Netral English Netral Mandarin
banner paskah
01:00wib
Pemerintah kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Kebijakan ini diperpanjang selama 14 hari, terhitung sejak 20 April. Komite Eksekutif UEFA meresmikan format baru untuk kompetisi Liga Champions yang akan mulai digunakan pada musim 2024/2025.
TNI Bertaruh Nyawa, Benarkah Soeharto Malah Asyik Makan Soto? 

Senin, 01-Maret-2021 11:05

Letkol Soeharto Dalam Seranagan Umum 1 Maret
Foto : Soeharto.co
Letkol Soeharto Dalam Seranagan Umum 1 Maret
53

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Bagi generasi yang tumbuh dan dibesarkan di era Orde Baru, pasti tak akan asing dengan peringatan peristiwa Serangan Umum (SU) 1 Maret 1949.

Di era Orde Baru, selain filem penumpasan G-30-S/PKI, pelajar juga biasa diwajibkan menonton film tentang Serangan Umum 1 Maret 1949 dengan judul “Janur Kuning”. Dalam film inilah, sosok Soeharto digambarkan sebagai sosok jagoan paling utama mengalahkan semuanya.

Dalam perang penuh heroik tersebut, Sang Penguasa Orde Baru  tersebut diskenariokan bak pahlawan tanpa tandingannya. Namun, sepandai-pandainya tupai, akan jatuh pula. Demikianlah, satu demi satu, mitos itu diluruskan.

Generasi milenial harus paham bahwa operasi militer TNI bersama elite sipil dan rakyat Yogya patut memang dibanggakan bersama, tetapi menjadi sangat berdosa bila peringatan tersebut diarahkan pada kultus seseorang, apalagi salah alamat.

Bagaimana tidak, SU sebenarnya digagas oleh Menhan Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk mematahkan propaganda Belanda. Namun mengapa dalam “Janur Kuning” (saat Soeharto berkuasa), peranan Menhan Sri Sultan Hamengkubuwono IX menjadi nomor dua?

Setelah melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948 dan menahan pimpinan republik, Belanda mengklaim Indonesia sudah musnah. Oleh sebab itu, Hamengkubuwono IX menyampaikan gagasan SU untuk mematahkan propaganda Belanda tersebut.

Ternyata, gagasannya diterima Panglima Sudirman dan ditindaklanjuti dengan memerintahkan Letkol Soeharto untuk melaksanakan serangan kilat selama enam jam. Alhasil, pada pagi 1 Maret Belanda dikejutkan serangan yang datang dari berbagai sudut mata angin Yogyakarta.

Hasil dari operasi itu menjadi bahan para elite sipil untuk berjuang secara diplomatik, yang kemudian membuat Belanda mau berunding.

Dari situ pula negara-negara lain di dunia satu per satu makin banyak yang mengakui kedaulatan Indonesia hingga berlanjut pada Konferensi Meja Bundar yang membuat Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949.

Santai Makan Soto

Bagaimanakah kisah yang mengkritisi peran Soeharto saat SU berlangsung? Adalah Kapten Abdul Latief yang membongkar dan mematahkan narasi yang dibangun Soeharto.

Siang hari, 1 Maret 1949, di tengah desingan berondongan peluru tentara Belanda,  segelintir prajurit di bawah komando Latief berhasil meloloskan. Dua orang anak buahnya telah gugur dan belasan luka-luka.

Mereka mundur dengan maksud untuk bergabung dengan pasukan di markas utama di daerah Kuncen, sisi barat Kota Yogyakarta.

Saat tiba di markas itulah, Kapten Abdul Latief bertemu dengan Letkol Soeharto yang ternyata sedang duduk santai sembari menikmati soto babat.

“Kira-kira pada jam 12.00 siang hari, bertemulah saya dengan Komandan Wehrkreise Letkol Soeharto di markas, rumah yang saya tempati sebagai markas gerilya. Waktu itu beliau sedang menikmati makan soto babat bersama-sama pengawal dan ajudannya,” kata Latief. 

Anehnya, Soeharto bukannya terusik dan segera sigap menerima laporan Kapten Latief, sambil melanjutkan santap soto, Soeharto justru memerintahkan Latief dan anak buahnya untuk kembali berperang melawan Belanda.

Kapten Latief juga menceritakan peristiwa menggelitik kepada Soebandrio, mantan Wakil Perdana Menteri RI yang kemudian tertuang dalam catatan Soebandrio dalam buku Kesaksianku Tentang G-30-S (2000).

“Nah, saat Latief bersama sisa pasukannya berada di garis belakang itulah, mereka berjumpa Soeharto. Apa yang dilakukan Soeharto? ‘Dia sedang santai makan soto babat,’ ujar Latief” (hlm. 46) seperti dikutip Iswara N Raditya dalam Tirto.id.

"Ketika itu," tambah Soebandrio, "perang sedang berlangsung, ribuan tentara dan pemuda gerilyawan tengah beradu nasib menyabung nyawa, merebut tanah yang diduduki oleh penjajah. Toh, Latief dengan sikap tegap prajurit, melapor kepada Soeharto tentang kondisi pasukannya."

Latief sendiri mengakui bahwa ia selalu menghormati Soeharto selaku komandannya. Bahkan, selama masa Revolusi hingga terjadinya Serangan Umum 1 Maret 1949, Latief selalu diandalkan oleh Letkol Soeharto.

"[...] menurut perasaan saya, bahwa saya selalu mendapat kepercayaan (dari Soeharto). Sewaktu masa gerilya di Yogyakarta, sering saya mendapat perintah-perintah penting untuk menggempur kedudukan musuh tentara Belanda, dengan menggabungkan pasukan lain di bawah pimpinan saya," ungkap Latief.

“Kemudian pada penyerangan total Kota Yogyakarta dan terkenal dengan 6 jam di Yogyakarta (Serangan Umum 1 Maret 1949), pasukan saya mendapat kepercayaan untuk menduduki daerah sepanjang Malioboro, mulai dari Stasiun Tugu sampai Pasar Besar Yogyakarta (Beringharjo),” imbuhnya.

Sayang, di penghujung tahun 1965, peristiwa G-30-S merubah nasib Kapten Abdul Latief menuju penjara dan menjauhkan dirinya dari Soeharto. Ia dipenjara karena keterlibatannya dalam peristiwa berdarah tersebut.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto