Netral English Netral Mandarin
18:25 wib
Sony Pictures mengumumkan tunda perilisan film baru mereka. Film Cinderella yang sedianya dijadwalkan rilis pada 5 Februari 2021 diundur ke 16 Juli 2021. Film Ghostbusters: Afterlife juga diundur. Kementerian Kesehatan menegaskan, hampir tak mungkin seseorang yang divaksin Sinovac terinfeksi virus corona karena vaksin. Sebab, vaksin tersebut berisi virus mati.
Terus Bela FPI, Dewi Tanjung Kritik Fadli Zon: Kalau Punya Otak Harusnya Kau Malu Bela Teroris

Rabu, 09-December-2020 15:20

Politisi Dewi Tanjung
Foto : istimewa
Politisi Dewi Tanjung
14

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Politis PDIP Dewi Tanjung mengkritik anggota DPR dari partai Gerindra Fadli Zon. Sebabnya, mantan Wakil Ketua DPR RI itu terus menerus membela Front Pembela Islam (FPI) dan malah memojokkan pemerintah dalam kasus penembakan laskar FPI oleh Anggota Polisi Polda Metro Jaya beberapa hari lalu. 
Fadli, kata Dewi, harusnya malu karena membela teroris perusuh bangsa. 
“Hei Fadli zonk, Kau Ini Jubir FPI atau Anggota DPR RI ??
Kalo kau mau jadi Jubir FPI silahkan kau mundur dari DPR RI karna Gaji anggota DPR dari uang Negara Bukan di biayain FPI.
Kalo Kau Punya OTAK harusnya Kau Malu membela Teroris Perusuh bangsa.
Banyak Bacot aja Kerjaan kau,” bentak Dewi di akun Twitternya, Rabu (9/12/2020).
Sebelumnya, Anggota DPR Fadli Zon memberikan kritik kepada pemerintah karena ia melihat tidak ada penyesalan atau pun ucapan bela sungkawa dari aparat maupun pejabat negara atas tewasnya enam orang Laskar Khusus FPI, pengawal Habib Rizieq Shihab akibat ditembak.
Menurut dia, hal itu menandakan pemerintah kian bersikap otoriter karena menggunakan kekuatan berlebih hingga menewaskan warga sipil.
Fadli Zon mendorong FPI menuntut keadilan atas kasus ini. Jika tidak ini akan menarik Indonesia pada posisi terbelakang dalam urusan demokrasi.
"Ini harus ada satu langkah untuk menuntut keadilan karena kalau tidak ini akan menarik demokrasi kita mundur semakin kebelakang, tidak bisa lagi Indonesia dikatakan negara demokrasi," ucap dia dalam diskusi daring Center of Study for Indonesian Leadership (CSIL), Selasa (8/12/2020).
"Otoritarianisme bisa dimulai dari sini karena tidak sedikitpun terlihat rasa penyesalan, kemudian kita tidak melihat adanya belasungkawa dari tokoh, aparat, dari pejabat tinggi negara," tambah dia.



Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Nazaruli