yang bergentayangan di tempat tersebut.

Hantu atau roh halus bagi sebagian orang dipercaya berasal dari arwah atau roh-roh orang yang sudah meninggal, terutama yang meninggal secara tidak wajar. Arwah orang yang meninggal karena dibunuh, diperkosa, disantet, dan lain-lain dipercaya bisa mengantui orang yang masih hidup.

Namun, ternyata tidak semua kuburan selalu menyeramkan. Buktinya, ada pemakaman tertua di Jakarta yang kini telah menjelma menjadi sebuah lokasi yang sangat romantis dan ditata dengan suasana modern.

 

Makam itu tak lain dan tak bukan adalah sebuah kuburan yang bernama Museum Taman Prasasti. Artinya, makam tersebut telah dijadikan sebagai museum.

Lokasi Museum Taman Prasasti berada di Jl. Tanah Abang I, Jakarta Pusat. Pemakaman ini juga pernah menjadi pemakaman umum Kebon Jahe Kober. Luasnya mencapai 5,5 hektare.

Makam dibangun pada 1795 oleh pemerintah Batavia untuk menggantikan kuburan lain yang berada di samping gereja  De Nieuwe Hollandse Kerk (sekarang bernama Museum Wayang) karena sudah penuh.

Pemakaman ini bisa dikatakan merupakan salah satu taman makam modern tertua di dunia. Mengapa?

Umur Museum Taman Prasasti lebih tua dari Fort Canning Park (1926) di Singapura, Gore Hill Cemetery (1868) di Sydney, Pere Lachaise Cemetery (1803) di Paris, Mount Auburn Cemetery (1831) di Cambridge-Massachusstes, dan juga lebih tua dari Arlington National Cemetery (1864) di Washington DC.

Pemakaman ini beroperasi hingga pada 1945. Pengelolaannya diserahkan pada Yayasan Palang Hitam.

Setelah Indonesia merdeka, sebagian jenazah di kuburan ini dipindahkan ke Menteng Pulo dan Tanah Kusir. Kemudian pada 1977, di lokasi kuburan ini didirikanlah Museum Taman Prasasti yang diresmikan oleh Gubernur DKI waktu itu, Ali Sadikin.

Disebut Museum Taman Prasasti karena museum memiliki koleksi beraneka ragam patung, batu nisan, juga sejumlah prasasti yang berusia ratusan tahun. Menurut keterangan petugas museum, total koleksi meliputi 1.372 nisan yang tersebar di lahan museum.

Sebagian batu nisan dan marmer dahulu didatangkan langsung dari Italia. Memang, pada masa kolonial, upacara pemakaman dilakukan dengan cara mewah. Semakin mewah, semakin menunjukkan strata kebangsawanan bagi pihak yang dimakamkan.

Salah satu batu nisan di museum itu adalah batu nisan milik Olivia Mariana Raffles, istri Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang juga pendiri Singapura.

Olivia sangat suka bunga, maka Raffles membuatkannya Kebun Raya Bogor. Tapi sebelum meninggal, Olivia berpesan agar dimakamkan di dekat sahabat dekatnya yaitu John Casper Leyden.

Di bagian tengah makam terdapat satu nisan patung, berukuran lebih tinggi dari yang lain. Dia adalah makam H Van Der Grinten, seorang pastor Imam Katolik yang begitu dihormati dan menjadi panutan di Batavia pada masa itu.

Nisan yang dibuat lebih tinggi itu seolah menujukkan bahwa sosok yang dimakamkan itu ingin “mengayomi” nisan-nisan lain yang ada di sekitarnya.

Menurut sebuah sumber, bahwa di kuburan ini juga ada dua warga pribumi yang dimakamkan di sini, yaitu Soe Hok Gie dan Miss Riboet.

Hok Gie adalah aktivis mahasiswa angkatan 1966 yang semasa hidupnya menjadi tokoh pergerakan yang terkenal kritis terhadap pemerintah. Sedangkan Miss Riboet adalah seorang selebriti yang sangat terkenal pada masanya.

Tak kalah terkenal adalah nisan dari Dr Jan Laurens Andries Brantes. Dia adalah ahli sastra, arkeologi, juga ahli tafsir bahasa Jawa kuno. Dia wafat di Batavia pada 26 Juni 1905. Tanpa dia, kita tidak akan tahu artinya kitab-kitab kuno seperti Negarakertagama dan Sutasoma.

Satu nisan lagi yang tak kalah penting adalah milik JHR Kohler, seorang Mayor Jenderal tentara Belanda yang ditembak mati oleh sniper Aceh di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Konon, sniper Aceh itu juga ditembak sniper Belanda sesaat setelah menewaskan Kohler.

Nisan ini menjadi favorit para traveler penggemar kisah-kisah misteri dan konspirasi. Karena, nisan sang Mayor Jenderal punya simbol-simbol yang menjurus pada identitas bangsa Yahudi, serta kelompok-kelompok rahasia seperti Templar dan Freemasonry yang terkenal dengan simbol salibnya.

Terlepas dari semua itu, Museum Taman Prasasti juga merupakan kuburan yang sangat fotogenik. Tak heran banyak foto pre-wedding dibuat dengan mengambil latar belakang museum ini.

Museum Taman Prasasti buka pada Selasa-Minggu pukul 09.00-15.00 WIB. Bagi yang tertarik menikmati nuansa romantis di bekas kuburan ini, dipersilakan dan akan dilayani petugas museum dengan baik.

3.  Gudang Stasiun Manggarai

Bekas bangunan Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) di Komplek Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, ternyata sangat angker dan berhantu.

“Di tempat ini, pada malam tertentu, sering terdengar suara-suara seperti pertunjukan wayang dan reog,” tutur lelaki yang mengaku bernama Dani (58) pada NNC, Senin (12/11/2018).

“Namun anehnya, di tengah-tengah alunan, sering terdengar suara orang menjerit dan menangis. Kejadian seperti itu sudah sering saya alami. Apalagi dulu, saat belum seramai seperti sekarang,” kata Dani.

Konon, kejadian yang dialami Dani, juga dialami oleh rekan-rekannya. Bahkan, ada juga yang mengaku melihat penampakan siluman berwujud buaya dan suara-suara menyeramkan di sekitar gedung.

“Mendiang ibu saya, dahulu malah lebih sering melihat sosok buaya berada di dalam gedung,” kata Dani.

 

Sejak muda, Dani sudah bekerja sebagai kuli angkut logistik di gudang milik PT KAI (dulu bernama Perusahaan Jawatan Kereta Api atau PJKA) yang berada di Stasiun Manggarai. Dulu, gudang itu merupakan gedung SBKA. Sisa-sisa kemegahan gedung itu, masih bisa dilihat jejaknya hingga kini.

“Menurut cerita senior saya yang sudah bekerja di tempat ini sejak zaman Soekarno, dulu gedung ini sering dipakai untuk berbagai kegiatan Serikat Buruh, dari mulai rapat kerja hingga pertunjukan seni,” terang Dani.

Ketika penulis menelusuri kajian sejarah berjudul “Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan Bangsa” (2013) dengan editor Erwiza Erman dan Ratna Saptari, ditemukan data-data yang senada seperti apa yang diceritakan Dani. Gedung itu memang bersejarah.

Bila kita memasuki gedung yang besar itu, di dalamnya memang menyerupai aula atau hall yang bisa menampung massa hingga 500 orang. Jelas bahwa gedung ini memang pernah dipakai untuk acara besar.

Gedung tersebut dibangun pada 1954, seiring maraknya pembangunan kompleks kereta api, mulai dari Depo Bukit Duri, perumahan pekerja perusahaan kereta api yang dulu bernama PJKA, hingga Stasiun Manggarai yang melayani kereta Jabodetabek maupun kereta jarak jauh. Depo Bukit Duri kala itu dikhususkan untuk bengkel kereta listrik atau biasa disebut motor wagen.  

Konon, pembangunan Kantor SBKA sempat berlarut-larut karena kekurangan dana. Hingga menjelang Pemilu 1955, bangunan belum selesai. Untuk mengatasi kekurangan dana, para buruh kereta api dan Polisi Kereta Api (PKA) yang tinggal di perumahan sekitar Stasiun Manggarai menggalang iuran sukarela.

“Dana sukarela yang terkumpul mencapai 26 rupiah. Kala itu, uang segitu termasuk cukup besar. Dana itu lalu digunakan untuk membeli semen, bata, dan material lainnya. Tak lama sesudah itu, berdirilah kantor dan aula SBKA,” kata Dani.

Mungkin karena semangat gotong royong itulah, gedung itu dianggap sangat berarti bagi para buruh. Ada semacam rasa memiliki yang tumbuh di hati para buruh kereta api dan anggota PKA. Hal ini terbukti di kemudian hari, saat terjadi huru-hara politik 1965 pasca-G30S.

Selain kisah mengenai gotong royong, ternyata saat pembangunan juga ada kisah misterinya. “Saat gedung ini dibangun, saya masih berusia enam tahun. Tapi, saya masih ingat ketika ibu saya bercerita bahwa saat dilakukan penggalian pondasi ditemukan sejumlah tengkorak manusia,” kata Dani.

Memasuki tahun 1960, Gedung SBKA semakin ramai kegiatan. “Setiap malam minggu atau malam ahad, di gedung ini selalu diadakan pertunjukkan wayang. Kadang wayang golek dari Sunda, kadang wayang kulit dari Jawa Tengah, dan terkadang reog dari Jawa Timur,” tutur Dani.

Setiap kali ada pertunjukkan, Radio Republik Indonesia (RRI) selalu menyiarkannya secara langsung. Seperti pertunjukan rakyat di kala itu, selalu dikerumuni ribuan penonton beserta penjual makanan dadakan yang mengitari lokasi pertunjukan.

Selain pertunjukkan wayang, gedung ini juga sering digunakan oleh berbagai organisasi lain. Salah satu di antaranya, digunakan sebagai tempat Kongres Persatuan Film Indonesia (Parfi).

“Raja Dangdut Roma Irama juga pernah manggung di gedung ini,” kenang Dani.

Kemudian pada 3 Agustus 1964, tempat ini juga dipakai untuk penyelenggaraan Kongres Persatuan Pamong Desa Indonesia (PPDI). Kongres tersebut merupakan salah satu bagian dari pembinaan aparatur desa yang dicanangkan pemerintahan Soekarno.

Namun, kemudian terjadilah G30S yang memutarbalikkan wajah SBKA. SBKA yang berafiliasi dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) tentu terkena imbasnya. Peristiwa penculikan dan pembunuhan tujuh jenderal Angkatan Darat, menimbulkan demonstrasi besar-besaran menuntut pembubaran PKI.

Pada Maret 1966, demonstrasi mahasiswa yang dikawal panser milik TNI AD melintasi jalan di depan Kantor SBKA. Massa demonstran berusaha mendekati dan akan merusak gedung tersebut. Namun, massa kemudian dihalau oleh personel Polisi Kereta Api yang berjaga di Gedung SBKA.

Sebelum diubah menjadi Polsuska (Polisi Khusus Kereta Api) pada 1971, Polisi Kereta Api dahulu kala sangat dekat hubungannya dengan SBKA. Mereka juga merasakan arti penting gedung tersebut.

“Setelah peristiwa huru-hara 1965, banyak tetangga saya yang tinggal di Perumahan PJKA Manggarai menghilang dari kompleks. Ada yang ditahan, dibunuh, dan dibuang ke Pulau Buru,” kenang Dani.

Lalu apa hubungan antara semua kejadian masa lampau itu dengan kisah keangkeran gedung bekas kantor SBKA itu? Dani berusaha menjawabnya secara panjang lebar.

“Banyak orang tidak tahu bahwa orang-orang yang dulu membesarkan SBKA mati terbunuh dan jasadnya tidak ditemukan. Naluri saya, energi atau banyak roh mereka yang berpencar dan tersebar lalu dipersatukan oleh gedung ini,” terang Dani.

Dani menambahkan, “Naluri saya mengatakan, gedung ini menjadi semacam medan magnet yang menarik semua energi dari roh korban politik tahun 1965 yang meninggal di berbagai tempat dan terpencar. Saat energi itu bersatu menghasilkan semacam rekaman atau jejak kejadian masa lalu. Bentuknnya adalah suara-suara gamelan, jeritan, dan tangisan.”

“Terserah orang mau percaya atau tidak dengan naluri saya. Namun, itu kepercayaan saya yang membuat bisa kuat dan terbiasa bergaul dengan hantu-hantu penasaran itu. Mereka juga butuh didengarkan. Mereka dahulu juga manusia seperti kita. Bedanya, mereka kemudian dihilangkan dan hingga kini terlupakan,” tutup Dani.

4. Jembatan Ancol

Kisahnya populer karena pernah dijadikan filem hingga sinetron. Bahkan, sebentar lagi juga akan tayang film baru berjudul “Si Manis Jembatan Ancon” yang akan tayang waktu dekat.

Hantu jembatan Ancol, menurut sejarah terkait dengan sosok Maryam menjadi korban kekerasan seksual. Ia dibunuh dan mayatnya dibuang ke Kali Ancol. Sejak saat itu, sosok hantunya dikabarkan sering muncul di sekitar Jembatan Ancol.

 

5.  Lubang Buaya

Dinamakan Lubang Buaya karena ada sebuah legenda yang menyebutkan bahwa ada banyak buaya putih di sungai dekat kawasan tersebut.

Nah, karena adanya tragedi pembantaian tersebut, kabarnya di Lubang Buaya pada malam hari cukup sering muncul penampakan sosok manusia yang memakai seragam tentara dengan kondisi muka yang berlumuran darah.

Tempat ini menjadi lebih terkenal karena peristiwa G-30-S yang kemudian mengakibatkan beberapa perwira TNI-AD meninggal setelah diculik dan disiksa.

 

6.  Menara Saidah

Gedung di jalan Letjen M.T. Haryono ini memiliki 28 lantai yang sudah tidak berpenghuni sejak tahun 2007. Konon, salah satu alasannya karena adanya cerita-cerita horor.Tidak sedikit karyawan perusahaan yang melapor bahwa mereka mendengar suara-suara aneh dari gedung tersebut. Beberapa bahkan kabarnya pernah bertemu dengan hantu seperti kuntilanak.

 

7.  Lintasan Rel Kereta Bintaro

Akibat kecelakaan kereta pada 19 Oktober 1987, lokasi sekitarnya dikabarkan sering ada penampakan aneh. Memang, kecelakaan tersebut mengakibatkan banyak korban. Orang banyak kemudian mengaitkan penampakan dengan tragedi tersebut.

Kabarnya, penduduk sekitar pernah melihat potongan kepala korban yang menggelinding, mendengar suara rintihan dan tangisan, hingga bertemu sosok hantu dengan baju yang compang-camping.

 

8.  Rumah Pondok Indah

Rumah yang dimaksud berada di kawasan Dharmawangsa, Pondok Indah. Kabarnya, dulu rumah ini ditempati oleh sebuah keluarga yang kaya yang seluruh anggotanya dibantai oleh kawanan perampok. Sejak saat itu, berbagai kejadian aneh mulai bermunculan.

Ada kesaksian, seorang penjual nasi goreng mendapat pesanan oleh penghuni rumah itu padahal rumah itu sudah kosong. Ketika penjual mengantar nasi pesanannya, terbukti rumah itu tak ada siapa-siapa dan gelap gulita.

 

9. Bekas Mall Klender

Berikut ada beberapa cerita seram soal Mall Klender. Percaya nggak percaya, ya ini kata mereka. Pertama, dilansir merdeka.com, cerita datang dari orang yang bernama Sunarto, warga Kampung Bulak yang masih di kawasan Klender.

Dia mengatakan, seminggu setelah pembakaran yang menewaskan ratusan orang itu, warga dikejutkan dengan penampakan makhluk halus di sekitar pusat perbelanjaan. Ada suara minta tolong, sosok perempuan hamil yang badannya terbakar, ada anak kecil tengah malam yang bermain di jalan.

Tak selesai sampai di situ, ada juga beberapa sopir angkutan umum yang menjadi korban arwah gentayangan. Bahkan, sopir bajaj katanya pernah mengantar penumpang hingga ke lantai 6. Kala itu, si sopir bajaj nggak tahu kalau mall itu sudah terbakar.

Padahal, mal itu sudah ditutupi seng semua, tapi bajaj itu beneran bisa sampai di lantai 6. Gimana menurutmu? Parahnya, duit yang dikasih penumpang itu setelah diperiksa berubah jadi daun. Ngeri, seram dan menakutkan.

 

Cerita lain lagi. Salah seorang karyawan di sana kerap dirasuki oleh makhluk halus. Sebutlah Rosma, salah seorang karyawan Mall Klender yang kerap jadi korban kerasukan. Kejadian itu, sering dialaminya jika dalam kondisi sakit, capek, dan datang bulan.

Jika sudah begitu, biasanya Rosma akan dibawa ke dalam sebuah ruangan yang sering digunakan untuk peristirahatan para karyawan. Dia akan diobati dan dibacakan doa. Saat kerasukan, dia selalu berteriak-berteriak, semua karyawan pun hafal kalau Rosma memiliki ‘bakat’ untuk merasakan hal-hal ghaib yang tidak dapat dirasakan oleh orang biasa.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati

Berita Terkait

Berita Rekomendasi