Netral English Netral Mandarin
08:44wib
BMKG menyatakan gempa yang terus berlangsung di wilayah Ambarawa Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga merupakan jenis gempa swarm dan perlu diwaspadai. Sejumlah calon penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, mengeluhkan soal aplikasi PeduliLindungi serta harga tes PCR yang dinilai mahal.
Taliban Mesra dengan China, Budiman: Gimana sih Logikanya?

Kamis, 19-Agustus-2021 16:35

Budiman Sudjatmiko
Foto : Antara
Budiman Sudjatmiko
37

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politikus PDIP, Budiman Sudjatmiko membagikan pandangannya terkait mengapa Taliban bisa mesra dengan China. 

“Taliban akrab dengan China? Di mana & bagaimana sih logikanya?” kata Budiman, Kamis, 19 Agustus 2021.

Budiman menguinggah tautan tentang pendapatnya yang diulas Gesuri.id. 

Budiman menanggapi respon positif kelompok yang selama ini dikenal radikal di Afganistan, yakni Taliban terhadap investasi China dalam rekonstruksi Afghanistan.

Taliban menyebut Beijing sebagai negara yang bersahabat.

Pernyataan menyambut investasi China oleh Taliban ini muncul saat Amerika Serikat (AS) dan pasukan sekutu keluar dari Afghanistan setelah perang 20 tahun.

Budiman menyatakan, sikap Taliban itu menunjukkan bahwa dunia tak sesederhana layar wayang kulit, dimana hanya ada orang baik semua di 1 sisi (Pandawa) dan orang jahat semua di sisi lain (Kurawa).

"Lawanmu bukan berarti lawan dari kawanmu," ujar Budiman di akun Twitternya, baru-baru ini.

"Jangan kaget sih, kalau dalam 10 tahun ke depan Kabul, Kandahar & Mazar-i-Sharif jadi kota2 riset biotek & bisnis software," tambah Budiman.

Budiman menambahkan, kalau satu negara didekati China, memang tak bisa diharapkan negara itu jadi liberal. Karena itu bukan kepentingan China.

"Tapi ia jd kenceng infrastruktur & teknologinya, bisa jadi. Di sini titik temu China dgn Taliban. Kepentingan China, Afghan gak jd basisnya separatis Uyghur," ungkap Budiman.

Jangankan ke negara-negara lain, menurut Budiman, China juga tak keberatan berbisnis dengan Taiwan, selama Taiwan tak resmi menyatakan merdeka dan tetap mengakui satu China.

Juga pada Hong Kong, dimana China membiarkan Hong Kong dengan sistem ekonominya sendiri, yang penting tetap mengakui Beijing sebagai komandannya.

"Urusan politik internasional & geopolitik memang dr dulu adalah urusan eksklusif yg lika-likunya sangat realis & pragmatis. Sbg negara yg punya visi global, maka lingkar pengaruh itu penting. Terlebih jika merasa ada ancaman disintegrasi wilayahnya sendiri," ujar Budiman.

Kira-kira, tambah Budiman, cara berpikir China seperti ini ke tetangga-tetangganya:

"Hai tetangga-tetangga, aku gak urus siapa yang jd kepala keluargamu. Yg penting, jgn biarin rumahmu dipakai ngaco rumahku atau dipakai orang kampung lain ngaco rumahku. Mau duit? Nih kubawain. Mau teknologi? Nih!"

Budiman menjelaskan, hal itu memang psikologi politik pemimpin negara-negara yang sedang tumbuh menguat. Mereka membutuhkan lingkungan bermain nyaman, aman & bersahabat untuk dia tumbuh.

"Kalau teman2 mainnya lecek & bau pakaiannya, dia bawain pakaian bagus & parfumnya sekaligus. Bisa kebayang kan?," ujar Budiman.

Kalau istilah kasarnya, lanjut Budiman, China mau membeli teman untuk dijadikan teman-teman barunya. Dari pada mereka dipakai orang kampung sebelah untuk memusuhinya.

"Kutraktir baju, makan & parfum deh kalian semua...Tp jd sohibku ya? Atau minimal jgn mau kalau disuruh ngelemparin rumahku ya.." papar Budiman, menganalogikan.

Taliban, lanjut Budiman, bagaimanapun juga sudah berkonflik lama. Mereka kelompok radikal. Radikalisme Taliban mirip Partai Komunis China (PKC) era Mao Zedong, mengekspor revolusi ke mana-mana.

Jangankan AS yang berbeda ideologi, Soviet yang seideologi pun mereka ganggu. Tapi akhirnya ada Deng Xiaoping yang pragmatis, memimpin China.

"Nah China berharap (bahkan mungkin mencari2) ada Deng Xiaoping versi Taliban yg bisa lebih pragmatis & membuka isolasi ke dunia luar. China paham proses deradikalisasi ideologi. Ia pernah mengalami & melakukannya sendiri," ujar Budiman.

Dulu, sambung Budiman, saat China melakukan deradikalisasi ideologinya, AS menemani China sambil meminta dukungan China melawan Soviet. Untuk diketahui, China membantu Mujahiddin yang didukung AS ketika Uni Soviet menginvasi Afghanistan.

"China juga mengganggu Vietnam yg sdh bikin malu AS saat Perang Vietnam. Saat itu AS investasi besar2an di China. Pokok nya mesra lah. Dalam berbagai isu internasional mereka kompak nyerang Soviet. Baru bermasalah saat AS mendorong liberalisasi POLITIK di China. China ogah," ungkap Budiman.  

Budiman pun memprediksi, China mau menemani Taliban untuk melakukan deradikalisasi ideologi dengan membawakan duit dan teknologi. Makanya jangan heran 10 tahun lagi, bisa jadi infrastruktur bisnis dan teknologi Kabul, Kandahar serta Mazar-i-Sharif bakal disulap seperti Senzhen, Chongqing dan Tianjin.

"Lantas apa untungnya pendekatan China dgn Taliban yg nyaris berkuasa di Afghanistan ini? Yah..Taliban yg pragmatis berbisnis & berteknologi akan mengurangi radikalisasinya & tak dipakai kelompok2 serupa di Indonesia sbg sumber inspirasi jihad-nya," ujar Budiman.

Di lain pihak, sambung Budiman, pendekatan Taliban ke Rusia dan Iran harus juga dilihat sebagai permintaan kepada kedua negara itu, untuk menjadi sahabat Taliban.

"Friends, temani gua yah...Gua mau ngubah sikap gua tp pelan2. Lu lu yg lebih paham krn kita sama2 dr masa lalu radikal, mau lebih adaptasi dgn keadaan baru & bisa nerima gua" ujar Budiman, menganalogikan.

"Politik internasional memang seperti kisah2 misteri Alfred Hitchkock. Perubahan peran & posisinya tak terduga. Makanya menanggapinya jgn emosional & sradag-srudug. Politik internasional jgn ngikutin maunya hestek! Tp harus dingin, kalem, kalkukatif & maknyuuss," tambahnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Irawan HP