Netral English Netral Mandarin
21:40wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
TNI Disusupi PKI? Letjen Dudung Sebut Tudingan Keji, Fadli Zon: Benda Museum Diangkut, Salah Fatal

Selasa, 28-September-2021 10:03

Letjend Dudung Abdurachman dan Fadli Zon
Foto : Kolase Netralnews
Letjend Dudung Abdurachman dan Fadli Zon
15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Gatot Nurmantyo sebelumnya menyebutkan bahwa ada indikasi TNI disusupi PKI atau penganut komunisme. 

Namun tudingan  ini dinilai sebagai tudingan keji oleh Pangkostrad Dudung Abdurachman. 

Seorang warganet bernama Lukman Simandjuntak @hipohan berkomentara; “Sebelum menuduh tudingan Gatot keji, Dudung harus jelaskan atas biaya siapa patung tsb dibuat, jika ternyata atas biaya negara, semestinya permintaan pembongkaran oleh AY Nasution tidak serta merta disetujui Dudung. Kalau tiba2 dibongkar, ya wajar saja orang bertanya2.”

Pernyataan Lukman ternyata mendapat perhatian Politikus Gerindra, Fadli Zon yang menanggapi:

“Tidak bisa benda museum seenaknya diangkut atas permintaan seseorang. Apalagi menyangkut tonggak sejarah penting bangsa kita. Ini kesalahan yg fatal,” kata Fadli Zon, Selasa 28 September 2021.

Untuk diketahui, Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letnan Jenderal Dudung Abdurachman menepis tudingan mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo bahwa militer Angkatan Darat (AD) tengah disusupi oleh PKI.

Diketahui, hal tersebut disampaikan Gatot saat membeberkan bahwa patung sejumlah tokoh nasional yang terlibat dalam persitiwa G30S/PKI telah raib di Museum Dharma Bhakti Markas Kostrad.

"Tidak benar tudingan bahwa karena patung diorama itu sudah tidak ada, diindikasikan bahwa AD telah disusupi oleh PKI. Itu tudingan yang keji terhadap kami," kata Dudung kepada wartawan, Senin (27/9).

Ia menilai bahwa seharusnya Gatot sebagai prajurit dapat melakukan klarifikasi terlebih dahulu terhadap organisasi sebelum membeberkannya ke publik luas dan menjadi prasangka.

Lebih lanjut, dia menyebutkan bahwa pernyataan Gatot itu dapat membuat fitnah dan menimbulkan kegaduhan di Indonesia.

"Dalam Islam disebut tabayun agar tidak menimbulkan prasangka buruk yang membuat fitnah," jelas Dudung.

Dudung menyebutkan bahwa patung-patung itu hilang dari Markas karena diminta kembali oleh pembuatnya, yakni Pangkostrad terdahulu, Letjen (Purn) Azym Yusri Nasution. Ia pun tak bisa menolak permintaan tersebut.

Menurutnya, AY Nasution merasa berdosa telah membuat patung-patung tersebut menurut keyakinan agamanya.

"Jadi saya tidak bisa menolak permintaan yang bersangkutan," tambah Jenderal bintang tiga itu.

Dudung menolak apabila penarikan tiga patung tersebut membuat Gatot menyimpulkan TNI melupakan peristiwa sejarah G30S/PKI.

"Saya dan Letjen TNI (Purn) AY Nasution mempunyai komitmen yang sama tidak akan melupakan peristiwa terbunuhnya para jenderal senior TNI AD dan perwira pertama Kapten Piere Tendean dalam peristiwa itu," ucapnya.

Sebagai informasi, dalam webinar yang digelar Minggu (26/9), Gatot menyatakan bahwa penghilangan patung tokoh nasional G30S/PKI di Markas Kostrad itu sebagai upaya penyusupan paham komunis di militer Indonesia.

Ia secara lugas menyebutkan bahwa indikasi-indikasi tersebut tidak dapat dibiarkan karena dapat mengulang sejarah kelam tahun 65.

"Saya mengetuk hati para patriotisme kstaria prajurit AD, AL, AU untuk bahu membahu mawas diri membersihkan jangan sampai paham ini bisa masuk yang akan meruntuhkan nilai-nilai perjuangan patriotisme," ucap Gatot.

Penjelasan Kostrad

Kepala Penerangan Kostrad Kolonel (Inf) Haryantana dalam keterangan tertulis menyatakan Azmyn melakukan kunjungan ke Pangkostrad saat ini, Letjen TNI Dudung Abdurachman pada 30 Agustus 2021 untuk meminta pembongkaran patung-patung itu.

"Bahwa pembongkaran patung-patung tersebut atas keinginan dan ide Letnan Jenderal TNI (Purn) Azmyn Yusri Nasution, karena pada saat menjabat Pangkostrad periode (9 Agustus 2011-13 Maret 2012) beliau yang membuat ide untuk pembuatan patung-patung tersebut," kata Haryantana.

Menurutnya, purnawirawan TNI itu meminta pengembalian patung untuk ketenangan lahir dan batin. Oleh sebab itu, Kostrad memberikan izin dan tak melarang.

Sehingga, Kostrad membantah apabila disebutkan bahwa pihaknya yang menghilangkan patung sejarah penumpasan G30S/PKI tersebut.

"Disimpulkan bahwa Kostrad tidak pernah membongkar atau menghilangkan patung sejarah," katanya seperti dinukil CNN Indonesia.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sulha Handayani