Netral English Netral Mandarin
18:59wib
Pemerintah Kota (Pemkot) Depok melarang kegiatan buka puasa bersama saat ramadan seiring dengan pandemi Covid-19. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan melarang total operasi semua moda transportasi darat, laut, udara, kereta pada 6 Mei-17 Meri 2021.
Ulil Ungkap Bahkan dalam Kajian Islam, Umat Islam Tak Bisa Berdaulat, Harus 'Diajari' Para Sarjana Bule tentang...

Minggu, 28-Februari-2021 08:10

Kolase Ulil Abshar Abdalla
Foto : Istimewa
Kolase Ulil Abshar Abdalla
13

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Berturut-turut, Ulil Abshar Abdalla mengungkap kajian-kajian orang Barat (bule) tentang Islam. Ia juga menyampaikan kegalauan hatinya. 

"Baru2 ini, saya membaca artikel David Shivanoff, seorang sarjana ahli ushul fiqh (Islamic hermeneutic) ttg kitab kecil yg banyak diajarkan di pesantren: Matn al-Waraqat, karya guru Imam Ghazali, yaitu Imam al-Haramain. Kitab tipis ini adalah ttg ushul fiqh," kata Ulil melalui akun pribadinya seperti dikutip Netralnews, Sabtu malam (27/2/21).

"Pada titik tertentu, saya merasa: bahkan untuk memahami diri sendiri, kadang kita, orang Muslim, butuh tulisan sarjana2 Barat ttg dunia Islam. Saya langsung ingat esai lama Gayatri Spivak yg membuat "terbelalak" banyak orang: "Can the Subaltern Speak?" APAKAH KESARJANAAN BARAT TTG ISLAM PATUT DISAMBUT DG GEMBIRA?" lanjut Ulil. 

"Hampir setiap bulan terbit buku baru ttg tema Islam oleh sarjana Barat, dG kualitas yg umumnya keren dan kerap 'thought provoking'. Ttp saya tak bisa menyembunyikan perasaan ambigu dan 'galau' menghadapi hal ini," sambungnya.

"Tentu saja, saya menikmati artikel Shivanoff itu (ia lulusan Emory University, Atlanta, tempat mengajar Abdullagi Ahmed An-Naim). Tetapi saya jg bertanya2: kenapa sarjana Muslim tidak menulis artikel keren seperti ini ttg kitab Waraqat? Apalah sarjana Barat lebih paham Waraqat?" ungkap Ulil.

Ulil pun akhirnya merasakan bahwa ternyata umat muslim pun tampaknya harus "diajari" sarjana bule untuk bisa membaca masa lalu mereka.

"Saya tak bisa mengelak dari perasaan ini: Bahkan dlm kajian Islam pun, umat Islam tak bisa "berdaulat". Mereka tampaknya harus "diajari" dulu oleh para sarjana bule ttg bagaimana membaca masa lalu mereka sendiri," kata Ulil.

Sampai di sini, Ulil langsung merasa sedih.  

"Saya, jika sudah sampai di sini, langsung sedih dan mellow. (emoticon menangis)," kata Ulil.

Di akhir cuitannya, Ulil mengulas Buku Thomas Bauer, Kultur der Ambiguität (2011).

"Buku Thomas Bauer, Kultur der Ambiguität (2011) ini sudah lama jadi bahan pembicaraan. Bulan Juni besok terbit edisi terjemahannya. Tema pokoknya: pemikiran Islam di abad2 pertama dulu lebih bisa menerima ambiguitas. Makin modern, makin terobsesi pada kepastian dan kejelasan," kata Ulil.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto