Netral English Netral Mandarin
20:25 wib
Kasus terkonfirmasi positif COVID-19 yang dilaporkan melalui Satuan Tugas Penanganan COVID-19 per Minggu (17/1) pukul 12.00 WIB bertambah 11.287. Ganda putri Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu meraih gelar juara turnamen Yonex Thailand Open 2021 setelah menyingkirkan pasangan tuan rumah.
Tragedi Pesawat Delegasi China Jatuh di Perairan Natuna

Rabu, 13-January-2021 19:10

Pengangkatan pesawat Kashmir Princess.
Foto : fly.historicwings.com.
Pengangkatan pesawat Kashmir Princess.
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 pada Sabtu (9/1) siang masih menyisakan kengerian publik. Membayangkan peristiwa tragis itu rasanya sulit diterima dengan hati dingin.

Penggambaran pesawat jatuh yang mengguncang kemanusiaan tergambar dalam kesaksian Hendrik Mulyadi, seorang nelayan pencari rajungan di perairan Pulau Lancang-Pulau Laki, Kepulauan Seribu. Ia sempat menceritakan detik-detik jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 ke laut pada wartawan.

Saat kejadian nahas tersebut, dirinya berada di dekat lokasi yang diduga kuat menjadi lokasi jatuhnya pesawat itu bersama dua rekannya yang merupakan anak buah kapal (ABK) di kapal pencari rajungannya.



"Saat itu hujan cukup besar, dan kami bertiga di tengah laut sedang konsentrasi mengambil bubu (alat penangkap rajungan)," kisahnya, dikutip dari Antara, Senin (11/1/2021).

"Tiba-tiba ada seperti kilat ke arah air disusul dentuman keras, puing berterbangan sama air (ombak) tinggi sekali. Untung kapal saya enggak apa-apa," lanjut pria 30 tahun itu.

Setelah rangkaian kejadian yang berlangsung di bawah dua menit tersebut, Hendrik mengaku dirinya dan dua rekannya tidak bisa melakukan apa-apa selain bertanya-tanya apa yang terjadi. Ia sempat mengira itu adalah bom yang jatuh dan meledak.

Namun, Hendrik mengaku sesaat sebelum kejadian tidak mendengar suara mesin pesawat sebelum dentuman keras, serta tidak terlihat kobaran api membubung sesaat setelah insiden itu.

"Suara mesin enggak ada. Terus saat kejadian enggak kelihatan ada api, hanya asap putih, puing-puing yang berterbangan, air yang berombak besar, dan ada aroma seperti bahan bakar," katanya.

Meski tidak mengalami cedera dan kapalnya tidak mengalami kerusakan, Hendrik mengaku masih terguncang, hingga tidak enak makan dan tidur sampai tak sanggup bekerja mencari rajungan seperti sedia kala.

Sementara itu, warga di daratan Pulau Lancang mengaku mendengar suara gelegar bagaikan petir besar terdengar di tengah hujan lebat yang menggetarkan kaca-kaca di jendela rumah, sekitar pukul 14.40 WIB.

Sebuah Tragedi

Pesawat jatuh selalu menjadi catatan kelabu dalam sejarah tragedi manusia. Peristiwa kelam serupa juga pernah terjadi berulangkali, salah satunya peristiwa jatuhnya pesawat carteran milik Air India berjenis Lockheed L-7492A yang jatuh di perairan dangkal dekat kepulauan Natuna Laut Cina Selatan, pada 11 April 1955.

Seperti diulas Budi Setiyono dalam Historia.id, pesawat yang tinggal landas dari Bandara Kai Tak, Hongkong itu sejatinya akan menuju Bandung dalam rangka Konferensi Asia Afrika (KAA). Enam belas penumpangnya dilaporkan tewas, sedangkan tiga orang lainnya mengalami luka berat.

Kashmir Princess, pesawat carteran milik Air India itu sebelumnya sempat mengisi bahan bakar dan menjalani pemeriksaan rutin usai menempuh perjalanan dari Bombay, India.

Pesawat tersebut membawa delegasi Tiongkok atau China, juga wartawan dari berbagai negara, yang akan menghadiri Konferensi Asia-Afrika di Bandung.

Rencananya, pesawat itu pula yang akan mengangkut Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Tiongkok Zhou Enlai. Penumpang yang selamat mengisahkan sekira lima jam perjalanan, pada jam tujuh malam, kru mendengar ledakan.

Api berhembus ke arah lubang tangki bahan bakar nomor tiga. Dengan cepat pilot mematikan mesin nomor tiga, menyisakan tiga mesin yang menggerakkan pesawat.

Dalam waktu sepuluh menit, situasi memburuk. Penumpang ngeri melihat api mulai melahap sayap pesawat dan membayangkan kematian di depan mata. Asap juga memasuki kabin dan kokpit.

Kru sempat mengirimkan sinyal bahaya; memberi tahu posisi mereka di atas Kepulauan Natuna, sebelum radio terputus. Tak ada pilihan bagi pilot kecuali mencoba mendaratkan pesawat di laut. Para kru mengeluarkan jaket pelampung dan membuka pintu darurat.

Pesawat menghujam ke laut. Sayap kanan menghantam air terlebih dahulu, merobek pesawat menjadi tiga bagian.

Enambelas orang tewas. Tiga orang selamat: Anant Shridhar Karnik, teknisi perawatan pesawar Air India International Cooperation; kapten perwira pertama Dixit; dan navigator penerbangan J.C. Pathak.

“Kami jatuh ke dalam air. Ketika saya menyembul ke permukaan, ada api besar di laut. Mr Dixit mengalami patah tulang di bagian leher sementara tangan saya patah. Arus sangat kuat. Kami, entah bagaimana, berenang selama sembilan jam di perairan gelap hingga akhirnya mencapai pantai... Kami akhirnya diselamatkan penduduk setempat, memakai kapal ke Singapura, kemudian dibawa ke Mumbai oleh kapal Angkatan Laut Inggris atas perintah Pandit Nehru,” kenang Karnik seperti dimuat Asian Age, 9 April 2005. Karnik menerbitkan buku tentang insiden ini berjudul Kashmir Princess.

Sehari setelah insiden itu, Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengeluarkan pernyataan yang menuding keterlibatan dinas rahasia Amerika Serikat (CIA) dan Chiang Kai-shek.

Mereka, sebagaimana dikutip dari Steve Tsang, The Cold War’s Odd Couple, “berencana menyabot pesawat carteran Air India, menjalankan rencana mereka untuk membunuh delegasi kami ke Konferensi Bandung yang dipimpin oleh Perdana Menteri Zhou Enlai, dan untuk menggagalkan Konferensi Bandung.”

Chiang Kai-shek adalah pemimpin Koumintang –juga dikenal dengan nama KMT atau Partai Nasionalis Tiongkok– yang berhadapan dengan kubu komunis pimpinan Mao Zedong dalam perang saudara.

Mao memenangi perang dan memproklamasikan Republik Rakyat China (RRC) pada 1949 sementara Chiang Kai-shek melarikan diri ke Pulau Formosa atau Taiwan.

Pemerintah Indonesia, juga peserta konferensi, terhenyak mendengar kabar kecelakaan itu.

Mereka tak ingin konferensi terganggu karena sudah merancangnya jauh-jauh hari; dari usulan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo pada 1953, Konferensi Kolombo di Sri Lanka pada April 1954, hingga pematangannya dalam Konferensi Bogor pada Desember 1954.

Mereka akhirnya bisa bernafas lega ketika tahu Zhou Enlai tak berada dalam pesawat naas itu.

Untuk menyelidiki penyebab kecelakaan, pemerintah Indonesia membentuk komisi penyelidikan. Komisi mewawancarai sejumlah saksi mata, mengunjungi lokasi kejadian, melakukan pencarian fakta di Singapura, Jakarta hingga Hong Kong, serta menelisik reruntuhan pesawat.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto