Netral English Netral Mandarin
15:06wib
Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) mengaku sudah menyelesaikan 24 masalah yang tertunda ke Badan Anti Doping Dunia (WADA). Pemerintah berencana memberikan vaksin Covid-19 booster pada masyarakat.
Temukan Potensi Terbesar Pada Diri Anak, Begini Caranya

Senin, 27-September-2021 20:00

Ilustrasi anak-anak menulis di papan tulis.
Foto : Antara
Ilustrasi anak-anak menulis di papan tulis.
15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Richardus Eko Indrajit mengatakan orangtua di rumah dan pendidik di sekolah perlu membuka ruang komunikasi yang baik untuk mendukung anak menemukan kekuatan atau potensi dari dalam (inner strength).

“Ketika komunikasi itu terjadi, anak-anak merasa disayang oleh orangtua dan guru-gurunya, dan inner strength-nya pasti akan keluar, terutama kalau yang dia lakukan adalah yang dia sukai,” kata Eko dalam diskusi virtual mengenai kemampuan anak, Senin (27/9/2021).

Menurut Eko, situasi pandemi juga membuka kesempatan para guru untuk mendiskusikan model pembelajaran yang tepat bersama dengan orangtua dan anak-anak.

Selain sebagai pengajar, Eko juga merasakan bagaimana tantangan menjadi orangtua. Menurutnya, masa pandemi yang telah berlangsung dua tahun belakangan justru membuka jalan kepada anak-anaknya untuk berkembang dan menemukan inner strength.

“Segitiga komunikasi antara orangtua, guru, dan anak-anak itu adalah penting karena pendidikan dimulai dari rumah. Kalau di rumahnya sudah bahagia, masuk ke sekolah dia juga akan bahagia,” ujar Eko seperti dilansir Antara.

Ia menekankan bahwa pendidikan yang baik untuk anak-anak bermula dari lingkungan keluarga, baru kemudian didukung oleh tenaga pendidik di sekolah.

“Saya punya empat anak yang memiliki hubungan darah dan emosional dengan saya dan istri saya, itu saja sulit bagi untuk bisa mendidik dengan kesabaran hati dan segala bentuk tantangannya. Bayangkan seorang guru, di satu kelas bertemu 30 anak yang tidak memiliki hubungan darah dan hubungan emosionalnya baru saja terjadi saat baru masuk, Anda harapkan mereka bisa mendidik sebagaimana orangtuanya tentu saja guru akan mengalami kesulitan,” terang Eko.

Oleh sebab itu, kata Eko, guru juga perlu mendapat dukungan penuh dari orangtua dan orangtua tidak boleh angkat tangan terhadap tanggungjawab pendidikan anak-anak.

“Tugas orangtua dan guru memberikan ‘pupuk’ yang pas agar tanahnya subur dan anak bisa tumbuh di dalam tanah yang subur itu,” tuturnya.

Senada dengan Eko, Psikolog Anak dan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Kak Seto Mulyadi mengatakan orangtua memiliki peran penting untuk memberi dorongan di dalam proses tumbuh kembang anak sehingga rasa percaya dirinya dapat terpupuk dengan baik dan inner strength juga dapat terbentuk.

“Kalau saya mengumpamakan anak-anak adalah aneka warna bunga di taman sari keluarga. Mereka hanya akan merekah dengan segala keelokannya kalau ditanam di tanah yang subur, yang diberi pupuk, disiram dengan penuh kasih sayang, dilindungi dari terpaan angin atau badai, dan sebagainya,” katanya.

Ia menekankan orangtua harus mampu menjadi orangtua yang ramah anak dan selalu mengapresiasi apa pun potensi sang anak. Anak-anak harus diperlakukan sebagai subjek dan bukan objek semata, serta tidak perlu membanding-bandingkan dirinya dengan anak-anak lain sehingga di masa depan mereka akan lebih cemerlang.

“Semua anak itu unggul, hebat, dan cemerlang. Sama saja kita tidak bisa membandingkan siapa yang lebih hebat antara Einstein, Pablo Picasso, Mozart, Bethoven, Ronaldo, atau Michael Jackson, semuanya hebat pada bidangnya masing-masing,” ujar kak Seto.

Reporter : Antara
Editor : Irawan HP