Netral English Netral Mandarin
16:04wib
Sebanyak 11 siswa MTs Harapan Baru Cijantung, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meninggal saat kegiatan pramuka susur sungai di Sungai Cileueur. Presiden Joko Widodo alias Jokowi meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan moratorium penerbitan izin usaha baru untuk pinjaman online.
Tak Perlu Sampai Kiamat, Keuntungan Kereta Cepat Ribuan Kali Lipat, DS: Lihat Masa Depan Bukan Sekarang

Jumat, 15-Oktober-2021 06:30

Faisal Basri
Foto : Fajar Online
Faisal Basri
69

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny Siregar menyanggah pendapat Faisal Basri yang menyebut kereta cepat tak akan balik modal biarpun sampai kiamat. 

Menurut Denny, visi Presiden Joko Widodo jauh ke depan dan kereta cepat memiliki nilai investasi yang jelas bakal bermanfaat. Ia membandingkan dengan gojek yang di masa depan keuntungannya bakal ribuan kali lipat. 

Berikut catatan lengkap Denny Siregar. 

KERETA CEPAT BUAT APA ???

Malam ini iseng pengen nulis bahas kereta cepat. Kereta cepat Jakarta Bandung ini sudah mau selesai, kemungkinan November tahun depan sudah launching..

Memang bangun kereta cepat itu gak mudah. Mulai biaya yang bengkak, kendala pembangunan di lapangan, belum lagi pertarungan China vs Jepang untuk teknologinya, ditambah pandemi yang membuat negara akhirnya harus campur tangan. Wah, banyak yang harus dibahas tapi gak cukup dituangkan dalam satu tulisan..

Tapi yang saya agak tergelitik adalah pernyataan Faisal Basri, seorang ekonom, yang bilang bahwa modal membangun kereta cepat tidak akan pernah balik sampai kiamat! Saya hormat pada beliau, karena pernah bareng di CokroTV sebagai host. Dan saya tidak mau ribut dengan hitung2an ongkos kereta dan berapa tahun harus balik modal. Capek.

Saya hanya ingin mengingatkan, bahwa dalam pembangunan yang berbasis teknologi seperti kereta cepat, hitung2annya bukan hanya angka saja, tapi ada keuntungan atau benefit lain.

Misalnya, di setiap stasiun pemberhentian kereta cepat itu, akan tumbuh kota baru, ekonomi baru. Sekarang saja, tanah disana sudah naik gila-gilaan. Siapa yang untung ? Ya, masyarakat sekitar. 

Belum lagi keuntungan ilmu dan transfer teknologi. Ini yg ga ada angkanya. China, dalam perjanjiannya, mau melakukan transfer teknologi supaya kelak kita bisa bangun kereta cepat sendiri. Jepang gak mau. Ini yang membuat Indonesia lebih suka kerjasama dgn China, supaya ada nilai tambahnya.

Diluar itu, adanya kereta cepat akan mempermudah arus barang sehingga biaya pengirimannya bisa ditekan. Tahu berapa menit yang dibutuhkan dari Jakarta ke Bandung dengan kereta cepat ? Cuman 40 menit. 

Bandingkan naik kereta biasa yang butuh 3 jam lebih. Apalagi dijaman jualan online gini, butuh kendaraan supercepat untuk kirim barang sehingga harga lebih murah.

Hitung-hitungan untuk teknologi gini, bukan kayak dagang sayur. Modal serebu, malam harus untung serebu lima ratus. Bukan. Ada nilai yang lebih besar sebagai efek ekonominya, yang akan kembali dalam jumlah ribuan kali lipat pada saatnya. 

Cara pandang nilai ekonomi ini mungkin yang tidak dimiliki Faisal Basri, sebagai ekonom yang berkutat dgn cara lama dan konvensional.

Saya pernah nanya ke seorang investor Gojek. "Gojek itu masih rugi, kok lu mau invest sih?"

Dia ketawa lebar. "Cara berfikir perusahaan multinasional seperti Gojek itu, gak bisa dinilai hari ini bahkan 10 tahun ke depan. Cara berfikirnya harus lebih luas, bahwa dalam waktu 50 tahun ke depan, jutaan orang akan bergantung pada Gojek bukan hanya dalam transportasi saja, tapi juga kehidupan sehari-hari kita. Berapa nilainya investasi gua ketika itu terjadi? Ribuan kali lipat.. " 

Itulah kenapa, meski Gojek dibilang masih merugi dan berdarah2, investasi yang masuk sampe tumpah2. Orang menghitung masa depan, bukan masa sekarang. Itulah kenapa orang seperti Elon Musk sampe harus jual rumahnya untuk bikin bisnis perjalanan ke Mars. Dia melihat masa depan, bukan masa sekarang.

Begitulah cara berfikir sekarang. Dan Jokowi cara berfikirnya, visinya, sudah ratusan tahun ke depan. Bahwa kelak Indonesia menjadi negara yang sejajar dengan negara lain dalam tehnologi sehingga dihormati. Karena hubungan antar negara itu seperti hubungan bisnis, mereka akan saling menghormati jika berada pada level yang sama.

Tapi ya banyak orang ga akan ngerti. Susah juga saya menjelaskan pada orang yang menganggap hutang negara itu sama dengan mereka hutang ke koperasi. Padahal bedanya jauh sekali..

Ya udah, mending ngopi aja sambil membayangkan Larry Page dan Sergey Brin yang menghabiskan waktunya di garasi untuk bikin aplikasi, diejek orang karena dianggap malas dan tidak mau kerja biasa cari uang, lalu sekarang nilai valuasi perusahaannya yaitu Google, ada di angka triliunan dollar.

Itu nilai masa depan. Sebuah investasi. 

Sudah saatnya seruput kopi..

Denny Siregar

Nilai Ekonomi Kereta Cepat

Kereta cepat Jakarta-Bandung disebut sebagai proyek mubazir. Menurut ekonom senior Faisal Basri, secara bisnis, proyek ini pun tidak menguntungkan. Dia bilang sampai kiamat pun proyek ini tidak bisa balik modal.

Menurutnya, sebentar lagi rakyatlah yang akan membiayai proyek tersebut. Dia memprediksi tiket kereta cepat yang awalnya digadang-gadang Rp 300 ribu per orang pun bisa jadi membengkak ke Rp 400 ribu.

"Sebentar lagi rakyat membayar kereta cepat. Barang kali nanti tiketnya Rp 400 ribu sekali jalan. Diperkirakan sampai kiamat pun tidak balik modal," tegasnya dalam dialog bertajuk COVID-19 dan Ancaman Kebangkrutan Dunia Usaha, Rabu (13/10/2021).

Menukil catatan detik.com, bagaimana sebenarnya perhitungan kasar mengenai kapan kereta cepat Jakarta-Bandung akan balik modal?

Saat ini modal kereta cepat mengalami pembengkakan, sampai saat ini perhitungan masih dilakukan dan belum ada angka pastinya berapa pembengkakan yang terjadi.

Meski belum ada angka pastinya, berdasarkan hitungan paling baru dari PT KAI total modal kereta cepat membengkak menjadi US$ 7,97 miliar atau sekitar Rp 113 triliun. Sebagian modal itu didapatkan dari kucuran pinjaman dari China.

Tentunya karena ada pinjaman China jumlah modal bisa lebih besar karena ada hitungan bunga. Namun dalam simulasi ini hitungan bunga itu diabaikan dahulu.

Nah mari kita mulai hitung perkiraan waktu agar proyek ini bisa balik modal, dengan catatan hanya dari pendapatan tiket saja.

Perhitungan dimulai dari pendapatan harian kereta cepat. Dalam catatan detikcom, kereta cepat Jakarta-Bandung memiliki trainset yang mampu mengangkut 601 orang dalam keadaan penuh.

Dari kapasitas 601 orang, rencananya akan ada 18 seat alias tempat duduk untuk kelas VIP, kemudian ada 28 seat kelas first class. Lalu untuk kelas second class jumlahnya mencapai 555 seat. Tentunya harga tiket dari tiap kelas berbeda, namun kita asumsikan semua kelas harga tiketnya sama.

Kita asumsikan harga tiket sebesar Rp 400 ribu per orang, sama dengan asumsi Faisal Basri. Maka, sekali perjalanan dari Jakarta ke Bandung dengan kereta yang penuh, jumlah pendapatan dari tiket sebesar Rp 240,4 juta. Angka tersebut didapat dari harga tiket Rp 400.000 dikalikan 601 orang.

Kita beranjak ke pendapatan dalam sehari. Masih dari catatan pemberitaan detikcom, sekali jalan kereta cepat menempuh waktu paling lama 45 menit. Kemudian ditambahkan asumsi 15 menit untuk urusan naik turun penumpang di stasiun akhir dan awal. Maka sekali jalan kereta cepat kemungkinan butuh total waktu 60 menit alias 1 jam.

Rencananya, setiap hari kereta cepat akan beroperasi selama 17 jam mulai dari pukul 05.00 hingga 22.00. Dengan perhitungan tersebut, maka dapat disimpulkan dalam sehari kereta cepat dapat melakukan 17 kali perjalanan, baik Jakarta ke Bandung, maupun Bandung ke Jakarta.

Apabila satu perjalanannya pendapatan kereta cepat sebesar Rp 240,4 juta maka bila ada 17 perjalanan dalam sehari kereta cepat Jakarta-Bandung mampu mendulang pendapatan sebesar Rp 4,08 miliar.

Kereta cepat diperkirakan akan beroperasi setiap hari dalam setahun tanpa hari libur. Artinya, kereta ini akan mondar mandir selama 365 hari. Bila seharinya bisa mendulang pendapatan sebesar Rp 4,08 miliar, dikalikan 365 hari, maka kira-kira dalam setahun kereta cepat memiliki pendapatan tiket sebesar Rp 1,49 triliun.

Dengan modal sebesar Rp 113 triliun dan pendapatan tahunan sekitar Rp 1,49 triliun, maka kereta cepat Jakarta-Bandung butuh waktu kira-kira 75 tahunan untuk balik modal.

Hitungan tersebut merupakan hitungan asumsi kasar, serta belum memperhitungkan bunga pinjaman, biaya operasional, dan biaya-biaya lainnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli