Netral English Netral Mandarin
22:36wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
Meski Banyak Cacat Fakta, TvOne Tayangkan Film 'Penumpasan G30S PKI', Tofa: Keren, TV Burung Rajawali Berani?

Jumat, 24-September-2021 07:22

Mustofa Nahrawardaya (kanan)
Foto : Kolase Netralnews
Mustofa Nahrawardaya (kanan)
13

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Meski memiliki banyak cacat fakta di sejumlah bagian, Film “Penumpasan G30S PKI” kembali diputar untuk memperingati terjadinya tragedi tersebut. 

Salah satu stasiun TV yang akan menayangkan adalah TvOne. Dalam pernyataannya di akun Twitternya tertulis:  

"tvOneNews @tvOneNews Peristiwa Gerakan 30 September PKI menyisakan luka dalam sejarah kepahlawanan Indonesia. Saksikan persembahan film spesial tvOne "Penumpasan G30S PKI" Kamis, 30 September 2021, jam 21.00 WIB. #G30SPKI."

Politikus Partai Ummat Mustofa Nahrawardaya mendukung dan mengapresiasi program tersebut.

“Wow.... @tvOneNews memang keren banget. Apakah TV Burung Rajawali berani menayangkan film ini?” cuit Mustofa, Jumat 24 September 2021.

Untuk diketahui, Pakar sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Sri Margana menilai film G30S/PKI cacat fakta.  

Salah satunya terkait dengan adegan penyiksaan para jenderal sebelum dimasukkan ke Lubang Buaya. Hal itu dianggap tidak benar dan hanya rekayasa yang dibuat oleh sutradara Arifin C Noer agar lebih dramatis. 

"Film ini terbukti cacat fakta yang sudah diakui oleh sutradaranya sendiri. Misalnya soal penyiksaan para jenderal sebelum dimasukkan di Lubang Buaya itu terbukti dari arsip-arsip visum tidak ada, hanya dramatisasi," ungkapnya dalam keterangan tertulis Humas UGM, seperti dinukil Kompas.com, Rabu (30/9/2020) silam. 

Menurut Sri, menjadikan peristiwa kelam yang terjadi pada 1965 sebagai pelajaran sejarah dianggap baik. Dengan begitu, masyarakat bisa menjadikannya sebagai referensi agar tragedi tersebut tidak kembali terulang. 

Hanya saja, ia meminta agar jangan sampai propaganda yang dilakukan saat ini justru dapat mewariskan dendam masa lalu pada generasi selanjutnya. Pasalnya, konflik saat itu sebenarnya terjadi akibat dari adanya gesekan antarkelompok politik. 

"Yang mengerikan itu hendak diwariskan pada semuanya yang tidak berkaitan dengan masalah itu. Jadi jangan wariskan dendam," ujarnya. 

Meski film tersebut tidak obyektif, Sri menilai masyarakat saat ini sudah cerdas dan bisa menyaring mana yang benar dan salah. Terlebih lagi, sudah banyak fakta baru terkait peristiwa yang terjadi pada 30 September 1965 tersebut. 

"Masyarakat saat ini sudah cerdas. Sudah banyak beredar fakta-fakta baru terkait peristiwa G30S/PKI sehingga orang bisa membuat penilaian mana yang benar dan tidak di film itu," ujarnya. 

Sementara itu, terkait dengan sikap pemerintah yang tidak melarang atau mewajibkan masyarakat menonton film itu, kata Sri, juga dinilai sudah tepat. Sebab, film tersebut dianggap masih kontroversi dan tidak menggambarkan realitas secara utuh pada masa itu. 

"Kalau sampai diwajibkan ataupun dilarang nonton itu tidak benar," ujarnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli