Netral English Netral Mandarin
15:20 wib
Sejumlah ahli mengkritik penerapan alat deteksi Covid-19 GeNose karena masih tahap ekperimental. Belum bisa dipakai dalam pelayanan publik khususnya screening Covid-19. Polri menegaskan akan menindaklanjuti kasus rasisme yang dialami mantan komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai. Diketahui, Pigai menjadi korban rasis yang dilakukan Ambroncius Nababan.
Ternyata Mensos Risma Lakukan Ini pada Gelandangan yang Ditemui saat Blusukan 

Jumat, 08-January-2021 10:30

Penerima Manfaat (PM) telah berada di Balai Karya
Foto : Kementerian Sosial
Penerima Manfaat (PM) telah berada di Balai Karya
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini terus melakukan penjangkauan warga terlantar di Jakarta. Dia melakukan penjangkauan di beberapa wilayah sejak awal kepemimpinannya menjadi Menteri Sosial.

Kegiatan 'blusukan' ini sudah biasa dilakukan oleh Risma jauh sebelum jadi Walikota. Banyak hal yang harus dilakukan pasca penjemputan warga terlantar,  tidak hanya solusi kongkrit secara perseorangan bagi warga terlantar atau termarjinal, tetapi langkah-langkah strategis pemenuhan hak dasar warga masyarakat yang selama ini terpinggirkan.

Hingga kini, sebanyak 23 warga terlantar atau disebut dengan Penerima Manfaat (PM) telah berada di Balai Karya "Pangudi Luhur" Bekasi yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Sosial. Dua diantaranya dirujuk ke Balai Lansia "Budhi Dharma" Bekasi karena perlu perawatan sosial secara intensif.



"Balai dalam hal ini tidak hanya memberikan layanan rehabilitasi sosial dan pemberdayaan sosial, tetapi harus dapat dipastikan PM bisa mandiri, merubah cara berfikir, merubah perilaku dan diberi pelatihan serta diasistensi dengan intensif pada saat aftercare hingga PM dapat hidup layak dan mandiri," kata Mensos Risma, seperti dalam keterangan tertulisnya, Jumat (8/1/2021).

Untuk diketahui, sebanyak 23 PM ini terdiri dari delapan perempuan dan 15 laki-laki. Rata-rata mereka bermata pencaharian sebagai pemulung.

Mereka juga tidak memiliki tempat tinggal tetap di Jakarta (gelandangan). Ada yang tinggal di kolong jembatan, di emperan toko, di gerobak sampah, di pasar  di lapak atau di pemukiman kumuh.

Mereka ditemukan di beberapa lokasi seperti di sekitar Pegangsaan, Pasar Baru, Thamrin, Sudirman, Manggarai. Ada juga  rujukan dari Dinas Sosial Subang dan DKI Jakarta.

Terdapat dua orang PM usia anak yang salah satunya tidak bersekolah. Ia hanya mengenyam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Yayasan Education Religion Be Entertainment (ERBE).

Mensos lantas meminta keluarga PM untuk tinggal di Balai Karya "Pangudi Luhur" Bekasi dan anak yang sempat putus sekolah diminta untuk melanjutkan sekolah di sekitar Balai.

Di Balai Karya "Pangudi Luhur" Bekasi, PM dewasa (seperti pemulung) mulai diberikan keterampilan berwirausaha seperti budidaya ikan lele, keterampilan membuat pupuk kompos, budidaya tanaman hidroponik dan keterampilan lainnya yang dapat memberikan penghasilan bagi PM.

Suatu terobosan penting atas inisiatif Mensos untuk pembuatan kompos dan daur ulang sampah non organik, telah ditawarkan kepada Kementerian untuk diambil sampahnya. Kemenkeu, Kemenhub dan Kemen ESDM telah mulai menyalurkan sampah dari kantor ke Balai Pangudi Luhur untuk selanjutnya dilakukan daur ulang sampah oleh para pemulung yg telah jd binaan balai.

Dalam pelaksanaan rehabilitasi sosial dengan memberikan keterampilan wirausaha bagi 23 Orang PM ini, Kemensos menggandeng Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) di Provinsi DKI Jakarta dan Kota Bekasi. LKS turut membantu memberikan pelatihan kewirausahaan bagi 23 PM ini.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani