Netral English Netral Mandarin
09:35wib
Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) mengaku sudah menyelesaikan 24 masalah yang tertunda ke Badan Anti Doping Dunia (WADA). Pemerintah berencana memberikan vaksin Covid-19 booster pada masyarakat.
Taliban Berlakukan Lagi Hukum Potong Tangan-Kaki, Tofa: Hayo BuzzeRp, Kalian Setuju Ini Diterapkan pada Oposisi?

Senin, 27-September-2021 08:29

Mustofa Nahrawardaya dan ilustrasi warga Afghanistan
Foto : Kolase Netralnews
Mustofa Nahrawardaya dan ilustrasi warga Afghanistan
11

JAKARTA, NEYTRALNEWS,COM - Taliban dikabarkan akan berlakukan lagi hukuman mati dan hukum potong tangan dan kaki. 

Hal ini membuat Politikus Partai Ummat menggelitik pihak-pihak yang dianggap mendukung Pemerintahan Joko Widodo. Dengan menyebut buzzeRp, Mustofa membuat pernyataan aneh.

“Hayo para #buzzeRp, kalian setuju gak jika ini diterapkan pada oposisi?” cuit Mustofa Nahrawardaya, Senin 27 September 2021.

Untuk diketahui, salah satu pendiri Taliban, Mullah Nooruddin Turabi, mengatakan kelompoknya akan kembali menerapkan hukum Islam ketat, termasuk eksekusi mati hingga amputasi tangan dan kaki.

Dalam wawancara bersama Associated Press, Turabi mengatakan hukuman-hukuman itu mungkin tidak akan dilakukan di depan publik seperti dulu ketika Taliban menguasai Afghanistan pada 1996-2001.

"Hukum memotong tangan sangat diperlukan untuk keamanan," kata Turabi.

Menurutnya, hukuman seperti itu menimbulkan efek jera. Ia mengatakan saat ini kabinet baru Afghanistan sedang mempertimbangkan menerapkan kembali hukuman semacam itu.

Turabi, yang kini menjabat sebagai Menteri Kehakiman Afghanistan, mengecam kritikan dunia soal eksekusi mati dan hukuman brutal Taliban. Ia juga memperingatkan dunia agar tidak mencampuri rezim baru Taliban di Afghanistan.

"Semua orang mengkritik kami tas hukuman eksekusi di stadium, kami tidak pernah mengatakan apa pun tentang hukum dan bentuk hukuman mereka," kata Turabi yang berjanggut putih dan mengenakan sorban putih.

"Tidak ada yang akan mendikte seperti apa hukum kami seharusnya. Kami akan mengikuti Islam dan kami akan membuat hukum berdasarkan Al-Quran," paparnya menambahkan.

Sementara itu, Turabi merupakan satu di antara petinggi Taliban di kabinet baru Afghanistan yang masuk daftar sanksi PBB.

Di rezim Taliban terdahulu, Turabi menjabat sebagai kepala lembaga yang memantau penerapan hukum Islam dan moral warga.

Saat Taliban berkuasa pada 1996, Turabi pernah meneriaki seorang wartawan perempuan dan memerintahkan dia meninggalkan ruangan yang diisi oleh pria-pria.

Turabi juga pernah menampar seorang pria di depan umum yang protes terhadap perintahnya.

Turabi juga menuntut semua laki-laki memakai sorban di semua kantor pemerintahan dan melarang pria mencukur janggut. Dahulu, ia juga sempat menerapkan aturan yang mewajibkan pria salat lima waktu ke masjid.

Namun, dalam wawancara dengan jurnalis AP kemarin, Turabi mengaku bahwa dia dan kelompoknya telah berubah.

"Kami telah berubah dari masa lalu," katanya seperti dinukil CNN Indonesia.

Turabi mengatakan saat ini Taliban mengizinkan televisi, ponsel, foto, dan beberapa hiburan lain.

"Karena ini adalah kebutuhan rakyat dan kami serius tentang ini," paparnya.

Sejak kembali berkuasa pada pertengahan Agustus lalu, Taliban telah menerapkan sederet aturan-aturan, terutama hukum yang dinilai mengekang perempuan Afghanistan.

Selain itu, dalam beberapa pekan terakhir, milisi Taliban juga kerap menerapkan kembali hukuman yang mereka lakukan di masa lalu, yakni mempermalukan pelaku pencurian di depan umum.

Setidaknya dua kali dalam sepekan, milisi Taliban kerap menangkap pria yang diduga mencuri dan mengaraknya menggunakan truk pikap keliling kota dengan tangan terikat. Wajah para pelaku juga dicat agar orang-orang mengetahui mereka adalah pencuri.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sulha Handayani