Netral English Netral Mandarin
21:39wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
Tofa: Jangankan KPK, Densus Australia pun, Tidak Bakal Bisa Mengendus Harun Masiku

Sabtu, 25-September-2021 16:50

Mustofa Nahrawardaya
Foto : Twitter/Mustofa Nahrawardaya
Mustofa Nahrawardaya
18

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politikus Partai Ummat menyindir keberadaan Harun Masikuyang hingga kini belum juga ditangkap oleh KPK.

Lucunya, bagaimana sulitnya menangkap Harun, Mustofa justru bandingkan dengan “Densus Australia”.

“Jangankan KPK. Densus Australiapun, kalau punya ya, saya kira tidak bakal bisa mengendus Harun Masiku,” kata Mustofa Nahrawardaya.

Untuk diketahui, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu silam membantah telah melakukan penangkapan terhadap Harun Masiku. 

Menurut KPK, hingga kini, pihaknya belum menemukan keberadaan buronan kasus suap pergantian antar waktu (PAW) itu.

"Tidak ada informasi tersebut mbak," kata Jubir KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi, Selasa (7/9).

Hal senada juga diungkapkan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Pol Agro Yuwono. Dia menyatakan, bahwa belum ada informasi terkait keberadaan dan penangkapan Harun Masiku. "Sampai sekarang belum ada informasi," kata Argo.

Sebelumnya penyidik KPK nonaktif Ronald Sinyal mengaku, mendapatkan informasi posisi Harun Masiku tengah berada di Indonesia hingga Agustus lalu.  "Info yang saya punya Agustus kemarin masih di Indonesia," katanya.

Meski demikian, dia tidak bisa melanjutkan pencarian karena saat ini berstatus nonaktif. Hal tersebut menyusul Surat Keputusan (SK) Pimpinan KPK Nomor 652 tahun 2021 perihal tindak lanjut bagi pegawai yang dinyatakan tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).

Harun Masiku sendiri telah masuk ke dalam daftar buronan KPK sejak 17 Januari 2020 lalu. Namun hingga saat ini, KPK maupun aparat penegak hukum lain belum dapat menemukan keberadaannya.

Harun merupakan tersangka kasus suap paruh antar waktu (PAW) Anggota DPR RI periode 2019-2024. Status itu dia sandang bersamaan dengan tiga tersangka lain yakni mantan komisioner KPU Wahyu Setiawan, mantan anggota bawaslu Agustiani Tio Fridelia dan pihak swasta Saeful.

Wahyu disebut-sebut telah menerima suap Rp 900 juta guna meloloskan caleg PDIP Harun Masiku sebagai anggota dewan menggantikan caleg terpilih atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia pada Maret 2019 lalu.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati