Netral English Netral Mandarin
04:18wib
Aparat dari satuan TNI dan Polri akan menjadi koordinator dalam pelaksanaan tracing (pelacakan) Covid-19 dalam Pemberlakuan Pembatasan Sosial Masyarakat (PPKM) yang kembali diperpanjang. Presiden Joko Widodo memberi kelonggaran selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 diperpanjang mulai 26 Juli hingga 2 Agustus 2021.
Tanaman Stevia Pengganti Gula Tebu, akan Dibudidayakan Secara Besar-besaran di Minahasa

Sabtu, 19-Juni-2021 15:45

Stevia rebaudiana bertoni atau cukup disebut tanaman stevia.
Foto : ezgrogarden
Stevia rebaudiana bertoni atau cukup disebut tanaman stevia.
14

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Stevia rebaudiana bertoni atau cukup disebut stevia akan dikembangkan secara besar-besaran di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Tanaman ini ternyata bermanfaat untuk bahan makanan karena sudah dikenal sebagai pengganti gula, dan juga bahan baku obat-obatan atau farmasi.

Pengembangan budi daya tanaman ini bakal melibatkan masyarakat petani di sekitar kebun dengan sistem contract farming. PT Bejana Kasih Sempurna (BKS), selaku pihak pengembang akan bekerja sama dengan Stevia Farms Co Ltd.

"Hasil panen stevia akan diekspor ke Korea Selatan sebagai bahan pangan dan farmasi," kata Chief Executive Officer BKS Oktavianus Minanga, di Jakarta, Sabtu (19/6/2021).

Menurutnya, perusahaan sudah memiliki izin untuk pengembangan tanaman rendah kalori ini termasuk izin pemasukan benih serta izin produsen benih dari pemangku kepentingan terkait.

Untuk pengembangan tahap awal ini akan dilakukan lahan seluas tujuh hektare dengan benih Yun Nong Stevia yang berasal dari perusahaan induk asal Korea Selatan, Stevia Farms Co Ltd.

"Jika tidak ada halangan, sekitar September atau Oktober, kami akan melakukan ekspor perdana melalui port Bitung. Perusahaan Korea ini juga segera membangun industri pengolahan stevia di Indonesia senilai 34 juta dolar AS," ujarnya.

Vice President Stevia Farm Co Ltd Kwang Surk Yoo mengaku optimistis dengan peluang budi daya tanaman stevia di Indonesia, khususnya Kabupaten Minahasa, karena potensinya sangat besar.

"Kami cukup banyak melakukan survei di beberapa negara di kawasan Asia dan kami menemui hanya di Indonesia yang paling cocok dan optimal untuk pengembangan stevia ini," jelasnya.

Ia memaparkan, saat ini kebutuhan stevia dunia kurang lebih 1.200 ton per bulan, dengan sekitar 200 tonnya terserap oleh industri pangan dan farmasi di Korea Selatan.

Sedangkan, sisanya untuk kebutuhan negara-negara lain yang disuplai oleh Stevia Farms dengan branding New Stevia.

"Untuk produk stevia dari Indonesia mempunyai kode produk internasional di Korea dengan nama New Stevia Yun Yan," kata Kwang.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian Dedi Junaedi menyampaikan stevia merupakan salah satu komoditas prospektif, karena bermanfaat sebagai tanaman pemanis rendah kalori substitusi gula tebu.

"Diversifikasi sumber pemanis ini, selain gula kristal putih (GKP) dan gula merah, juga diharapkan dapat mengurangi beban impor, sehingga dapat mendukung pemerintah dalam mewujudkan swasembada pemanis terutama untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga," ujarnya.

Namun, kendala utama pengembangan stevia di Indonesia adalah penyediaan varietas unggul yang masih terbatas, sehingga perlu dukungan oleh teknik perbanyakan bahan tanaman bermutu dan efisien secara masal, serta teknologi budi daya.

"Kemitraan dengan Stevia Farms ini diharapkan dapat mengatasi hal tersebut sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan mutu produk," katanya.

Ia mengatakan kerja sama pengembangan budi daya stevia ini dapat membentuk rantai pasar yang jelas serta memberikan konektivitas permintaan dan penawaran yang memadai sehingga dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan petani.

"CEO PT BKS menjamin bahwa seluruh hasilnya akan dibeli dengan harga yang sudah ditentukan diawal dan dituangkan dalam kontrak dengan petani yang menanam. Daun stevia yang dihasilkan dari lahan yang ada saat ini, baru dikeringkan dan dijual sebagai daun stevia kering oleh petani," katanya, seperti dilansir dari Antara. 

Reporter : Antara
Editor : Irawan HP