Netral English Netral Mandarin
04:01wib
Relawan Sahabat Ganjar kembali melakukan deklarasi mendukung Ganjar Pranowo untuk maju sebagai calon presiden 2024. Penembakan seorang ustad bernama Armand alias Alex di depan rumahnya Jalan Nean Saba, Kelurahan Kunciran, Kecamatan Pinang, Tangerang hingga kini masih menjadi misteri.
Tantang Musni Tunjukkan Buzzer yang Dibayar dan Dipelihara, FH: Jangan Jadi Sampah Propaganda

Selasa, 27-Juli-2021 21:55

Mantan politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean (FH)
Foto : Genpi
Mantan politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean (FH)
13

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Eks politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean merespons cuitan sosiolog Musni Umar soal buzzer dibayar dan dipelihara.

Melalui akun Twitter-nya, Ferdinand tantang Musni untuk menunjukkan siapa buzzer yang dimaksud dan siapa yang membayar dan memelihara buzzer.

Adapun Musni melontarkan hal itu setelah mengaku setuju dengan pernyataan Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) yang menyebut buzzer sebagai sumber kekacauan di negeri ini.

"Mus, tunjukkan siapa buzzernya biar kita cari siapa yang bayar dan siapa yang pelihara," tulis Ferdinand di akun Twitter-nya, dikutip netralnews.com Selasa (27/7/2021).

Ferdinand menyebut, kalau Musni tak mampu menunjukkan buzzer tersebut maka dipastikan Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC) itu asal bicara.

"Jangan asal ngomong setuju tapi tak mampu tunjukkan buzzernya yang mana. Ayo Mus, jadi manusia yang benar bukan jadi sampah propaganda," tegas @FerdinandHaean3.

Sebelumnya, Musni Umar mengaku sepakat dengan pernyataan Jusuf Kalla (JK) yang menyebut para pendengung (buzzer) sebagai sumber kekacauan di negeri ini.

"Pak JK sebut buzzer sumber kekacauan di tanah air. Saya setuju," tulis Musni di akun Twitter-nya, Senin (26/7/2021) dengan menyertakan link pemberitaan media online soal pernyataan JK tentang buzzer.

Selain setuju, Musni juga mempertanyakan pihak yang memelihara dan membayar para buzzer.

"Pertanyaannya, siapa yang biaya mereka, yang pelihara mereka sehingga mereka kebal hukum?," kata Musni Umar.

Diketahui, soal tudingan buzzer sebagai sumber kekacauan di negeri ini, disampaikan Jusuf Kalla dalam wawancara dengan Tim Blak-blakan detikcom pada Februari 2021 lalu.

Saat itu Jusuf Kalla menyebut buzzer sengaja hadir dan mendapat ruang dalam kampanye pemilu untuk menyampaikan segala hal positif kandidat yang didukungnya. Juga sebaliknya mereka dipersiapkan untuk mengkritisi kekurangan para kandidat lain yang menjadi lawannya.

"Sebenarnya buzzer itu mulai pada setiap kampanye. Tapi itu biasa saja, bagaimana memuji pasangan calon yang didukungnya atau mencela lawannya," kata JK.

Mestinya, lanjut JK, kerja buzzer berhenti setelah pemilu selesai karena suda ada pihak yang menjadi pemenangnya. Tapi yang terjadi kemudian justru menjadi geng yang terus dipelihara, dibayar untuk membuli siapa yang mengkritik.

"Jadi tolonglah siapa itu yang bisa memperbaiki. Sebab sumber segala kekacauan adalah buzzer-buzzer itu. Seharusnya sudah lah, tidak perlu lagi ada pencitraan yang macam-macam. Tidak perlu lagi merusak nama orang, biar demokrasi berjalan dengan baik," tegas JK.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati