Netral English Netral Mandarin
04:17wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Tofa: Harusnya dengan Utang Terbesar di Dunia maka Indonesia Jadi Negara Maju Saat Ini, Nyatanya...

Selasa, 12-Oktober-2021 09:24

Mustofa Nahrawardaya
Foto : Twitter/Mustofa Nahrawardaya
Mustofa Nahrawardaya
16

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politikus Partai Ummat, Mustofa Nahrawardaya menanggapi situasi Indonesia yang saat ini menjadi salah satu pengutang terbesar di dunia. 

“Ini adalah fakta. Harusnya dengan utang terbesar di dunia, maka Indonesia jadi negara maju saat ini. Nyatanya, tidak,” kata Mustofa Nahrawardaya, Selasa 12 Oktober 2021. 

“Faktanya, hampir semua tetap impor. SDM banyak diimpor. Proyek, juga banyak impor. Sudah jadi, malah dijual. Dimana kedaulatan kita?” tanya Mustofa Nahrawardaya.

Untuk diketahui, Bank Dunia mengumumkan data utang terbaru dalam International Debt Statistics (IDS) 2022 yang dipublikasikan hari ini, Senin, 11 Oktober 2021. Hasilnya, Indonesia masih masuk negara dengan utang jumbo.

Selama masa Pandemi COVID-19, yakni sepanjang 2020, Bank Dunia mencatat stok utang luar negeri negara-negara berpendapatan rendah dan menengah secara total naik 5,3 persen pada 2020 menjadi US$8,7 triliun.

Presiden Bank Dunia David Malpass menyatakan, perlunya terobosan menyeluruh untuk mengelola utang demi membantu negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Khususnya guna mengurangi risiko serta mencapai tingkat utang yang berkelanjutan.

“Kami membutuhkan pendekatan yang komprehensif untuk masalah utang, termasuk pengurangan utang, restrukturisasi yang lebih cepat, dan peningkatan transparansi,” ujar David dikutip dari keterangannya, Selasa, 12 Oktober 2021.

Pada 2020, Bank Dunia juga mencatat net inflows dari kreditur multilater terhadap negara berpendapatan rendah dan menengah naik hingga US$117 miliar. Angka ini disebutkan menjadi yang tertinggi selama satu dekade tetakhir.

Net debt inflow terhadap utang publik eksternal naik 25 persen menjadi US$71 miliar, juga menjadi yang tertinggi selama satu dekade terakhir. Kreditur multilateral termasuk International Monetery Fund (IMF), menyediakan US$42 miliar net inflows. Sedangkan kreditur bilateral menyumbang tambahan US$10 miliar.

“Perekonomian di seluruh dunia menghadapi tantangan berat yang ditimbulkan oleh tingkat utang yang tinggi dan juga meningkat pesat,” kata Wakil Presiden Senior dan Kepala Ekonom Grup Bank Dunia Carmen Reinhart seperti dinukil Viva.co.

Transparansi utang yang lebih baik dianggap makin penting dalam mengatasi risiko yang ditimbulkan oleh meningkatnya utang di banyak negara berkembang. Untuk memfasilitasi transparansi, International Debt Statistics 2022 diperluas untuk memberikan data utang luar negeri yang lebih mendetail dan terpilah daripada sebelumnya

Dalam laporan terbaru tersebut, disebutkan bahwa Indonesia masuk ke dalam jajaran peminjam atau Top 10 negara-negara berpendapatan rendah dan menengah yang memiliki utang terbesar pada periode 2019-2020, selain China.

Indonesia masuk ke dalam jajaran bersama dengan India, Brazil, Rusia, Mexico, Turki, Argentina, Thailand dan Afrika Selatan. Dalam laporan ini, total stok utang eksternal RI tercatat sebanyak US$417,53 miliar pada 2020 naik dari 2019 sebesar US$402,10 miliar.

Pada laporan tahun sebelumnya, diketahui Indonesia juga masuk ke dalam jajaran 10 negara terbesar yang memiliki utang eksternal tertinggi. Indonesia disebut berada pada posisi 7 sebagai negara pemilik utang terbesar dunia.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sulha Handayani