Netral English Netral Mandarin
21:22wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
Tanpa Nurani dan Ilahi, Teknologi dan Literasi Pasti 'Mati'

Rabu, 22-September-2021 08:35

dr. Dito Anurogo, MSc
Foto : Antara
dr. Dito Anurogo, MSc
13

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Teknoliterasi berbasis kecerdasan literasi, kecerdasan ilahi, hati semesta berpotensi mencerahkan negeri. Tanpa nurani dan Ilahi, teknologi dan literasi pasti ‘’mati’’.

Dunia semakin lama bertambah maju. Sementara tanpa nilai-nilai kemanusiaan dan keilahian, teknologi seolah menjadi semakin semu. Manusia tanpa keduanya seperti perjalanan waktu yang pasti akan berlalu.

Kecanggihan teknologi tanpa kesadaran dan kecerdasan literasi yang paripurna, hanya melahirkan manusia yang tak tahu malu dengan ‘’beribu mau’’.

Baca Juga :

Manusia modern di era digital-milenial ini semakin banyak yang lupa diri, lupa sesama, lupa lingkungan, bahkan lupa Tuhan. Dengan kecanggihan teknologi nirliterasi, mereka terbelenggu oleh berbagai fantasi dan ilusi, sehingga tidak lagi menemukan potensi dan jatidiri.

Padahal, literasi sejatinya mampu mengantarkan manusia menemukan Ilahi, sumber kebahagiaan hakiki di muka bumi.

Baca Juga :

Literasi sejati berbasis pada kebenaran, moral, etika, serta nilai-nilai universal maknawi. Singkatnya, perpaduan imanen dan transenden, harmonisasi surgawi dan duniawi.

Teknologi memang tidak dapat dipisahkan dari literasi. Keduanya ibarat sahabat karib yang takkan terpisahkan, ibarat kekasih yang sehidup-semati. Literasi tanpa teknologi akan menghasilkan manusia yang tertinggal dari peradaban.

Baca Juga :

Teknologi tanpa ‘’literasi’’ menghasilkan manusia yang hanya berorientasi pada keduniawian, hanya mengejar kemegahan dan kemewahan sehingga melupakan kebenaran.

Dalam ranah akademis maupun empiris, keduanya perlu berpondasikan pada nilai-nilai Pancasila, humanisme, nasionalisme, religiusitas, spiritualitas, dan integritas. Jadi bukan sekadar terpaku pada formalitas.

‘’Literasi’’ di sini tentu dapat dimaknai secara luas, yakni membaca dan memahami buku kehidupan dan semesta yang tak terbatas. Bukankah semesta merupakan ‘’guru’’ yang paling ikhlas? Ia selalu memberi tanpa pernah mengharap untuk dibalas.

Teknoliterasi memerlukan beberapa ‘’tiang dan pondasi dasar’’ demi kejayaan bangsa dan kemajuan peradaban. Di antaranya, kecerdasan literasi, kesadaran ilahiah, kepedulian sesama dan lingkungan, ‘’hati semesta’’ alias hati yang penuh cinta kasih, serta keberlanjutan yang dilandasi integritas, pengabdian, serta kesetiaan pada kebenaran.

Tanpa nilai-nilai itu, teknoliterasi hanya menjadi simulakra dan simalakama yang membawa umat manusia kepada kehancuran.

Kata Itu Senjata

Teknoliterasi merupakan piranti pamungkas di era milenial digital ini. Teknoliterasi juga merupakan solusi di dalam menghadapi disrupsi. Semua itu bermula dari susunan huruf, lalu terangkai menjadi kata-kata.

Kata itu senjata. Ibarat dua sisi koin yang berbeda. Di tangan orang jahat, kata-kata berpotensi merobek asa. Di tangan orang baik, kata-kata berkekuatan mengobati jiwa. Tiada yang melebihi keabadian kata-kata, bila telah tertulis. Tiada yang menghancurkan kemuliaan kata-kata, melainkan akhlak penulis. Itulah kuasa kata, terutama bila tertulis.

Seorang pemimpin seringkali takut kepada pena seorang jurnalis, lebih takut daripada demo ribuan rakyat yang mengatasnamakan sosialis, demokratis, agamis, atau komunis. Karena perkataan akan sirna, sedangkan tulisan itu abadi selamanya.

Berhati-hatilah dengan kata-kata, apabila telah tertulis. Tajamnya melebihi pedang. Tidak hanya dapat melukai seseorang, atau menggelapkan masa depan ribuan orang, kata-kata yang tertulis berpotensi membuat kekebasan terkekang, harapan gersang, harga menjulang, kehormatan terjengkang, silaturahmi renggang, rezim tumbang.

Kata itu senjata. Tertulis terpateri pena. Semesta peradaban berubah. Mampu mengubah sejarah. Tanpa pertumpahan darah. Waspadalah.

Kesederhanaan Awal Kesempurnaan

Banyak sekali penulis yang belum ingin sempurna dalam berkarya. Boleh jadi ia penulis pemula. Boleh jadi pula ia penulis pemalu. Keinginannya banyak. Idenya banyak. Idealismenya tinggi. Bacaannya bermutu tinggi. Dirinya kaya prestasi. Semua hal ia ketahui.

Namun ia malas menulis. Ia selalu menunda menulis. Takut dicela. Takut dicaci. Ia merasa tak percaya diri. Padahal sesempurna apapun, karya manusia itu pastilah ada kelemahannya.

Yang terbaik adalah tetap menulis. Konsistensi di dalam menulis, sesederhana apapun, akan melahirkan karya yang "sempurna".

Kesempurnaan itu bermula dari kesederhanaan. Kesederhanaan yang didukung dengan kesungguhan dan kebersinambungan. Suatu karya disebut sempurna, apabila ia sederhana dalam bahasa namun kaya makna.

Kesempurnaan itu berproses. Dari tiada menjadi ada. Dari belum pernah menjadi terbiasa. Dari amatir menjadi mahir. Tiada kesempurnaan tanpa latihan yang berkesinambungan.

Kesempurnaan juga buah dari proses perjuangan panjang. Bukan sekadar bermalas-malas, bukan sekadar bermain-main.

Kesempurnaan bermula dari kesederhanaan. Sederhana namun anggun nan memikat. Itulah karya yang sempurna. Mampu menggetarkan hati dan menggerakkan nurani. Kesederhanaan yang didukung oleh kebersinambungan merupakan awal dari kesempurnaan.

Kecerdasan Literasi

Kecerdasan literasi adalah perpaduan softskills dan hardskills di dalam menghadapi dilema dan problematika kehidupan sehingga menemukan solusi dan inovasi tepat yang membawa kesejahteraan bagi umat manusia.

Seseorang dengan kecerdasan literasi tinggi pasti lihai membaca situasi, memahami pelbagai fenomena kehidupan, mampu memaksimalkan potensi dan kelemahan diri sendiri, beradaptasi cepat dengan perubahan, mengatasi disrupsi secara arif-bijaksana, senantiasa mampu bersinergi-berkolaborasi demi perubahan dan kebaikan bersama.

Kecanggihan teknologi tanpa kecerdasan literasi merupakan tragedi terbesar penghancur kemanusiaan.

Contoh insan berkecerdasan literasi tinggi adalah para Nabi, Rasul, pemuka agama, ruhaniawan, cendekiawan, guru bangsa, tokoh pemuda, dokter rakyat, dan para pemimpin yang berhasil mengubah dunia melalui ‘’mahakarya’’ mereka.

Namun ada pula ‘’pendekar literasi’’ yang berasal dari rakyat jelata, bukan dari bangsawan atau orang ternama. Boleh jadi di antara mereka tidak populer di bumi, namun nama mereka dikenal oleh penduduk samawi (langit).

Kesadaran Ilahiah

Kesadaran ilahiah berawal dari mengenali diri. Kenalilah dirimu, maka engkau akan mengenali siapa Tuhanmu. Kesadaran ilahiah ini merupakan kesadaran tertinggi manusia, bahwa dirinya berasal dari Allah, dijadikan sebagai khalifah di muka bumi oleh Allah, senantiasa bersama dan diawasi oleh Allah, dan pasti kembali menghadap Allah. Pengenalan diri adalah kunci sekaligus pondasi dasar di dalam mengenali Allah.

Teknoliterasi berbasis kesadaran Ilahiah mampu melahirkan pemimpin besar dunia yang berintegritas. Teknoliterasi nirkesadaran Ilahiah hanya mampu menghadirkan wacana tak terbatas dan tak berkelas.

Oleh karena itu, integrasi antara teknoliterasi dan kesadaran Ilahiah diharapkan mampu menghadirkan kedamaian serta dapat menyejahterakan manusia. Menghadirkan keindahan sekaligus kesejatian di dalam keseharian. Karena keindahan tanpa kesejatian, ibarat langit tanpa bintang dan lautan tanpa ikan.

Hati Semesta

Hati adalah kunci. Kunci perilaku, perkataan, kebiasaan manusia. Bila hati seseorang mulia, maka tutur katanya penuh kelembutan dan kebijaksanaan. Hati semesta adalah konsep makrokosmos dalam mikrokosmos. Mirip dengan konsep Yin dan Yang serta Cakra Manggilingan (roda kehidupan).

Dengan kata lain, dunia luar hanyalah persepsi dan imajinasi. Dunia dalam diri sendiri itulah yang hakiki dan sejati. Sehingga seringkali kita mengetahui, meskipun hanya sedikit yang menyadari, bahwa kebahagiaan itu tak terbeli karena berada di hati dan bermula dari dalam diri sendiri.

Teknoliterasi berbasis hati semesta menyiratkan keseimbangan dan keharmonisan dalam simulakra kehidupan. Hati semesta merupakan simbolisasi-harmonisasi dari kehidupan-hidup sehat, serasi, selaras, serta seimbang.

Tidak ada yang abadi di muka bumi. Manusia pun akhirnya mati. Namun, tidak demikian dengan teknoliterasi. Di era digitalisasi, ia ‘’abadi’’ dan membumi. Teknoliterasi merupakan pondasi kemajuan peradaban dan kejayaan negeri bila ia berlandaskan hati semesta, kesadaran Ilahiah, dan kecerdasan literasi.

Penulis: dr. Dito Anurogo, M.Sc 

Dokter literasi digital, peraih the Best Position Paper of UN Women 2021 (kerjasama antara International Model United Nations, UNDP, UNESCO, dan Australian Embassy), dosen tetap di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Indonesia, sedang studi S3 di International PhD Program for Cell Therapy and Regeneration Medicine (IPCTRM), College of Medicine, Taipei Medical University (TMU), Taiwan.

Reporter : Antara
Editor : Taat Ujianto