Netral English Netral Mandarin
05:43wib
Enam belas tim telah memastikan lolos ke babak 16 besar Euro 2020 (Euro 2021) usai berlangsungnya matchday terakhir penyisihan grup, Kamis (24/6) dini hari WIB. Sejumlah daerah di provinsi Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta masuk kategori zona merah atau wilayah dengan risiko tinggi penularan virus corona (covid-19) dalam sepekan terakhir
Terkuak! Usai Divaksin AstraZeneca Seorang Pria Meninggal, Begini Pengalaman Warganet Terima Vaksin yang Sama

Senin, 10-Mei-2021 17:07

Ilustrasi vaksi AstraZeneca
Foto : Antara Foto
Ilustrasi vaksi AstraZeneca
5

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Di sosial media ramai gunjingkan berita seorang pria asal Jakarta dikabarkan meninggal dunia usai menerima vaksin Corona AstraZeneca.

Banyak netizen kemudian berbagi cerita pengalaman menerima vaksin yang sama. Hal ini bisa dilihat salah satunya di akun FB Mak Lambe Turah, Senin 10 Mei 2021. 

MLT: “Mak vaksin Sinovac biasa aja, badan lebih sehat dan segar,,,masalahnya tapi ada sih efek sampingnya ,, kelaperan terus..bisa2 body tambah melar.”

Generasi Salafy: “Aku dapat astra zeneca juga Mak Lambe Turah gak apa2 emang ada efek sampingnya kbanyakan kawan2 ku demam kalo aku sndiri nyeri di sendi ama lemes.”

Viviana Nia: “Alhamdulillah aq udh dpt vaksin sinovac efek y cuma ngantuk aja.”

Nitha Bakol Gombalan: “Alhamdulillah aku udah vaksin biotech ga ad efek,,cm njarem di tngn.”

Jerry Ronald Siahaan: “Kmrn dh ad kejadian d LN. Masak ndak bljr dr pengalaman."

Sebelumnya diberitakan, seorang pria asal Jakarta dikabarkan meninggal dunia usai menerima vaksin Corona AstraZeneca. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) angkat bicara.

Juru bicara vaksinasi dari Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan kejadian ini sedang dikaji oleh pihak terkait yaitu Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

"Sedang dikaji Komnas KIPI dan Komda KIPI," kata Nadia saat dihubungi, Senin (10/5/2021).

Nadia mengatakan Komnas KIPI akan melakukan audit kematian. Investigasi dilakukan kepada berbagai pihak. Jenazah pria itu sudah dimakamkan oleh keluarganya.

"Dari semua pihak," tambahnya.

Sebelumnya dinukil detik.com, Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Hindra Hingky Setiawan menjelaskan kronologinya.

Pria berusia 21 tahun tersebut mulanya menjalani vaksinasi AstraZeneca di GBK pada Rabu (5/5/2021) pukul setengah 2 siang. Sesudah menjalani vaksinasi, dirinya kembali bekerja di kantor, bertempat di Pegadaian Cibubur.

Selama proses observasi 30 menit, pasca divaksin AstraZeneca, tidak ditemukan keluhan apapun. Gejala mulai muncul saat dirinya bekerja di kantor, ia merasa tak enak badan.

Prof Hindra menyayangkan, yang bersangkutan tak langsung melapor ke nomor telepon yang tertera di kartu vaksinasi. Namun, pria tersebut disebutnya langsung berinisiatif berobat ke dokter umum.

"Dia tidak melapor ke tempat vaksin, kan ada nomor telepon kan di belakang kartu itu. Tapi dia mau berobat ke dokter di dokter biasa dia berobat. Jadi pertanyaan saya, apakah dia punya penyakit dokter langganan, kebetulan dokter langganannya nggak praktik, jadi nggak berobat," jelas Prof Hindra.

Gejala tak kunjung membaik hingga tengah malam. Demam yang dirasakan pria tersebut semakin tinggi dan dirinya disebut Prof Hindra tak kunjung berobat lantaran dokter langganan pria Jakarta ini sedang tak praktik.

"Tengah malam dia demam, tinggi, nggak berobat juga, kemudian paginya dia merasa pegal, jadi dipijit, yang bersangkutan belum menikah jadi tinggal serumah dengan keluarga. Setelah dipijat itu pingsan dia, lalu dibawa ke rs di Rawamangun, namun ternyata sampai di RS death on arrival," kata Prof Hindra.

Kasus Penggunaan Vaksin AstraZeneca di Inggris 

Secara terpisah, sebelumnya diberitakan sebanyak 168 orang menderita pembekuan darah langka setelah menerima suntikan vaksin Covid-19 AstraZeneca di Inggris. Sementara, 32 orang dilaporkan meninggal dunia akibat pembekuan darah ini.

Data tersebut disampaikan Badan Pengatur Produk Obat dan Kesehatan Inggris (MHRA) per 14 April 2021.

"Berdasarkan tinjauan yang sedang berlangsung ini, sarannya tetap bahwa manfaat vaksin lebih besar daripada risikonya pada sebagian besar orang," kata MHRA seperti CNN Indonesia dari berita AFP, Jumat (23/4).

Bertindak atas saran regulator, pemerintah Inggris setuju untuk menawarkan kepada penduduk di bawah umur 30 tahun alternatif penggunaan vaksin lain karena khawatir tentang pembekuan darah.

Dari 168 kasus dalam ringkasan terbaru, trombosis sinus vena serebri (CVST atau pembekuan darah di otak) dilaporkan dalam 77 kasus, dengan usia rata-rata 47 tahun.

Sementara 91 kasus lainnya memiliki "peristiwa tromboemboli besar" bersama dengan trombositopenia atau jumlah trombosit yang rendah dengan usia rata-rata 55 tahun.

Dari jumlah tersebut, terdiri dari 93 wanita dan 75 pria yang mengalami pembekuan setelah menerima vaksin AstraZeneca.

"Saya berharap jumlah sebenarnya dari kasus per juta dosis vaksin menjadi jelas segera setelah laporan ini stabil, tetapi sudah jelas bahwa itu akan tetap menjadi peristiwa yang sangat langka," kata profesor pediatri Universitas Bristol, Adam Finn.

Inggris memiliki angka kematian tertinggi di Eropa akibat pandemi Covid-19. Sejak vaksinasi massal dimulai dengan vaksin AstraZeneca pada bulan Desember 2020, tingkat infeksi, rawat inap, dan kematian menurun drastis.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Kantor Statistik Nasional, virus corona tidak lagi menjadi penyebab utama kematian pada Maret 2021. Covid-19 menjadi penyebab utama kematian ketiga di Inggris bulan lalu, turun dari posisi teratas untuk pertama kalinya sejak Oktober.

Sejumlah negara, terutama di Eropa yang dialami para penerimanya. Beberapa kasus tersebut mengakibatkan penerima vaksin meninggal dunia.

Indonesia juga sempat menunda penggunaan vaksin AstraZeneca. Namun, tak lama memberikan lampu hijau untuk mulai menggunakan vaksin asal Inggris tersebut.

Terlepas dari efek samping AstraZeneca, MHRA dan European Medicines Agency (EMA) menganggap vaksin tersebut masih aman digunakan. Kedua regulator pengawas obat itu menganggap belum ada bukti bahwa efek samping pembekuan darah disebabkan oleh suntikan vaksin AstraZeneca.

Selain AstaZeneca, Inggris juga menggunakan vaksin corona Pfizer/BioNTech dalam program vaksinasi nasionalnya. Sejauh ini, MHRA mengatakan tidak menerima laporan pembekuan darah dari para penerima vaksin asal perusahaan farmasi Amerika Serikat itu.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli