Netral English Netral Mandarin
09:56wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Hanya Bolehkan Perempuan Jadi Pembersih Toilet, FH: Anehnya di Sini Masih Ada Perempuan Bela Taliban

Selasa, 21-September-2021 10:30

Ilustrasi perempuan di Afghanistan
Foto : Voi.id
Ilustrasi perempuan di Afghanistan
9

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pascaberkuasa di Afghanistan, Pemerintah Taliban dikabarkan hanya mengizinkan kaum perempuan bekerja sebagai pembersih tolilet.

Sontak hal ini membuat mantan politikus Demokrat, Ferdinand Hutahaean keheranan. Ia juga bertanya-tanya mengapa di Indonesia masih ada perempuan yang membela Taliban.

“Hanya Izinkan Perempuan Afghanistan Bersihkan WC. Rendah sekali status wanita bagi kaum teroris ini. Anehnya, disini masih juga ada kaum perempuan yg membela taliban,” kata Ferdinand Hutahaean, Selasa 21 September 2021.

Untuk diketahui, Petinggi Taliban menyatakan untuk saat ini hanya boleh mengizinkan perempuan Afghanistan bekerja sebagai pembersih toilet.

Pernyataan itu dilontarkan Wali Kota Kabul, Hamdullah Nohmani, menyikapi tentang kebijakan memperbolehkan kaum perempuan untuk bekerja.

"Awalnya kami mengizinkan mereka semua untuk hadir mengerjakan tugas mereka tepat waktu. Tetapi kemudian Emirat Islam memutuskan pekerjaan mereka harus dihentikan untuk beberapa waktu," kata Nohmani, dikutip CNN.

"Kalau begitu kami hanya mengizinkan perempuan yang kami butuhkan. Maksud saya untuk pekerjaan yang tidak bisa dilakukan laki-laki, atau yang bukan pekerjaan laki-laki. Misalnya, ada toilet umum perempuan di pasar," ujarnya lagi.

Tak hanya itu, Nohmani juga mengimbau perempuan untuk tetap tinggal di rumah. Ia juga mengatakan kalau pekerjaan yang mereka lakukan sebelumnya akan digantikan oleh laki-laki.

Di hari yang sama, aktivis hak perempuan Afghanistan melakukan protes untuk menuntut hak perempuan atas edukasi dan partisipasi dalam pemerintahan.

Mereka menggelar protes di gedung yang dahulunya adalah Kantor Kementerian Urusan Wanita Afghanistan. Namun, gedung itu berubah menjadi Kantor Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan di bawah Taliban.

Protes ini direncanakan oleh Gerakan untuk Partai Perubahan, sebuah gerakan masyarakat sipil perempuan Afghanistan yang dipimpin Fawzia Koofi. Ia adalah mantan anggota parlemen Afghanistan sebelumnya, perunding perdamaian, dan aktivis hak perempuan.

"Taliban selama dan sebelum negosiasi mengatakan dalam pernyataan mereka bahwa perempuan memiliki hak untuk bekerja dan belajar sesuai dengan hukum Islam, tetapi hari ini apa yang terjadi di Afghanistan bertentangan dengan janji yang dibuat Taliban dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam," kata Koofi melalui konferensi web di luar Afghanistan.

"Hari ini kami mendengar bahwa anak perempuan tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan, pintu kantor tertutup di depan mereka, tidak ada perwakilan perempuan dalam kepemimpinan politik," tutur Koofi kembali seperti dinukil CNN Indonesia.

"Mereka harus tahu bahwa hanya dengan rasa hormat dan partisipasi perempuan, mereka dapat hidup dalam damai dan di dunia ini."

Pihak Taliban sendiri tidak mengakui klaim pelarangan edukasi bagi perempuan. Mereka menyampaikan bahwa saat ini pihaknya sedang mempersiapkan sistem transportasi yang aman untuk perempuan ketika pergi ke sekolah.

Namun, aktifis perempuan Fawzia Koofi menilai sikap Taliban saat ini masih tidak memercayai hak perempuan. Ia juga memohon pada masyarakat internasional dan PBB untuk menekan Taliban agar tak lagi membatasi hak perempuan.

Sejak kekuasaan Taliban di Afghanistan, kaum perempuan semakin terkekang. Banyak perempuan yang dikeluarkan dari tempat kerja mereka, adanya pembatasan pendidikan untuk perempuan dan anak perempuan, pun juga tidak adanya kaum perempuan dalam kabinet pemerintahan Taliban.

Ketika Taliban menjabat dari 1996 sampai 2001, kelompok ini dikenal dengan kebijakannya yang membatasi perempuan. Taliban melarang perempuan untuk bersekolah dan bekerja.

Mereka juga dilarang bepergian sendiri, harus ada wali laki-laki yang menemaninya. Selain itu, Taliban juga memaksa perempuan untuk menutupi seluruh bagian tubuh mereka.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Wahyu Praditya P