Netral English Netral Mandarin
banner paskah
11:55wib
Pemerintah kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Kebijakan ini diperpanjang selama 14 hari, terhitung sejak 20 April. Komite Eksekutif UEFA meresmikan format baru untuk kompetisi Liga Champions yang akan mulai digunakan pada musim 2024/2025.
Kerumunan Tak Ditindak karena JKW adalah Tokoh, TZ: Jangan Lupa Habib Rizieq Juga Tokoh Agama

Kamis, 25-Februari-2021 09:21

Tengku Zulkarnain
Foto : Istimewa
Tengku Zulkarnain
27

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Polemik kerumunan saat Presiden Jokowi berkunjung ke Maumere, NTT masih menjadi pergunjingan publik. Setelah dr Tirta, kini Tengku Zul kembali mencuit pernyataan protes membandingkannnya dengan Rizieq Shihab. 

Ia mengutip pernyataan Dr Tirta yang menyebutkan: "Jokowi tdk pernah ngajak rakyat dan beliau tokoh negara" dalam artikel berjudul "Jokowi Dikritik Setelah Picu Kerumunan di Maumere, dr. Tirta: Beliau kan Tidak Pernah Mengajak".

Kamis, 25/2/21), Tengku Zul pun membalas: "Jgn lupa Habib Rizieq juga tdk mengajak rakyat beliau tokoh Agama,"  ketus Tengku Zul.

Sebelumnya diberitakan, Kunjungan kerja Presiden Joko Widodo di Porvinsi Nusa Tenggara Timur menuai polemik.

Beredarnya video kerumunan yang muncul saat Jokowi melintas menjadi salah satu hal yang banyak dikritik oleh beberapa elemen masyarakat. Pasalnya, di masa pandemi saat ini berkerumun dan mobilitas yang tinggi justru menjadi pemicu penyebaran covid-19. 

Relawan kesehatan, Tirta Mandira Hudhi ikut buka suara mengenai kerumunan tersebut. Menurutnya, dalam kasus yang dialami Jokowi tersebut, presiden tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Sebab, kerumunan terjadi bukan atas undangan atau kehendak dari orang nomor satu di Indonesia tersebut. 

"Pak @jokowi tidak sama sekali mengajak berkumpul, apalagi bikin promo, bikin undangan, bikin tiket, apalah. Semua pure antusias yang rame-rame dateng menyambut presiden, ini tugas protokoler mengatur keramaian. Dan emang kalah jumlah," tuls dr Tirta. 

Dalam unggahannya di Instagram, pria kelahiran Surakarta tersebut mengakui jika Jokowi adalah simbol negara. Dimana setiap langkah dan dimanapun kepergiannya akan selalu menjadi sorotan masyarakat. Kerumunan yang terjadi di NTT seharusnya menjadi tugas protokoler untuk mencegah dan terbukti pihak protokoler ternyata kalah jumlah. 

Terlalu banyaknya kerumunan yang hadir diduga menjadi penyebab Jokowi tidak bisa membubarkan kerumunan tersebut. Namun, dr Tirta juga menyampaikan jika sebelumnya Jokowi sudah memberikan edukasi agar tetap memberikan masker. Dalam salah satu video, nampak juga sedan milik presiden yang ramai dikerumuni massa. 

Banyaknya warga yang berkerumun di sekitar mobil menjadi penghambat, tidak mungkin kendaraan tersebut dipaksakan melaju. Satu-satunya cara untuk melerai kerumunan adalah dengan muncul jokowi dari atap kendaraan. Kemudian menyapa dan meminta warga untuk memberikan jarak sesuai dengan protokol kesehatan. 

"Ini menjadi refleksi agar tim protokoler lebih berhati-hati mengatur agenda dan alur massa di lapangan ketika kegiatan pak @jokowi," tulis dr Tirta. 

Kejadian tersebut juga sudah diklarifikasi oleh Biro Pers dari istana, bagi dirinya pribadi hal tersebut sudah jelas. Ia berharap, kedepannya pihak istana bisa lebih selektif dan protektif terhadap agenda presiden. Sebab, antusiasme masyarakat untuk bertemu mantan walikota Solo tersebut cukup tinggi.

Dalam videonya, dr Tirta juga menyampaikan jika penegakan sanksi kerumunan sudah tidak di relevan untuk ditegakkan. ia berpesan kepada masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan. Sementara, dalam unggahan yang berbeda, dr Tirta menyampaikan bahwa kejadian tersebut menjadi bukti jika edukasi covi-19 hanya berfokus di kota besar Pulau Jawa. 

Sejak diunggah Rabu (24/2/2021), video dr Tirta yang mengomentari kerumunan Jokowi di NTT tersebut sudah ditayangkan lebih dari 200 ribu kali. Ada 3000 lebih komentar yang ditinggalkan warganet. Dalam menanggapi hal tersebut, warganet terpecah antara yang pro dan kontra dengan pendapat dr Tirta. 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto